Kepolisian Indonesia Buru 91 DPO ISIS

Kamis, 06 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta  – Pihak kepolisian Indonesia tengah memburu 91 orang yang diduga berafiliasi dengan ISIS. Ke-91 orang ini merupakan bagian dari 234 orang teroris yang masuk daftar pencarian orang (DPO) terkait perkara terorisme.

Dari 91 orang tersebut, Sembilan yang sudah memasuki wilayah Indonesia itu merupakan warga negara asing (WNA). Kesembilan WNA itu terdiri atas 2 orang dari Kuwait, Algeria 1 orang, Saudi Arabia 2 orang, Syria 2 orang, dan Turki 2 orang.

Ini merupakan data yang disampaikan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM berdasarkan informasi dari Polri atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Yang masuk di dalam DPO terkait ISIS terdapat 91 orang,” tutur Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Ronnie F. Sompie, kepada wartawan Rabu (5/7/2017).

Sedangkan 143 orang pelaku terorisme lain merupakan para pelaku terorisme non-ISIS. Mereka masuk kelompok teror yang tidak berhubungan dengan ISIS tetapi dengan luar negeri.

Contoh kasus, seperti teror berhubungan dengan jaringan teror Uighur. Lima negara terbesar menjadi bagian jaringan teroris internasional, yaitu Algeria 19 orang, Indonesia 18 orang, Mesir 10 orang, Pakistan 10 orang, dan Irak 6 orang.

Untuk mencegah pihak-pihak ingin bergabung ISIS, pihak Imigrasi sudah mengantisipasi. Mereka menolak permohonan pihak-pihak bepergian ke luar negeri tanpa alasan. Selain itu, mereka melakukan penegakan hukum dan mengawasi WNI memiliki paspor dan berlintas di TPI.

Selama ini, kata dia, Imigrasi tidak memiliki data masuknya WNA berafiliasi dengan ISIS termasuk melalui jalur tikus. Pihak Imigrasi tidak berwenang apabila ada WNA atau kehadiran WNA asing yang berafiliasi dengan ISIS atau pelaku teror lain melalui jalur tikus.

Saat ini, kewenangan Dirjen Imigrasi hanya menjaga pintu resmi. Oleh karena itu, mereka tidak bisa mencegah orang asing masuk lewat jalur ilegal karena Indonesia belum menerapkan penjagaan hingga perbatasan (border security).

Ke depan, Imigrasi mengupayakan mendapatkan data biometrik sebagai solusi mengonfirmasi WNA berafiliasi ISIS. Mereka akan meminta data ke instansi lain, seperti interpol untuk mendapati data WNA itu berafiliasi dengan terorisme atau ISIS. (ISNU)

Sumber: Duta.co

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: