Kebangkitan Akhlak dan Pesan Anti-Radikalisme dalam Momen Maulid Nabi

Senin, 27 November 2017
ISLAMNUSANTARA.COM – Peringatan maulid nabi Muhammad SAW selalu digelar setiap tanggal 12 Rabiul Awal, oleh masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, baik dalam bentuk ritual maupun festival sekaligus. 12 Rabiul Awal atau saat ini tepat jatuh pada tanggal 01 Desember 2017, merupakan hari lahir seorang nabi yang begitu dicintai dan dihormati para pengikutnya. Tak heran, beribu puisi, lagu, dan buku tentang biografi, kerinduan, dan kemuliaan Nabi Muhammad digubah oleh para budayawan dan cendekiawan. Tidak hanya itu, di kalangan kaum muslim kecintaan kepada Nabi Muhammad juga diekspresikan lewat perayaan hari kelahirannya.

Hampir di setiap negara berpenduduk mayoritas muslim, pada peringatan bulan Maulid ini, jejak-jejak Nabi dikenang, kitab-kitab yang memotret perjuangannya dibacakan penuh takdzim, seperti tergambarkan dalam senarai kitab maulid serupa Jawahir al-Nazm al-Badi’ Fi Maulid al-Syafi’ karya Syeikh Yusuf al-Nabhani, Kitab al-Yumnu wa al-Is’ad bi Maulid Khar al-‘Ibad karya Ibn Ja’far al-Kattani, Itmam al-Ni’mah ‘Ala al-‘Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam karya Ibn Hajar Al-Haitsami, dan al-Maurid al-Hana ditulis al-Hafiz al-Iraqi.

Sementara di Indonesia, di masjid-masjid dan pesantren-pesantren tradisional dan di daerah pelosok sekalipun, umat Islam juga turut khidmat membaca sirah nabawiyah serta melantunkan puisi-puisi memuji Nabi Muhammad. Mereka membaca al-Barzanji, karya seorang sastrawan Persia terkemuka abad ke-17, secara bergiliran satu persatu sembari berdiri. Begitu juga ketika seorang ayah di hari akikah membacakan al-Barzanji sebagai lambang kegembiraan kelahiran seorang anak yang diharapkan mewarisi keelokan akhlak Nabinya. “Engkau mentari/engkau purnama/engkau cahaya di atas cahaya/engkaulah iksar tidak terperi/engkaulah pelita di tiap dada/duhai kekasih, duhai Muhammad/duhai mempelai penebar rahmat/duhai muayyad, duhai mumajjad/duhai sang imam kedua kiblat.”

Kegembiraan itu menegaskan betapa pentingnya makna kelahiran dan kehadiran Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat Islam kala itu. Ini bisa dilihat jelas dari moralitas masyarakat sebelum kelahirannya dan setelah kematiannya. Masyarakat sebelum kelahiran Nabi Muhammad disebut masyarakat jahiliah. Secara bahasa, kata jahiliah diambil dari kata jahil yang berarti bodoh.

Hanya saja, MM Azami dalam Studies in the Early Hadith Literature menyebutkan bahwa masyarakat Arab bukanlah sepenuhnya bodoh. Kaum elite Arab begitu melek huruf, mahir membaca dan menulis. Masyarakat Arab mampu menggubah syair-syair yang bernilai sastra tinggi. Setiap tahun diselenggarakan festival sastra, karya pemenang digantung di dinding Kakbah. Masyarakat Arab adalah pebisnis hebat yang berbisnis sampai ke mancanegara.

Masyarakat Arab pra-Islam disebut jahiliah lebih karena moralitasnya yang rusak. Di dalam Alquran, kata jahiliah empat kali untuk menunjukkan kebodohan perilaku, bukan kebodohan ilmu (lack of knowledge). Mereka diperbudak nafsu berkuasa yang menyebabkannya memperbudak sesama manusia. Birahi yang meraja membuat mereka haus akan wanita dan memperlakukannya dengan sangat nista. Bahkan, anak-anak perempuan yang lahir dari rahim istrinya dikubur secara hidup-hidup.

Akan tetapi, dalam kurun waktu hanya 23 tahun, Nabi Muhammad mampu mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat yang ilmiah. Nabi Muhammad berhasil mengubah masyarakat barbarian menjadi kaum yang berkeadaban. Esposito (1991) menyebut kesabaran, kebersahajaan, kejujuran, ketulusan, keteguhan, dan tanggung jawabnya yang tidak terkira adalah kunci keberhasilan perjuangannya.

Kebangkitan Akhlak

Momentum kelahiran Nabi adalah momentum kebangkitan akhlak. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits, misi utama Nabi Muhammad adalah menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak Nabi, sebagaimana dijelaskan Aisyah RA, istri Rasulullah, adalah Alquran. Menurut Fazlurrahman (1987), pesan utama Alquran adalah moralitas. Ibadah di dalam Islam tidak akan sempurna jika tidak membuahkan akhlak dalam kehidupan.

Perlu dipahami, problem yang sedang dihadapi bangsa ini sesungguhnya adalah kerusakan akhlak generasi bangsa. Bahkan, dalam beberapa hal, bangsa ini lebih jahiliah daripada bangsa jahiliah prakelahiran Nabi Muhammad. Sebagai contoh, atas nama perbedaan pendapat, umat Islam bisa saling mengkafirkan. Atas nama perbedaan ideologi, orang bisa saling membunuh. Atas nama perbedaan, orang menghalalkan tindakan terorisme dan radikalisme yang mengancam dan membahayakan orang lain.

Dalam situasi ini, momentum maulid menjadi sangat bermakna. Momentum maulid nabi bisa menjadi titik awal bagi kaum muslim menghadirkan akhlak Muhammad dalam kehidupan umat.

Pesan Antiradikalisme

Dari uraian-uraian di atas, jelas bahwa Nabi Muhammad hadir di sekeliling kita, dalam rangka mendidik kita agar menjadi manusia berakhlak mulia. Mendidik kita agar menjadi manusia yang tidak menegasikan kemanusiaan. Menjadi manusia yang bermoral dan beradab. Artinya, sejatinya kehadiran Rasulullah adalah memberikan kepada setiap umat manusia agar tidak berperilaku radikal dan terorisme. Di tangannya, agama dikembalikan lagi kepada khitahnya sebagai keyakinan untuk menanamkan kesadaran pentingnya menebarkan kasih kepada seru sekalian alam. Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin.

Rasulullah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya hidup damai dan berperilaku toleran. Lihat saja, pada peristiwa Fathu Makkah yang menandakan kemenangan Islam. Nabi Muhammad SAW yang dahulu dinista orang Mekah bahkan disebutnya sebagai pendusta, tukang sihir, dan makian lainnya, sampai nyawanya hendak dihabisi kaum muda Mekah, justru ketika kesempatan balas dendam berada di pelupuk mata, Nabi malah memaafkan dan membebaskan mereka. Antum thulaqa, kalian semua bebas. Politik permaafan dijadikan pilihan. Jalan rekonsiliasi dibentangkan.

Di lain waktu, Nabi dimaki seorang Yahudi, “Assammu ‘alaikum” (kecelakaan bagimu). Nabi hanya menyahut “wa ‘alaikum.” Istrinya Aisyah protes seraya balik mencaci lebih tajam, “Assammu alakum wa la’natuh” (bagi kamu kecelakaan dan laknat). Nabi menegur, “Jangan berlebihan, istriku.” Agama sama sekali tidak mengajarkan kebencian dan sikap berlebih-lebihan.

Refleksi hari ini

Harus diakui, banyak teladan Nabi yang telah ditanggalkan dalam menyikapi keberagamaan kita hari ini. Yang paling mutakhir tentu saja bagaimana agama sering kali dibajak untuk kepentingan partisan, jangka pendek, dan tujuan-tujuan politik sesaat, bahkan kekerasan pun dilegalkan atas nama agama itu sendiri seperti diperagakan kelompok IS dan ormas-ormas fundamentalis yang akhir-akhir ini mengancam keberagaman di Nusantara.

Agama yang seharusnya menebarkan kedamaian, akhirnya di tangan kaum radikal mengalami contradictio in terminis. Wajah agama menjadi akrab dengan kekerasan dan sikap intoleran. Tak heran, hari ini rupa agama telah berubah menjadi bengis menyeramkan.

Maka itu, lewat Maulid Nabi ini, minimal kita dapat belajar untuk memasuki pengalaman keragaman secara lapang, untuk memastikan bahwa tujuan utama kehadiran agama ialah menebarkan rahmat dan menjalin kerukunan. Ini penting digarisbawahi sebab kita ialah masyarakat heterogen. (ISNU)

Ditulis oleh Mohammad Sholihul Wafi, Pemerhati masalah sosial dan kebangsaan, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: