Ketum IPNU: Bom Samarinda Rusak Hari Toleransi Dunia

Jum’at, 18 November 2016

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Asep Irfan Mujahid, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengecam aksi pengeboman Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, Ahad (13/11). Siapa pun dan apa pun latar belakang pelakunya, telah melukai kedamaian dan toleransi. Peledakanbom tersebut, menurut Pimpinan Pusat IPNU sangat merusak kemanusiaan di saat dunia memperingati Hari Toleransi ‎pada 16 November.

“Kita diingatkan kembali akan pentingnya rasa toleransi di antara umat beragama. Seperti juga yang dicontohkan oleh bapak bangsa kita, KH Abdurrahman Wahid, yang selalu menggaungkan nilai-nilai toleransi,” ucap Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid.

Pria yang akrab disapa Asmoez ini menuturkan, ‎melalui toleransi, semua menghormati manusia tanpa membedakan latar belakang ras, suku, agama, kepercayaan, warna kulit ataupun orientasi seksual. Hal yang menjadi realitas dalam kehidupan sehari-hari. Agama Islam mengajarkan kedamaian damai, dan sangat menghargai perbedaan.

“Mengutip Q.S Al Hujurat ayat 13, yang intinya Allah SWT menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal,” tuturnya.

Dia menambah‎kan, kekerasan yang mengatasnamakan perjuangan Islam, merupakan tindakan yang mencoreng kesucian Islam itu sendiri. Tindak kekejaman dalam bentuk dan tujuan apa pun, sangatlah biadab dan keji. Islam tidak mentolerir aksi teror yang mengancam umat lain.

“Penistaan agama, bukan hanya dari ucapan, tapi juga dari perilaku,” tambahnya.

Lanjut Asmoez, PP IPNU sebagai organisasi pelajar yang beraqidah Islam Ahlussunah wal-Jamaah, ‎mengecam keras perilaku teror yang mengatas namakan jihad. PP IPNU memiliki pandangan bahwa jihad yang benar dengan perbuatan amar makruf nahi munkar, bukan justru menebar teror dan menambah kemunkaran baru. Anggapan  perilaku teror adalah bagian dari jihad itu, tidak lebih hanya pikiran yang sesat menyesatkan.

“Aksi teror tersebut perbuatan yang menistakan agama Islam dan melecehkan agama Islam,” lanjutnya.

Asmoez mengatakan, PP IPNU mengucapkan bela sungkawa yang sangat dalam terhadap para korban yang terluka, maupun korban yang meninggal dunia. Serta, meminta aparat kepolisian menegakkan hukum yang seadil adilnya sehingga memenuhi rasa keadilan masyarakat. Pihak kepolisian selalu waspada dan mampu mendeteksi secara dini ancaman-ancaman serupa dikemudian hari, sehingga negara benar-benar hadir dan memberikan rasa aman untuk warganya.

‎”Semoga kita senantiasa menjadi orang yang selalu memupuk rasa toleran dalam memaknai perbedaan, demi tegaknya Agama Islam, Bangsa dan Negara Indonesia,” pungkasnya.

Seperti diketahui, akibat dari ledakan tersebut, empat balita mengalami luka bakar akibat ledakan bom molotov, satu di antaranya Intan Olivia Marbun berusia dua tahun, meninggal dunia akibat luka bakar yang diderita hampir di seluruh tubuhnya. (ISNU)

Sumber: NU Online

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: