Islam Nusantara Cara Dakwah Bijak Walisongo

Rabu, 27 April 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – PBNU melalui Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) KH Agus Sunyoto menerima kunjungan sekitar 60 warga NU dari Sulawesi Utara dan Kalimantan Utara di Masjid An-Nahdlah, Gedung PBNU, Jakarta, Senin (25/4) malam.

Dalam sesi dialog, peserta ziarah Wali Songo tersebut melontarkan sejumlah pertanyaan, di antaranya tentang tema Islam Nusantara yang dianggap banyak pihak terlalu Jawa sentris.

Menanggapi hal tersebut Agus mengatakan, sebagian besar para Wali Songo justru tidak berasal dari Jawa. Ia mengakui bahwa fokus dakwah para wali saat itu memang di Jawa dan menjadi fenomena penyebaran yang massif, tapi bukanlah berarti Islam Nusantara menjadi bersifat Jawa sentris. (Baca juga:Lima Karakter Gemilang Dakwah Walisongo)

“Harusnya ditangkap spiritnya bahwa penyebaran di Jawa berlangsung dengan pendekatan yang baik dan memiliki nilai kesejarahan yang penting. Padahal penduduk Jawa dengan watak dan struktur sosialnya saat itu dikenal sangat keras menolak Islam. Butuh 800 tahun Islam baru dapat menyebar dengan massif di Jawa,” lanjutnya.

Di forum-forum lain, penulis Atlas Wali Songo ini kerap menyampaikan, jika berpijak pada catatan utusan Dinasti Tang, di Kerajaan Kalingga 674 M sudah ada saudagar dari Timur Tengah yang datang ke Jawa. Setelah itu, tidak pernah ada satu sumber pun yang menyatakan bahwa Islam diterima pribumi secara massal, kecuali setelah era Wali Songo lantaran canggihnya pendekatan budaya yang mereka lakukan.

Agus juga mengatakan, sejarah Islam di Nusantara dan budaya lokal tak bisa dipisahkan. Islam bisa dengan mudah tersebar justru dengan pendekatan budaya yang dengan sangat cerdas dan bijak diterapkan dalam dakwah Wali Songo. (Baca juga: Dakwah Islam Nusantara Walisongo Jaga Harmonisasi Cinta Tanah Air & Bangsa)

Budaya yang dimaksud, kata Agus, misalnya tradisi selamatan. Budaya ini menempel hingga kini di tengah masyarakat dan menjadi tradisi tak terpisahkan sebagai salah satu manifestasi tauhid yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Pertanyaan lainnya terlontar dari seorang jamaah tentang bagaimana mempertemukan akal, hati dan tindakan. Sebagaimana Kiai Agus Sunyoto melontarkan kritik pedasnya terhadap model pendidikan modern yang menjauhkan sekolah dari Tuhan, bahkan pada pelajaran-pelajaran agama sekalipun, Abdullah Wong, salah satu pengurus Lesbumi memaparkan secara runut bagaimana pengetahuan dan peradaban yang disebut modern saat ini terpelanting dan makin menjauh dari poros utamanya yakni sifat wujud Tuhan. (Baca juga: Dakwah Walisongo Ajak Masyarakat Masuk Islam Secara Sukarela Bukan Paksaan)

“Meski secara materiil kita mengalami kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, tapi secara substansi sejatinya peradaban modern telah menjauh dan menjauhkan kita dari hakikat Wujud Allah sebagai awal dan akhir segala hal. Pun pengetahuan menjadi sangat kering akan nilai-nilai spiritualnya untuk menemu hakikat keberadaan. Sekolah dengan pengetahuan-pengetahuan positivistik telah menyeret kita menjadi sangat dunia dalam memandang segala sesuatu,” papar Wong.

Para peserta yang merupakan jamaah Al-Hikam Cinta Indonesia asal Kalimantan Utara beserta sejumlah pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Sulawesi Utara itu berkunjung ke PBNU selepas meziarahi makam para wali yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Rombongan juga melakukan ziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Hasyim Asy’ari di Jombang, Jawa Timur. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: