Islam Nusantara Konsep Cerdas NU Perangi Gerakan Radikal

24 Maret 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Kelompok ISIS begitu canggih dalam menyebarkan video. Mereka bergerak tidak seperti yang dilakukan jaringan televisi, tetapi seperti tawon. Demikian dikatakan Dr Ali Fisher di Gedung PBNU, Rabu (23/3).

Lebih lanjut, peneliti di The International Centre for the Study of Radicalisation and Political Violence memaparkan ada ribuan anggota ISIS yang menyebarkan video-video propaganda agar publik dan jaringan mereka semakin tertarik dan masuk ke dalam kelompok ISIS.

ISNU NetworkKelompok ISIS menganggap orang yang berjuang melalui media internet, sama pentingnya dengan tentara di medan perang. Dan mereka menyebut hal itu sebagai jihad.

Terkait perjuangan ISIS di internet ada tiga aktivitas yang mereka lakukan yaitu cepat, fleksibel, dan bisa langsung mengatasi hambatan. Video-video yang berisi ajaran ISIS, diupload dari beberapa tempat terutama di Irak. Dalam waktu cepat, video-video itu bisa diunduh oleh pengikut mereka, tersimpan di hardisk-hardisk, dan mereka teruskan penyebarannya kepada anggota ISIS yang lain melalui akun-akun media sosial yang hanya bisa diakses oleh anggota.

Mereka biasanya hanya membagikan konten-konten itu selama lima belas menit karena Badan Inteljen termasuk di negara-negara Barat yang mengetahui video-video tersebut kemudian menghapusnya. Tetapi, mereka sudah sangat terbiasa dengan hal itu.  Mereka lalu tidak fokus di link itu lagi.

Kelompok ISIS tidak hanya membagikan video melalui satu platform. Mereka menggunakan banyak platform, dan saat satu platform tidak bisa diakses lagi, mereka bisa mentargetkan platform lain. Twitter merupakan platform yang sering dipakai sebagai menara untuk memberi tahu di platform mana konten bisa diakses.

Oleh karena itu, pengajar di Universitas Wina, Austria itu menekankan, agar kita memahami strategi mereka bila ingin melakukan tindakan pencegahan. Berdasrakan penelitian Fisher, kelompok ISIS harus dihadapi secara efektif dan tidak hanya tenggelam dalam pemikiran-pemikiran.

Mengatasi propaganda ISIS hanya dengan memikirkan taktik, tentu kita akan kalah. Propaganda  ISIS harus dihadapi dengan langkah strategis, yaitu penguasaan teknologi dan penyebaran informasi tentang ajaran Islam yang sebenarnya, seperti dikutip dari NU Online (24/03).

Gerakan ISIS tentu merugikan Islam. Sejumlah ormas Islam di Indonesia pun gerah dengan ulah ISIS itu. PP Muhammadiyah juga telah mengeluarkan pernyataan resmi yang menolak ISIS karena bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai ajaran lslam. Cara-cara kekerasan yang digunakan lSIS untuk mencapai tujuan sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan perdamaian, kesantunan, dan keadaban. Cara-cara itu juga dapat membawa kemunduran bagi masa depan peradaban.

Istilah Islam Nusantara yang dikembangkan Nahdlatul Ulama saat ini juga menunjukkan bahwa Islam yang dikembangkan para ulama di Indonesia selalu bisa berdampingan dengan siapa pun secara damai. Bahkan, saat ini banyak ulama dari Timur Tengah yang datang ke Indonesia untuk belajar mengenai konsep Islam Nusantara.

Kita tentu tetap waspada dengan berkembangnya radikalisme di Indonesia. Juga waspada dengan masuknya ISIS di negara ini. Masyarakat, ulama, santri, pemerintah, polisi, dan TNI harus bersama-sama membuat benteng untuk menjaga ukhuwah.

Kalau kita perhatikan dengan benar, mesin program revolusi mental sudah mulai bekerja, meski tidak dikoar-koarkan.

Salah satu cabang dari revolusi mental adalah konsep “Islam Nusantara”. Konsep Islam Nusantara ini diluncurkan supaya kita bisa memilah mana islam toleran dan mana islam radikal. Kemudian disusul program Hari Santri Nasional untuk merapatkan barisan para santri.

Kenapa agama Islam lebih diutamakan? Karena mayoritas penduduk negeri kita beragama Islam. Ketika mayoritas ini menjadi radikal, maka negara-pun terancam. Usaha-usaha untuk me-radikalisasi Islam di Indonesia ini jelas sekali terlihat dengan tumbuhnya media-media, organisasi-organisasi dan manusia-manusia yang bersumbu pendek dan cuti nalar. Mereka ini tidak sedikitpun memiliki nasionalisme untuk Indonesia, tetapi untuk Arab Saudi yang mereka klaim sebagai pemerintahan Khilafahnya. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: