Ketum PBNU Tawarkan Gagasan Islam Nusantara Kepada Dunia

Senin 09 Mei 2016

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Konflik bernuansa sektarian yang mewarnai sejarah panjang timur tengah menjadi fokus ceramah pembuka Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, Ia mengecam konflik yang terjadi di Timur Tengah dan beberapa negara Islam. Menurutnya, konflik di Timur Tengah merupakan wujud pecahnya persatuan ulama dalam menjaga bangsa.

Hal ini disampaikan Said Aqil dalam pembukaan International Summit of the Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta Convention Center (JCC). Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) membuka secara resmi kegiatan ini di hadapan ratusan ulama.

Agenda Isomil dihadiri oleh ulama-ulama dan cendekiawan dari 40 negara Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan sebagian negara Asia. Tampak hadir dalam pembukaan, mantan presiden Megawati Soekarnoputri, beberapa menteri, pimpinan partai politik, ulama, dan akademisi. PBNU menyelenggarakan Isomil dalam rangka mendorong perdamaian dunia di tengah konflik sektarian, agama, hingga sengketa ideologi beberapa negara.

“Wahai orang Arab, kenapa kalian berat sekali mengatakan Islam merupakan agama kemanusiaan? Karena di negeri kalian sendiri masih terjadi perang saudara. Ulama tidak berdaya menghadapi ISIS,” ungkap Said Aqil, Senin (9/5/2016).

Dalam pidatonya, ia menyatakan kesedihan mendalam betapa konflik agama dan politik yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah hingga merusak citra agama Islam.

Said Aqil menyesalkan bahwa para ulama di Timur Tengah tidak berdaya menghadapi konflik-konflik internal agama yang menghancurkan kehidupan warga. Dia menilai bahwa konflik di Timur Tengah terus berulang karena tidak ada rumusan titik temu antara agama dan negara. “Para ulama Timur Tengah tidak memiliki konsep titik temu antara agama dan negara,” jelasnya.

Ia mengisahkan tentang prinsip kebangsaan yang dipraktikkan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. “Kiai Hasyim Asy’ari memiliki rumusan yang tepat, antara agama dan negara, antara prinsip Islam dan kebangsaan. Konsep Hubbul wathan minal iman, kecintaan terhadap Tanah Air, merupakan sebagian dari iman, berasal dari renungan Kiai Hasyim Asy’ari,” terangnya.

Dalam ungkapan Said Aqil itu, pesan pendiri NU jelas tentang perjuangan menegakkan NKRI. Mereka yang tidak berjuang untuk menjaga negara dan bangsa maka tingkat imannya belum sempurna.

Dalam pidato yang disampaikan menggunakan bahasa Arab tersebut, Said Aqil juga menjelaskan tentang makna Pancasila yang sesuai dengan Islam. “Pancasila itu merupakan dasar dari negara. Dengan kapal yang bernama Pancasila, insya Allah warga Indonesia akan damai, sejahtera, dan aman,” ungkapnya.

Agenda Isomil merupakan inisiasi NU untuk mengampanyekan gagasan Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban dunia. Said Aqil menegaskan bahwa pertemuan ulama dalam Isomil menjadi ruang dialog dan perumusan pernyataan bersama untuk menyelesaikan konflik agama di level internasional.

Konsep Islam Nusantara yang digagas NU dapat menjadi referensi sikap bagi umat Islam dunia. “Jika Muslim Timur Tengah atau warga Eropa mau belajar tentang Islam yang ramah dan damai, datanglah ke Indonesia. Belajarlah kepada Nahdlatul Ulama,” jelas Said Aqil. (IslamNusantara)

Sumber: Okezone

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: