Ketika Jati Diri dan Karakter Bangsa Mulai Bangkrut

[Persembahan dari Peringatan 500 Tahun Kanjeng Sunan Kalijaga]

Oleh Aguk Irawan MN*

Islamnusantara.com – Menyelami negeri Indonesia kini seolah kita sedang berkaca pada cermin yang retak. Di bidang politik; penyalahgunaan wewenang kekuasaan, korupsi, kolusi dan nepotisme semakin subur. Bidang ekonomi; jumlah penduduk miskin makin meningkat dan kapitalisme sampai masuk ke desa-desa. Pendidikan; hilangnya nilai-nilai kejujuran dan integritas. Agama; menjamurnya sparatisme dan radikalisme. Hukum; labilnya penegak hukum oleh suap dan muncuatnya sejumlah fenomena mafia hukum. Budaya; terkikisnya nilai-nilai kearifan bangsa, seperti budaya gotongroyong, keramah-tamahan dan sopan-santun. Bahkan membudayanya saling tuding seakan sudah lumrah menjadi tontonan kita sehari-hari di berbagai media.

Makna dan realisasi persatuan dan kesatuan pun nampaknya semakin kabur dan bangkrut pula. Banyak di antara warga Indonesia yang lebih mementingkan sekelompok, sesuku dan sekeyakinanya dan dirinya sendiri, nyaris secara paksa. Bangsa besar ini mulai kehilangan jati diri, dimana sikap peduli terhadap sesama, keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa ini mulai bangkrut. Padahal kebhinnekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa.

Kembalikan Jati Diri BangsaSejarah menunjukkan, bahwa suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Nusantara ini, dengan keanekaragaman budayanya masing-masing, sejak dahulu telah saling berhubungan dan berinteraksi. Berdasarkan kesamaan visi mengenai masa depan, maka para pemuda dari suku-suku bangsa tersebut pada tahun 1928 telah mengikrarkan sumpah untuk menjadi satu bangsa dengan menggunakan bahasa persatuan dan bersama-sama hidup di satu tanah air. Dan dalam kurun waktu tertentu, dari kesamaan visi ini akhirnya tercetuslah Pancasila pada 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan UUD 1945 sebagai tafsir nilai-nilai itu.

Pancasila adalah falsafah bangsa; welthanchaung, pandangan hidup bangsa serta perekat dan pemersatu bangsa. Namun sebagaimana kita ketahui dan rasakan saat ini, Indonesia kini kehilangan kepribadiannya sebagai bangsa yang punya idiologi sendiri dan kaya akan unsur budaya. Sehingga yang terlihat saat ini adalah Ketuhanan Yang Mahaesa telah berganti dengan Ke-uang-an Yang Mahaesa di berbagai lini kehidupan. Kemanusaiaan telah berubah wujud menjadi perjuangan Hak Asasi manusia (HAM). Persatuan Indonesia telah dimanifestasikan kedalam bentuk otonomi daerah (yang gagal dalam implementasi di masyarakat). Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksaanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan telah diganti dengan perjuangan demokrasi-liberal. Serta yang terakhir, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia telah bermetamorfosa menjadi perjuangan kepentingan kelompok tertentu sebagaimana yang ditampilkan dalam perjuangan partai-partai politik saat ini.

Kita tidak perlu mengingkari, bahwa luntur dan bangkrutnya karakter bangsa dan jati diri bangsa ini, pertama dan yang paling utama tersebab oleh krisis panjang keteladanan yang ditampilkan oleh pemimpin-pemimpin kita. Dan sudah sejak lama, rakyat disuguhi mental-mental keculasan, kemunafikan, dan ketidakjujuran dari pemimpin kita, bahkan itu terus berlangsung dan sangat akut hingga sekarang. Sekali lagi, inilah yang menjadi sebab bangkrutnya karakter bangsa dan jati dirinya.

Dalam konteks krisis keteladanan inilah, kiranya penting kita menghadirkan tokoh atau sosok yang menjadi inspirasi atau cermin, akan kerinduan kita yang sangat panjang akan hadirnya “ratu adil” di negeri ini. Maka menjadi penting, kita menghadirkan sosok “Kanjeng Sunan Kalijaga” sebagai inspirator untuk mengatasi multi krisis yang dialami negeri ini. Dan pilihan ini, kiranya punya alasan yang masuk akal; secara empiris-historis, nusantara ini pernah bercokol dua peradaban besar, yaitu Hindu-Budha dan peradaban Islam (Pesantren). Untuk peradaban Islam (pesantren) ini tak bisa dipungkiri kehadirannya, karena pencetus Piagam Jakarta, sebagai cikal lahirnya Pancasila dan UUD 1945 adalah hasil dari keterlibatan baik langsung maupun tak langsung dari pemikir Islam-Pesantren pada saat itu, misalnya H Cokroaminoto, Agus Salim, H Abdoel Moeis, KH Ahmad Dahlan, dan KH Hasyim Asy’ari dan pahlawan lainnya yang berkultur pesantren.

Bahkan jauh sebelum itu, banyak ulama dan tokoh Islam-pesantren yang menjadi pahlawan nasional karena jasa dan pengabdiannya dalam upaya mengusir kolonialisme dari bumi pertiwi ini, misalnya Pangeran Diponegoro (1785-1830 M) dari Yogyakarta, RA Kartini dari Jawa, Cut Nyakdin dari Aceh, Imam Bonjol dari Sumatera barat, Sultan Hasanudin dari Banten, Syarif Hidayatullah dari Cirebon, Budi Utomo (1908-1939 M) yang berusaha menentang penjajah dengan satu tujuan agar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali kepangkuan ibu pertiwi.

Dan tokoh-tokoh yang hadir itu punya kaitan erat dengan sentral tokoh sebelumnya, ia tak lain adalah Kanjeng Sunan Kalijaga. Kenapa? Karena peletak karekter Islam yang arif dan toleran, liat-lentur atas situasi zamannya; ia dikenal sebagai mubaligh/da’i keliling, ulama besar, seorang Wali yang memiliki karisma tersendiri di antara wali-wali yang lain, paling terkenal di berbagai lapisan masyarakat, apalagi kalangan bawah. Ia-lah figur sentral yang sering dikaitkan dengan keberhasilan “mengawinkan” antara tradisi dan ajaran Islam, sehingga terjadi proses simbiosis-muatlisme. Kemudian Islam hadir di pribumi berbeda dengan Islam yang ada di Arab, Afrika atau Eropa. Yakni dengan karakternya sendiri.

Di sebagian tempat di Nusantara, ia dikenal bernama Syekh Malaya. Ia mengenalkan nilai agama secara inklusif, tanpa menghilangkan adat-istiadat/kesenian daerah, menciptakan baju Taqwa (lalu disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar nyamping dan keris serta rangkaian lainnya), menciptakan tembang Dandanggula, menciptakan lagu Lir Ilir yang sampai saat ini masih akrab dikalangan sebagian besar orang Jawa, pencipta seni ukir bermotif daun-daunan, memerintahkan sang murid bernama Sunan Bayat untuk membuat bedug di masjid guna mengerjakan shalat jama’ah, menciptakan ritual berupa Gerebeg Maulud yang asalnya dari tabligh/pengajian akbar yang diselenggarakan para Wali di masjid Demak untuk memperingati maulud Nabi.

Menciptakan Gong Sekaten bernama asli Gong Syahadatain (dua kalimah syahadat) yang jika dipukul akan berbunyi dan bermakana bahwa mumpung masih hidup agar berkumpul masuk agama Islam, pencipta Wayang Kulit diatas kulit kambing, sebagai Dalang (dari kata dalla’ yang berarti menunjukkan jalan yang benar) wayang kulit dengan beberapa cerita yang ia senangi yaitu antara lain Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci serta Petruk Jadi Raja dan Wahyu Widayat, serta sebagai ahli tata kota seperti misalnya pengaturan istana atau kabupaten dengan alun-alun serta pohon beringin dan masjid, dll. Dalam kurun waktu yang lama, nilai-nilai itu tertanam dan terjaga, tak pelak, di kemudian hari telah memberi inspirasi pada para pencetus Pancasila, karena secara intrinsik dalam Pancasila itu mengandung nilai-nilai toleransi yang tinggi sebagaimana yang sudah diajarkan Kanjeng Sunan Kalijaga. Karenanya, menghadirkan sosok dan karyanya untuk saat ini setelah 500 tahun (diperkirakan lahir tahun 1939 M), menjadi penting dan urgen sebagai renungan bersama untuk meneladani, mengingat, mengaktualisasikan kembali ajaran-ajarannnya saat karakter dan jati luhur bangsa mulai bangkrut! Wallahu’alam bishsawab. (ISNA)

Sumber : Nu.online

*Pengurus LESBUMI NU D.I.Y dan Panitia Peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: