Kesaksian Gus Ishom: Otak Wahabi Telah Beraksi dalam Sidang Ahok

Minggu, 26 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Dalam Surah Al Ma Idah ayat 51 berbicara tentang hubungan Muslim dan Non Muslim dalam konteks peperangan. Dengan demikian ayat tersebut tidak tepat berlaku pada kondisi normal. Demikan kesaksian Kiai Ahmad Ishomuddin dalam sidang Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

Argumentasi Ahmad Ishomuddin sangatlah tepat dan memang demikianlah adanya. Tak terbayangkan bahwa ayat yang berbicara tentang konteks perang diterapkan pada kondisi normal, damai.

Jika kita merujuk pada tafsir sahih Internasional, kata awaliya pada ayat tersebut, tidak diterjemahkan sebagai PEMIMPIN tetapi SEKUTU, terkadang disebut PELINDUNG, TEMAN DEKAT. Jadi dalam kondisi perang, jangan jadikan Yahudi dan Nasrani sebagai TEMAN DEKAT, PELINDUNG apalagi SEKUTU.

Namun dalam kondisi normal, damai, Allah menerangkan sbb:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan Tiada pula mengusir kamu dari negerimu Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS Al Mumtahanah:8)

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu…” (QS Al Mumtahanah:9)

Pada ayat lain Allah menganjurkan untuk berbuat adil: “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS Al Ma Idah:8)

Yap, Allah tidak melarang kita berbuat adil, menjadikan teman orang-orang yang tidak memusuhi kita. Adil itu tidak memandang ras, suku, keyakinan atau apapun itu. Tidaklah adil jika terjadi diskriminasi atas suatu ras, suku keyakinan. Ini sangat masuk akal, karena setiap manusia adalah ciptaan Allah. Tidak terbayangkan bahwa Allah menciptak manusia untuk saling membenci, memusuhi. padahal pada ayat lain Allah menciptakan manusia untuk saling kenal mengenal, firmannya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…” (QS Al Hujuraat:13)

Jika, Al Maidah:51 dipaksakan pada kondisi normal, maka Al Mumtahanah: 8-9, Al Ma Idah:8 harus dibuang. Tidak ada kegunaan ayat tersebut. Kesimpulannya, Ahmad Ishomuddin adalah benar.

PEMIKIRAN ALA WAHABI MUNCUL

Namun atas pernyataannya, berbagai statement menyebut beliau murtad, sesat, kafer. Inilah adalah ciri khas pemikiran takfiri WAHABI.  Mereka yang tidak sependapat denganmu adalah sesat, murtad, kafer.  Pemahaman kaku seperti  inilah yang membuat berbagai negera-negara Islam jatuh kedalam konflik sektarian mengerikan. Mereka memahami teks-teks Kitab Suci secara Litera, penafsiran sempit lalu menerepkannya secara kaku, brutal.

Lebih jauh, mereka membelokkan argumentasi ustadz dengan mengatakan bahwa ustaz berkata Al Qur’an telah expired. Sebuah tuduhan yang sangat jauh panggang dari api.

Saya coba mengunjungi berbagi media, terutama MEDSOS dan saya menemukan statement2, hujatan yang sangat parah yang diterima ditujukab kepada Ahmad Ishomuddin. Dari gambaran tersebut, sekarang kita tahu bahwa pengaruh salafi WAHABI dinegeri ini telah sedemikian kuat.

Yang saya sungguh kuatirkan berikutnya adalah RADIKALISME massal hasil dari cuci otak PAHAM tersebut. Ini adalah tanda2 gejala awal radikalisme didunia Muslim. Bukankah berbagai organisasi Islam radikal diberbagai belahan dunia lahir dari  pemikran kaku TAKFIRISME? WASPADALAH! (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: