Jangan Salah Kaprah!! Inilah Makna Kiai Menurut Gus Mus

Rabu, 15 Februari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Mantan Rais Syuriyah PBNU (1994-1999), KH Ahmad Mustofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus, mengatakan, kiai itu bukan lah terjemahan dari lafadz ulama. Menurutnya, kata kiai adalah produk budaya Jawa.

“(Lafadz) Kiai meniko mboten (bukan) terjemahan lafadz ulama, kiai meniko (itu) istilah budaya, budaya mawon (nya pun) budaya Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur),”  jelas Gus Mus dikutip dari ceramah di Pondok Pesantren Al Asnawi Magelang.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang tersebut mengatakan, kalau seandainya ada panggilan kiai di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka bisa dipastikan bahwa mereka meniru masyarakat Jawa. “Jawa Barat mawon mboten wonten (aja tidak ada), (kiai) Jawa Barat niku (itu namanya) ajengan,” tegasnya.

Salah satu ciri kiai, imbuh Gus Mus, adalah orang yang memiliki ilmu, mewakafkan dirinya untuk umat Islam, mengajar dan mendidik anak-anak tanpa dibayar.

“Ono seng bodho dikei ngelmu, nganakno pengajian, anake wong diulang dididik. (ada orang yang bodoh kemudian ia kasih ilmu, mengadakan pengajian, anaknya orang diajar dan didik),” kata Gus Mus.

“Kiai-kiai iku mboten, kiai mbiyen. Embuh nek kiai sak iki. (Kiai-kiai itu tidak dibayar, itu kiai dulu. Entah kalau kiai yang sekarang),” sindir Alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut.

Menurut Gus Mus, ulama bukanlah padanan kata daripada kiai. Ulama adalah orang yang memiliki ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu lainnya. Sementara kiai adalah orang yang memiliki ilmu, khususnya agama, mau mengurusi umat tanpa imbalan darinya, dan memperlakukan umat dengan kasih sayang.

“Karena tidak menemukan, ya dicarikan padanan kata paling dekat, yakni ulama atau wong alim (orang pintar). Ulama merupakan bentuk jamak (gabungan kata) alim. Pintar dalam apa aja, bukan hanya soal agama,” ujarnya. (ISNU)

Sumber: Gusmus

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: