Ketua IMan: NU di Tikungan

Selasa, 18 April 2017,

ISLAMNUSANTARA.COM, JAKARTA – Ahmad Yahya adalah penulis dan juga sebagai Ketua IMAN Institute, Alumni PMII Unissula, dia menulis tentang NU di Tikungan. (Baca: Keselarasan Pemikiran Gus Dur, Cak Nur, dan Syafi’i Ma’arif)

Semarang Seorang pembalap yang cerdik dan handal, selalu dapat mendahului pembalap yang lain terutama kalau memacu kendaraannya di tikungan. Tikungan adalah momen bagi pembalap cerdik dan handal untuk menjadi juara.

Kita tentunya sering melihat pembalap yang sedang berbalapan di layar kaca, bagaimana pembalap handal dengan cerdik meliukkan badannya selalu dapat mendahului pembalap yang lain. Bagi pembalap yang sudah handal, di situlah kelebihan ilmunya dibandingkan dengan pemula. Memacu kendaraan di jalan yang datar dan lurus itu biasa, tapi memacu di jalan di tikungan dan mendaki, itu baru luar biasa.

Gesekan pengaruh dan saling mempengaruhi begitu kental dan terbuka, kegaduhan di tingkat lokal akibat politik yang tak berujung membuat masyarakat semakin cerdas dan kritis. Karena hampir separoh energi bangsa habis memikirkan hajatan politik pilkada. Ini membuktikan bahwa pertaruhan demokrasi di Indonesia sunggah sangat mahal, dan masyarakat harus dibayar dengan balasan yang setimpal. (Baca: Pengurus Ranting NU Ujung Tombak Kebhinekaan NKRI)

Di setiap hajatan pilkada di manapun berada, NU selalu menjadi tempat hangat untuk diajak diskusi, mengobrol santai, objek silaturahim, maupun alih-lih apapun itu bentuknya. Ini menandakan bahwa NU adalah organisasi yang dapat diterima oleh siapapun latar belakangnya.

Tetapi ini justru sebagai ujian dan kewaspadaan bagi internal NU sendiri, jangan sampai NU hanya dijadikan alat untuk mengambil keuntungan, menciptakan tikungan politik selama perhelatan pilkada berlangsung yang diciptakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mempengaruhi independensi dan netralitas NU. Jangan sampai NU diseret kearah politik praktis.

Persaingan untuk merebut hati rakyat saat pemilihan berlangsung apapun itu wujudnya sudah menjadi bagian dari strategi untuk memenangkan pasangan tertentu, apakah dengan cara yang terpuji maupun sebaliknya dengan cara-cara yang kurang terpuji. Sowan ke pengurus struktural NU rupanya bisa menaikkan popularitas dan simpatik pemilih. Langkah tersebut rupanya dijadikan salah satu strategi tikungan yang ampuh untuk menyalip dan mendahului pesaingnya. (Baca: Habib Lutfi : Islam Nusantara Benteng NKRI dari Gerakan Anti Nasionalisme)

Ujian independensi dan netralitas

Di setiap mendekati hajatan pilkada NU selalu menegaskan, bahwa NU bersikap netral dan independen, tidak memihak siapapun. Ini menandakan bahwa NU berusaha di jalan yang benar dan seharusnya demikian. Biarpun warga NU juga mempunyai hak berpolitik dan menyalurkan aspirasi politiknya. Tetapi NU membebaskan warga NU untuk menentukan pilihannya.

Perbedaan pandangan politik memang wajar, tetapi setiap ujian politik yang dihadapi NU harus dihadapi dan dinetralisir dengan argumen-argumen yang bermartabat dan bertanggung jawab. NU juga tidak begitu saja lari dari ujian-ujian yang dihadapi, tetapi NU menghadapi itu semua dengan tetap menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Lagi-lagi syahwat politiklah yang menjadi taruhannya, bersikap netral dan independen juga tidak mudah. Sikap netral hanya bisa menjadi sebuah teori saja manakala tataran realita dipungkiri dan tidak bisa dilepaskan dari politik dan unsur kepentingan. Entah karena “seksinya” NU atau karena “syahwat” politik NU yang tidak bisa terkendali.

Menurut penulis, ada beberapa hal untuk memegang teguh netralitas NU di tengah ujian tikungan politik saat ini, pertama tidak membawa simbol-simbol NU saat pilkada berlangsung. Kedua mengamankan dan menjaga setiap kebijakan NU. Ketiga NU selalu mendorong terciptanya demokrasi yang sehat. Bagaimana dengan NU? Gitu aja koq repot.Wallahu A’lam. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: