Ketum Ansor Meminta Anggota Mewaspadai Ancaman Peradaban

Selasa, 24 Mei 2016

ISLAMNUSANTARA.COM,  MANADO—  Gerakan Pemuda Ansor diminta untuk tidak tinggal diam melihat fenomena yang terjadi terkait dengan upaya memecah belah NKRI, termasuk di Sulawesi Utara. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas di sela-sela kunjungannya ke Sulawesi Utara dalam rangka menghadiri hari lahir ke-82 GP Ansor, 21-22 Mei 2016, di Manado.

Yaqut mengatakan, di usia yang ke-82 ini tanggung jawab GP Ansor tidak berkurang tapi malah semakin besar, karena yang dihadapi hari ini bukan hanya masalah-masalah yang mengancam Nahdlatul Ulama (NU), dan bukan hanya masalah-masalah yang menggerogoti keutuhan bangsa dan negara (NKRI) saja. “Akan tetapi kita menghadapi ancaman besar terhadap kemanusiaan dan peradaban,” ujar Gus Tutut, sapaan akrabnya.

Kata dia, setiap hari masyarakat dipertontonkan dengan tragedi kemanusiaan, antara lain perang yang tak berkesudahan di Timur Tengah dan pembunuhan manusia yang tak berdosa di berbagai belahan dunia, dan imbasnya telah sampai ke Tanah Air. Kenyataan ini telah menimbulkan reaksi balik, sikap menyalahkan dan kebencian terhadap Islam. “Sungguh kita menghadapi ancaman besar terhadap kemanusiaan dan peradaban,” imbuhnya.

Saat berkunjung ke Sekretariat PWNU Sulawesi Utara, Gus Tutut yang didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen)  PP GP Ansor Adung Abdul Rohman dan Wakil Ketua Umum PP GP Ansor Benny Rhamdani kembali menegaskan soal pembiaran aparat keamanan terhadap merebaknya paham kekerasan yang memecah-belah persatuan.

“Untuk hal itu kami sudah memerintahkan seluruh ‘pasukan’ diwajibkan terlibat aktif dalam upaya menjaga NKRI dari ancaman radikalisme maupun terorisme. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan untuk Indonesia, itu sudah membuktikan  keberpihakan kita terhadap bangsa dan negara ini!” Tegasnya.

Yang paling harus diwaspadai, lanjutnya, adalah upaya-upaya kelompok radikal yang tak segan mengkafir-kafirkan orang lain. “Kita yang shalat tiap hari, ngaji dan menjalankan perintah Islam lainnya, dianggap kafir hanya karena berbeda. Kita yang di NU dengan keislaman yang sudah jelas sejak pendiri KH Hasyim Asy’ari, terus ditarik jauh mulai dari Wali Songo, kemudian Maliki, Hambali, Hanafi, Syafii, dan seterusnya sampai kepada empat sahabat Nabi, apa mereka kurang Islam? Tapi kenapa kita masih saja dituding kafir,” lanjutnya.

Di hadapan pengurus PWNU Sulut dan badan otonomnya seperti Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, GP Ansor, serta PMII, Gus Tutut berpesan agar seluruh warga NU Sulut melakukan aksi nyata melawan radikalisme dan terorisme. “Di beberapa daerah di Jawa kita sudah melakukan aksi membersihkan lingkungan dari segala hal berbau khilafah. Jadi jangan  ragu, turunkan saja! Kalau aparat keamanan tidak berani, kita yang turunkan dan serahkan buktinya ke mereka,” tegas anggota Komisi III DPR RI ini.

Rais Syuriah PWNU Sulut KH Rizali M Noor menyambut baik semangat yang digelorakan oleh GP Ansor secara nasional dalam rangka menjaga keutuhan NKRI. “Kita dan para pendiri NU sudah sepakat bahwa Pancasila dan NKRI sudah final. Karena itu kalau ada upaya-upaya untuk mengganti Pancasila dan NKRI berarti harus berhadapan dengan NU,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut Rizali, pihaknya bersyukur, karena hingga kini di Sulut masih kondusif dan tidak ada upaya-upaya sekelompok orang yang melakukan semua itu. “Alhamdulillah, di Sulut masih aman dan semua pihak, terutama bersama organisasi keagamaan lain, sama-sama saling menjaga daerah ini dari ancaman kekerasan dan radikalisme.”

Pernyataan-pernyataan semacam itu, tambah Suwaro Tuiyo, Sekretaris Tanfidziah PWNU Sulut, juga kerap disampaikan dalam beberapa kajian maupun pertemuan rutin pengurus NU se-Sulut. “Ini penting agar keutamaan menjaga daerah masing-masing dari ancaman radikalisme perlu dilakukan sedini mungkin.” (IslamNusantara/NU-Online)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: