Islam Toleran vs Islam Radikal di Nusantara

Minggu, 01 Oktober 2017
ISLAMNUSANTARA.COM – Sejak awal kemunculannya di Nusantara, Islam memang memiliki dua wajah. Pertama wajah yang toleran, yang fleksibel, yang damai dan akomodatif. Kedua wajah yang radikal, keras dan tidak kenal kompromi. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri.

Jika ada yang menyatakan penyebaran Islam di Jawa melulu dengan cara damai, itu jelas pernyataan timpang. Karena pada pertengahan abad 16, pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, penyebaran Islam di Jawa diwarnai dengan agresi militer yang tentu saja berdarah-darah. Pun jika ada yang menyatakan penyebaran Islam di Jawa melulu dengan jalan peperangan, itu juga jelas pernyataan timpang.

Sunan Ngampeldenta, Sunan Tandhes, Sunan Benang dan banyak wali lain menyebarkan Islam dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan. Merangkul bangsa Jawa yang berbeda agama, mengakomodir kepercayaan lama dan sangat fleksibel dalam memperkenalkan ajaran Islam sehingga lantas pengajaran para wali ini dikenali sampai sekarang sebagai ajaran Kejawen, yaitu ajaran Tasawwuf Islam yang diJawakan.

Dua fakta ini, yaitu kubu Islam yang toleran dan kubu Islam yang radikal memang sudah ada semenjak mula kehadiran Islam di Jawa. Teruntuk kubu radikal, sudah bukan rahasia lagi bahwa keberadaan mereka bisa menjadi lahan basah bagi mereka-mereka yang memiliki kepentingan politik.

Kubu radikal adalah kubu yang rawan ditunggangi untuk kepentingan pendamba kekuasaan. Kubu radikal ini ibarat api, dan yang hendak memanfaatkan keberadaan mereka hanya cukup menyiramkan bahan bakar semata demi untuk memperbesar nyalanya. Memperbesar nyala yang memang telah ada semenjak mula, mengobarkannya dengan mudah tanpa banyak menemui kesulitan. Hal yang sama akan susah dilakukan untuk kubu Islam toleran. Kubu Islam toleran bisa diibaratkan sebagai air dingin. Berapapun bahan bakar hendak disiramkan atau disuguhkan, api tidak bakalan bisa kobar dengan sedemikian mudah.

Pengetahuan ini pastinya sudah dipahami oleh pemerintah dan sudah semestinya pemerintah mulai mengambil langkah tegas serta nyata untuk membatasi keberadaan dan kegiatan kubu radikal sebelum seluruh sendi-sendi negara dan bangsa kembali tercerabut sebagaimana masa Majapahit dan Pajajaran dulu.

Demo berjilid-jilid yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan tengara, alarm, warning bagi pemerintah yang mengaku sebagai penjaga Pancasila dan NKRI. Segera ambil langkah konkrit. Jangan sampai ada suguhan tarian reog Ponorogo kedua bagi kepala negara. Islam toleran pasti akan mendukung langkah-langkah pemerintah yang dipandang baik bagi kemaslahatan bangsa dan negara. (ISNU)

Ditulis oleh Dhamar Shashangka, Penulis terjemah kitab Dharmagandul
Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: