Islam Sangat Menghargai Hak Asasi Manusia

Minggu, 05 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Aksi teror di kantor Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Bandung pada hari Senin , 27 Februari 2017, yang dilakukan oleh anggota kelompok Jamaah Anshor Daulah kembali mencederai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Jawa Barat.

kejadian tersebut kembali mengingatkan kita akan pentingnya rasa toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana yang dicontohnya para ulama yang selalu menggaungkan nilai-nilai toleransi.

Terorisme mencul dari pemahaman agama yang tertutup dan tekstual, teroris selalu merasa benar sebagai kelompok yang paling memahami ajaran Tuhan, mereka suka mengkafirkan orang lain (takfiri) atau menggagap orang lain sesat, padahal pemahaman seperti itu sangat kontras dengan Islam dan merusak citra Islam yang selalu mendambakan perdamaian.

Islam adalah agama kasih sayang. Islam hadir untuk membangun masyarakat yang damai, toleran dan adil. Islam tidak memperkenankan kekerasan sebagai metode penyelesaian masalah. Terorisme membuat Islam jauh dari watak aslinya sebagi agama rahmat.

Islam pada dasarnya melindungi hak hidup manusia dan menghargai manusia sebagai individu yang bermartabat. Dalam Al-Qur’an dinyatakan :

“ Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan seluruhnya.”(QS. Al-Maida :32)

Dalam Islam, semua manusia sama saja derajatnya di hadapan Allah. semua makhluk Tuhan. Mulia atau tidaknya manusia ditentukan oleh kualitas manusia itu sendiri sejauhmana memberikan manfaat kepada orang lain.  Dalam kaitan ini Allah berfirman :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat:13)

Ayat diatas secara tegas menjelaskan bahwa semua manusia merupakan makhluk Allah, manusia berasal dari Adam dan Hawa, dalam perkembangannya manusia menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Takwa merupakan tolak ukur kualitas manusia. Takwa pada hakikatnya tidak mempunyai keterkaitan secara langsung dengan agama formal. Siapapun orangnya, apapun agamanya, suku, warna kulit dan jenis kelaminnya, berhak menyandang predikat sebagai orang yang bertakwa, selama ia mempunya komitmen yang tulus untuk mencari dan menyampaikan keberanaran dan selalu berbuat yang terbaik dan berbuat baik pada semua manusia (ahsanu ‘amala).

Karena semua manusia adalah sama, maka agama merupakan proses pencarian kebenaran dan sekaligus proses perlombaan untuk mencapai kebaikan bersama.

Dalam hadits dikatakan :

“Orang muslim adalah orang yang tidak mengganggu orang muslim lain baik dengan lidah maupun tangannya, dan orang yang hijrah itu adalah orang yang hijrah meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah”. ( Shahih Al Bukhari)

Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa orang Islam yang benar dapat dilihat pada keadaan orang lain disekitarnya apakah merasa terganggu atau tidak, baik oleh ucapan atau pun perbuatan. Demikan pula halnya orang mukmin yang benar ialah yang dapat memberikan keamanan orang di sekitarnya.

Orang Islam adalah orang yang cinta damai, mencari kawan bukan lawan, mengajak bukan memaksa, apalagi membunuh. Perbedaan suku, bangsa, agama, budaya tidak menjadi penghalang untuk bergaul, berinteraksi dan saling memberi manfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam memecahkan problema kemanusiaan yang makin mencemaskan dewasa ini diperlukan organisasi lintas agama, suku, bangsa dan budaya, untuk menumbuhkembangkan dan merumuskan konsep cinta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk memulai yang demikian diperlukan dialog-dialog antar penganut berbagai agama. Dari dialog tersebut kemudian menuju kerjasama. Kedua,  diperlukan perangkat hukum dan juga undang-undang yang tegas terhadap terhadap terorisme yang bisa menghukum lebih keras sehingga memiliki efek jera. Ketiga, keterlibatan dan kesadaran msyarakat yang tinggi yang harus aktif dan mencurigai setiap pendatang yang tertutup. Keempat, Masyarakat dan juga pemerintah segera menutup embrio-embrio intoleran di lingkungan masyarakat agar tidak membesar dan memberi angina pada gerakan intoleran.

Dengan demikian, Akan tercipta harmonisasi antar pemeluk agama yang terbiasa dengan perbedaan yang ada. Teroris tak lagi punya ruang gerak leluasa. Mereka akan kesulitan bersembunyi karena ketatnya pengawasan masyarakat. Mereka akan berpikir karena hukum akan menjatuhkan hukuman yang keras bagi pelaku yang tidak menghargai kemanusiaan.

Wallahu’Alam Bis-Showab.

(ISNU)

*Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Juntinyuat Indramayu

Sumber: Perisainusantara

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: