Ketum PBNU: Rasulullah Sangat Menghormati Perbedaan dan Keberagaman

Senin, 23 April 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, dalam salah satu ceramahnya di Youtube, memberi penjelasan yang luas tentang sikap Nabi yang sangat menghormati perbedaan dan keberagaman. Kiai yang kerap disapa Kang Said itu memaparkan kemajemukan kota Yastrib yang dihuni oleh Nabi ketika hijrah dari kota Makkah menuju kota Madinah.

Ketika itu Nabi mendapati orang-orang Yastrib yang beragam, yang terdiri dari banyak suku, dialek bahasa bahkan agama yang berbeda. Nabi sangat menghormati keberadaan masing-masing di antara mereka. Tidak sedikitpun Nabi mencela apalagi menghina masing-masing kelompok yang berbeda. Justru Nabi sangat menghormatinya dengan senantiasa menebar keramahan dan kedamaian sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Islam.

“Nabi memasuki kota Yastrib ternyata mendapatkan masyarakat yang plural, ada satu kelompok pendatang Islam disebut Muhajirin. Ada yang beragama Islam pribumi dari Yastrib yaitu Auz dan Khazraj. Ada pula non-muslim beragama Majusi yaitu Bani Qainuqa’, Quraidlah dan Bani Nadir,” ujar Kang Said.

Kiai yang juga pengasuh pondok pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur tersebut menjelaskan, keberagaman suku di kota Yatsrib merupakan bukti bahwa Islam sejak dahulu sudah menjalin kehidupan yang rukun dengan berbagai suku yang beragam, sekalipun suku tersebut tidak menganut agama Islam. Nabi Muhammad SAW tidak menolak keberagaman itu, justru merangkul semua suku yang ada dengan satu tujuan, yakni mengamalkan esensi ajaran Islam tentang saling menghormati perbedaan.

“Nabi masuk kota Yastrib mendapatkan kenyaatan bahwa masyarakat kota Yastrib plural dan majemuk, dan Nabi memutuskan, muslim pendatang migran, muslim pribumi dari Yastrib dan non muslim asalkan satu visi misi satu cita-cita sesungguhnya mereka itu satu umat,” papar Kiai Said.

Kiai Asal Cirebon tersebut menambahkan, sejak dulu dan puluhan abad yang lalu, Nabi Muhammad berhasil membangun komunitas sosial yang tidak dilandasi oleh agama dan etnis tertentu. Nabi membangun komunitas sosial dengan tujuan yang sama yakni untuk menciptakan ketentraman dan perdamaian di antara umat yang ada.

“Itu artinya Nabi Muhammad 15 abad yang lalu telah berhasil membangun sebuah komunitas umat sosial yang tidak berdasarkan konstitusi agama dan tidak berdasarkan konstitusi etnis,” pungkasnya.(ISNU)

Sumber: Islamramah

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: