Kenangan Gus Mus Saat Nyantri di Ponpes Lirboyo

gus-mus-640x420Rabu, 30 Desember 2015

REMBANG, ISLAMNUSANTARA.COM – Bagi beberapa orang, kehidupan para santri memang sangat mengesankan. Selain belajar hidup mandiri, banyak cerita yang sulit dilupakan dan meraik untuk didengarkan. Seperti kisah Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus kala masih nyantri di Ponpes Lirboyo, Kediri.

Gus Mus ternyata nakal saat menjadi santri Lirboyo. Meksi berstatus santri tapi Gus Mus mengakui senang mencuri tanaman tebu yang berada di sekitar Ponpes Lirboyo sampai akhirnya Gus Mus kecil tak berani melakukannya lagi.

Berikut kisah Gus Mus nyantri di Ponpes Lirboyo, Kediri ketika masih diasuh KH Marzuqi Dahlan. “Waktu itu saya dan teman-teman sedang berkumpul kemudian merencanakan “ngambil” tebu. Sebab saya dengar sebentar lagi tebu akan ditebang untuk kami berencana mencuri beberapa lonjor (batang) tebu.” tutur Gus Mus.

Tanpa berpikir panjang, karena pada musim panen tebu sebelumnya Gus Mus dan teman-temannya berhasil melakukannya. “Kami sudah bersiap-siap untuk menjalankan aksi. Namun saat hendak melangkah ke kebun tebu, Gus Mus dan teman-temannya dibuat tak berkutik oleh suara yang datang dari Ndalem (rumah) pengasuh Ponpes. Sayup-sayup terdengar itu adalah suara KH Marzuqi.

“Memang lokasi kamar ‘Mars’ yang saya tempati dekat dengan ndalemnya Mbah Marzuqi. Saya berjalan paling depan. Dan ketika saya lewat depan ndalem, tiba-tiba ada yang memanggil,” kenang Gus Mus. “Gus, Gus, mriki (Gus Gus ke sini),” suara dari Ndalem terdengar.

Dan benar itu suara KH Marzuqi memanggil Gus Mus. Kata Gus Mus, KH Marzuqi selalu menggunakan bahasa jawa Kromo ketika berbicara dengan setiap orang termasuk dengan para santri yang masih anak kecil. “Saya pada waktu itu baru saja masih lulus SR (Sekolah Rakyat, setara SD),” tutur mantan Rais Aam PBNU itu. 



”Mriki-mriki, Gus!” (Kesini Gus),” suara KH Marzuqi semakin tegas.

“Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab berbarengan sekali dengan kegiatan saya yang hendak ‘nyolong’ tebu bersama kawan-kawan. Saya lantas mendekat, lalu ditanya.  “Gus, sampean doyan tebu? (Gus kamu suka tebu),” kata Gus Mus.



Kontan, Gus Mus mengaku kaget bukan kepalang. Meski udara di Kediri sangat sejuk, tubuh Gus Mus mendadak berkeringat. “Pertanyaan ini membuat saya terdiam dan takut. Saking takutnya, saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, sebelumnya saya tidak menyangka tiba-tiba beliau kok bertanya seperti itu. Nanyanya kok pas sekali.” gumam Gus Mus dalam hati.

Meski Gus Mus tak menjawab pertanyaan KH Marzuqi, tapi, “Beliau menyuruh saya dan teman-teman menunggu. Sebentar kemudian beliau keluar dari ndalem dengan memanggul seonggok lonjor tebu.” 



Beliau bilang, “Niki sampean kula pilihaken sing apik-apik Gus.” (Ini, untuk anda saya pilihkan tebu yang bagus-bagus Gus). Niki dipun bagi kalih rencang-rencang lintune nggih? (Ini dibagi pada teman-teman yang lain ya?).

Setelah menyaksikan peristiwa itu, Gus Mus dan kawan-kawan urung mencuri tebu. Gus Mus kemudian bertanya-tanya, “kira-kira siapa ya orang yang telah membocorkan rencana itu? Padahal saat itu beliau kan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.” Gus Mus berlalu sambil kebingungan. Kisah Gus Mus itu dilansir di laman Ponpes Lirboyo. (Bersambung)

Sumber: Monitorday.com

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: