Jihadis Indonesia Ucapkan Terima Kasih kepada Amerika atas Serangannya ke Suriah

Kamis, 19 April 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Serangan sekutu AS ke Suriah tidak berdampak langsung pada Indonesia namun bagi kelompok pro jihadis di Indonesia, serangan Barat yang biasanya dianggap musuh, justru ‘sejalan’ dengan dengan tujuan mereka.

Hal itu dikatakan pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman, Sebagaimana dilansir BBC Indonesia, (14/04/2018).

Ketika Virus Pesimisme Disebar untuk Kecurigaan: “Ummat Dipojokkan”, Katanya

Ia menyatakan, serangan gabungan militer AS, Inggris dan Prancis ke lokasi-lokasi senjata kimia Suriah itu sangat disesalkan karena “tidak seizin Dewan Keamanan PBB”.

“Dalihnya juga bukan sesuatu yang sudah teruji, baik (Presiden AS Donald) Trump maupun (PM Inggris) Theresa May menyebut alasan penyerangan itu karena serangan kimia di Douma,” kata Dina.

“Tapi belum ada penyelidikan langsung dari PBB apakah betul militer Suriah yang melakukannya karena ada beberapa kejanggalan dari informasi yang beredar”, tambah Dina, yang pernah tinggal di Iran itu.

Dampak ke Indonesia

Biasanya, serangan barat terhadap negara berpenduduk Islam, memancing kemarahan dan kecaman di negara-negara seperti Indonesia, diikuti berbagai aksi demonstrasi. Namun kali ini situasinya lain, kata Dina. Ia menyebut, serangan ini justru disambut baik oleh pendukung kelompok-kelompok pro jihadis Suriah yang ada di Indonesia, baik yang mendukung ISIS maupun Al Qaida.

“Biasanya kelompok Islamis itu menyatakan anti Amerika namun sekarang mereka melihat kenyataannya justru Amerika yang melakukan serangan. Tapi mereka tentu tidak mungkin berterima kasih terang-terangan kepada Amerika,” papar Dina.

Selain itu, kontradiksi ini akan menjadi “perdebatan narasi terutama di sosial media menjadi pukulan buat mereka (kelompok pro Jihadis).”

“Kubu anti perang akan bilang ‘itu buktinya kalian kerjasama dong dengan Amerika karena Amerika yang melakukan serangan langsung ke Suriah’,” kata Dina.

Meksi begitu, pengamat Timur Tengah lain, Ibrahim Almuttaqi dari The Habibie Center mengatakan serangan Barat ke Suriah ini bagaimanapun akan mendapat “reaksi keras dari publik Indonesia.”

“Mereka akan menginterpretasikan itu sebagai serangan Barat atas komunitas Muslim. Saya kira akan ada tekanan ke pemerintah, ke Presiden Jokowi juga mungkin, untuk mengambil tindakan – apakah itu usaha diplomatis atau usaha lainnya,” kata Ibrahim kepada BBC Indonesia.

“Terkadang sangat mudah untuk publik Indonesia untuk tidak mengerti secara menyeluruh situasi yang ada. Mereka cenderung melihat suatu isu dengan hitam dan putih. Orang sering lupa bahwa Assad melakukan hal-hal yang buruk kepada warganya sendiri.”

“Tidak akan menjadi perang besar”

Serangan ini berperan sebagai peringatan atau hukuman ke pemerintah Suriah yang sudah berulang kali dituduh melakukan serangan dengan senjata kimia, namun menurut Dina Sulaeman, perang ini tidak berpotensi menjadi perang besar.

“Kalau saya lihat dari tanggapan Rusia, (saya) tidak memprediksi kalau terjadi perang besar-besaran karena Rusia masih cool. Kita lihat selama serangan sejak tadi malam tidak ada reaksi keras yang ditunjukkan okleh Rusia. Kemungkinan Rusia masih memilih untuk berada di balik layar,” ujar Dina.

“S-400 yang selama ini digembor-gemborkan juga belum kelihatan dipakai.”

“Rusia tentu berhitung juga kalau perang besar-besaran, bagaimana dengan logistik yang dia miliki.”

“Amerika pun kalau harus perang besar-besaran saya pikir terlalu banyak yang harus dikorbankan juga. Jadi mungkin ini akan jadi serangan terbatas saja.”

Bagaimanapun, baik untuk melihat reaksi Rusia untuk menentukan seberapa besar eskalasi serangan ini dapat berkembang, menurut Ibrahim Almuttaqi.

“Menarik untuk melihat reaksi Rusia. Jika Rusia melakukan serangan ke sekutu AS maka itu dapat meningkatkan eskalasi di sana,” kata Ibrahim. (ISNU)

Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: