Ketum PBNU: NU Harus Berperan Tentukan Arah Kebijakan Negara

Rabu, 19 September 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jombang – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj mengingatkan warga NU untuk turut menjawab tantangan dunia. Hal tersebut disampaikan Kiai Said usai melantik Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, masa khidmat 2018-2023, Selasa (18/9).

“Saat ini tantangan bukan hanya lokal dalam negeri, tentang akhlak, akidah, melainkan juga ada tantangan kezaliman internasional. Sehingga NU juga berupaya keras untuk mengedukasi demi meminimalisir efeknya,” katanya pada kegiatan yang berlangsung di Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang tersebut.

“NU harus ikut menentukan negara dan turut berperan menentukan arah kebijakan politik negara ini,” ungkapnya.

Mengapa hal itu mendesak dilakukan, karena menurut Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta tersebut, tantangan kedzaliman internasional telah nyata di depan mata.

Yang pertama menurut Kiai Said adalah tantangan kezaliman di bidang politik. Di mana anggota tetap Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) adalah Amerika, Inggris, Perancis, Rusia, dan China. “Mereka mempunyai hak veto yang bisa membatalkan keputusan sidang raya yang sudah disetujui ratusan negara anggotanya,” terangnya.

Bahkan kalaupun ada sejumlah negara anggota DK yang menyepakati sebuah keputusan dan pada saat yang sama, satu saja dari lima anggota tersebut menolak, maka tidak akan jadi keputusan alias batal. “Apakah ini adil?” Tanya Kiai Said.

Contoh lain adalah kezaliman di bidang ekonomi. “Di mana yang namanya pertambangan, bukan Indonesia yang mempunyai hak untuk menentukan harga minyak, emas, nikel, timah, batu bara, dan sejenisnya. Padahal Indonesia sebagai penghasil barang tambang tersebut,” urainya.

Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan kezaliman moneter. “Dulu yang menjadi kontrol uang kertas adalah emas, lama-lama sering terjadi keributan akhirnya kesepakatan bukan emas melainkan dolar,” katanya.

Yang juga tidak kalah memprihatinkan adalah kezaliman di bidang pendidikan. Hari ini, yang dikatakan ilmiah itu jika referensinya Amerika, Eropa dan negara Barat. “Kalau referensinya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, ditolak karena dinilai tidak ilmiah,” sergahnya.

Menghadapi tantangan dan kezaliman dunia internasional tersebut, tidak ada pilihan bagi NU adalah dengan memberikan solusi.

Solusi yang dimaksud Kiai Said adalah bahwa NU tidak hanya bisa menyuarakan terjadinya kezaliman tersebut dalam kapasitasnya sebagai organisasi sosial keagamaan. “Bisakah NU memberikan kritik dan solusi? Tidak bisa,” katanya.

“Karenanya saya mengingatkan kepada seluruh nahdliyin terutama pengurus NU tentang berbagai macam tantangan tersebut dan kesiapan menghadapinya,” tandasnya.

Sebelumnya, pada sambutan khotbah iftitah Rais PWNU Jatim yang disampaikan Kiai Anwar Iskandar, juga KH Marzuki Mustamar selaku Ketua PWNU Jatim serta H Saifullah Yusuf turut menyampaikan keprihatin yang sama. Yakni tantangan terhadap akidah, akhlak, dan sejumlah problematika umat dan bangsa. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: