KH Agus Sunyoto: Islam Nusantara Senjata NU Lawan Globalisasi

05 Maret 2016,

MALANG, ISLAMNUSANTARA.COM – Di tengah hiruk perdebatan pro dan kontra seputar isu Islam Nusantara, Johnson beserta Anshory, Ndemo, Husni, Anang, Dony, dan Daitya yang baru kembali dari arena Muktamar NU ke-33 di Jombang buru-buru menghadap Guru Sufi usai sholat Subuh. Dengan meluap-luap, mereka secara bergantian menuturkan pengalaman bertemu dengan kaukus jaringan Keluarga Besar Nahdliyyin yang tersebar di berbagai media sosial dengan berbagai identitas seperti Sarkubiyyah, Sardem, IKNU, KMNU, Terong Gosong, Pesantren Virtual, Komunitas Batu Akik, Komunitas Gerakan Pemuda Ansor, Pesantren Budaya, Pesantren Global, Islam Nusantara,dan lain-lain. Jaringan anak-anak muda Nahdliyyin ini secara prinsip mendukung gerakan Islam Nusantara sebagaimana istilah syariahnya disampaikan KH Afifuddin Muhajir. (Baca: Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara Tangkal Dampak Globalisasi)

“Tapi banyak teman-teman yang bertanya tentang latar di balik pelontaran istilah Islam Nusantara yang terkesan mendadak dan tiba-tiba menjelang muktamar NU, sehingga terjadi pro dan kontra,” kata Johnson menyampaikan pertanyaan teman-temannya yang belum faham dengan latar alasan di balik isu Islam Nusantara yang menuai pro dan kontra. “Orang-orang berjiwa merdeka dan berpikiran bebas, tidak akan berandai-andai dan menafsir-nafsir apalagi sampai membayang-bayangkan istilah Islam Nusantara sebagai sesuatu yang baru yang sangat mengerikan,” ungkap Guru Sufi seperti berkata kepada diri sendiri,

”Hanya orang bermental inlander dan berjiwa kacung, jongos dan begundal asing sajalah yang merasa takut terhadap sebuah istilah lokal yang dimunculkan anak-anak bangsa ini. Hanya orang yang terbiasa mengikuti titah, petunjuk, arahan, dan pendiktean asing yang meributkan sebuah istilah baru yang sejatinya sudah sangat lama digunakan orang.” “Maksudnya apa Mbah Kyai?” sergah Johnson kurang faham,”Apa urusannya Islam Nusantara dengan bangsa asing dengan anak-anak bangsa yang menjadi kacung, jongos dan begundalnya?” “Kalian ini bangsa apa?” tukas Guru Sufi dengan nada tinggi. “Bangsa Indonesia, Mbah Kyai?” sahut Johnson, Daitya, Ndemo, dan Anshory bersamaan. “Dari bahasa apa istilah Indonesia itu? Siapa yang pertama menggunakan istilah itu?” Tanya Guru Sufi dengan suara merendah. “Itu dari bahasa Latin, Yunani Kuno, dari kata Indos dan Nesos,” sahut Johnson tegas,”Indos artinya India. Nesos artinya kepulauan.” “Memangnya kita ini bangsa India? Memang Kepulauan Nusantara ini bagian dari India? Sejak kapan bangsa dan negeri ini jadi bagian India?” tanya Guru Sufi. “Tentu bukan, Mbah Kyai. Kita sekali-kali bukan bangsa India. Kepulauan Nusantara ini pun tidak pernah menjadi bagian dari Negara India kapan pun itu,” sahut Johnson garuk-garuk kepala. “Lalu kenapa kita menggunakan istilah Bangsa Indonesia? Bangsa India Kepulauan?” “Karena Adolf Bastian sudah menggunakan istilah itu, Mbah Kyai. Terus para mahasiswa dari kampus STOVIA ikut menggunakan istilah itu,” kata Johnson mulai faham alur berpikir Guru Sufi. “Seperti nasib penduduk asli benua Amerika yang disebut Indian, meski mereka bukan orang India, begitulah negeri kepulauan tempat kita dilahirkan ini dari jaman ke jaman oleh Portugis, Belanda, Inggris kulit putih Eropa disebut sebagai India Timur (oost-Indie) dan penduduknya disebut bangsa India Timur. Umat Islam di negeri kepulauan Nusantara ini pun oleh Christian Snouck Hurgronje diberi label Islam van Nederlandsch Indie -Islam Hindia Belanda-, yang formal permukaannya Islam tetapi dalamnya penuh praktek bukan Islam. Bahkan jama’ah haji asal Kepulauan Nusantara dalam catatan Firma Knowles & Co di Batavia yang memberangkatkan dan memulangkan jama’ah haji tahun 1890-an menggunakan sebutan Jama’ah Haji Hindia untuk daftar semua jama’ah yang berasal dari Nusantara, sebuah istilah colonial yang di-amin-i begitu saja tanpa protes. Islam India. Islam India Belanda. Oke saja karena yang kasi nama Tuan Belanda kulit putih.” “Setelah Etische Politiek diterapkan, di mana anak-anak Pribumi Muslim boleh sekolah formal di sekolah-sekolah Belanda lahir istilah baru: Islam Modernis dan Islam Tradisionalis, yang lazim digunakan L.W.C. van der Berg, C Brochelmann, J. Brugman, W.J.A.Kernkamp, P.S.J. van Koningveld, G.F.Pijper, B.Schrieke, yang bahkan diikuti oleh sarjana-sarjana lulusan sekolah di antara anak-anak bangsa ini. Tidak ada yang protes sedikit pun dengan istilah Islam India, Islam India Belanda, Islam Modertnis, Islam Tradisionalis, bahkan Islam Abangan, Santri, Priyayi yang diusung orang Amerika bernama Clifford Geertz. Kenapa bisa yes man, sendika dawuh, tabik tuan begitu rupa orang-orang Islam negeri ini terhadap penamaan tuan-tuan kulit putih? (Baca: Dakwah Islam Nusantara Walisongo Jaga Harmonisasi Cinta Tanah Air & Bangsa)

Tahukah kalian, kenapa mereka selalu menjadi “pak turut”, “master yesman”, kacung dan jongos setia kepada apapun yang ditetapkan bangsa asing?”.“Mentalitas inlander, Mbah Kyai,” sahut Daitya menarik nafas berat,”Saya pernah dengar orasi Prof Dr Budi Darma, Guru Besar Unesa tentang kisah Robinson Crusoe dengan budaknya yang orang Negro kulit hitam. Perbudakan itu terjadi, karena negro kulit hitam itu menganggap Robinson Crusoe yang berkulit putih itu sebagai dewa, yang turun dari langit, tempat yang tepat untuk mengabdikan diri. Begitulah, tanpa diperintah dan didoktrin dengan ideologi apa pun, negro kulit hitam itu sudah praktis menjadi budak bagi Robinson Crusoe.” “Kalau sudah seperti itu, kalian tahu kenapa sejak Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 yang disusul pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 18 Agustus 1945 selalu terjadi keributan dan kekisruhan dalam menjalankan praktek kenegaraan dan pemerintahannya?” tanya Guru Sufi tinggi. “Wah itu belum tahu latar belakangnya, Mbah Kyai,’ kata Johnson menduga-duga,”Kami hanya tahu ada kisruh 6 Juli 1946, Oktober 1952, Madiun Affair September 1948, PRRI-Permesta 1957, 1 Oktober 1965 yang menimbulkan banyak korban. Kami tidak tahu kenapa peristiwa itu harus terjadi.” “Alasan utama dari macam-macam peristiwa itu sejatinya cuma satu,” kata Guru Sufi dengan suara datar,”Anak-anak bangsa bermental jongos, kacung, centeng, marsose, begundal asing tidak pernah ridho melihat dan mendapati saudara sebangsa mereka mengkonsep Negara sendiri.

Mereka menganggap rendah Pancasila hasil penggalian Soekarno, pribumi kulit coklat. Mereka menilai sangat rendah apapun karya anak negeri karena mental mereka adalah mental inlander busuk yang selalu mendewakan orang asing kulit putih sebagai tuan. Begitulah, orang-orang yang ingin menjadikan pikiran Karl Marx, Frederich Engels, Lenin, dan Stalin sebagai landasan Negara Indonesia melakukan aksi makar di Madiun 1948 untuk mengganti Negara Pancasila menjadi Negara Komunis. Para kacung, jongos, marsose kader KNIL yang makar tahun 1957 dalam PRRI-Permesta, ingin menegakkan Negara liberal kapitalistik sebagaimana gagasan John Stuart Mill, Thomas Jefferson, Adam Smith, Talcott Parson, dengan menentang NKRI yang ber-Pancasila yang dianggap rendah. Begitu pun gerakan makar 1 Oktober 1965 yang dilanjut Reformasi 1998 pada dasarnya adalah usaha penolakan terhadap konsep landasan ideologis Pancasila, ciptaan pribumi. Begitulah, orang-orang naïf dengan pikiran sederhananya membandingkan Pancasila dengan agama dan menghukumi haram, sesat, musyrik, terhadap gagasan bernegara karya anak pribumi itu. Bahkan orang-orang yang mengaku paling Islami, ingin mewujudkan Negara khilafah ciptaan Taqiyuddin Nabhani, orang asal Kota Haifa di negeri Israel sana. Mereka sangat membenci Pancasila, konsep ciptaan anak negeri pribumi,” kata Guru Sufi lantang. “Jadi Mbah Kyai,” sahut Johnson menyimpulkan,”Penolakan terhadap istilah Islam Nusantara pun sejatinya bertolak dari mentalitas inlander ini ya? Soalnya, Islam Nusantara memang dimunculkan oleh anak-anak negeri pribumi untuk memberi nama atas amaliah praktis yang dijalankan oleh mayoritas umat Islam yang tinggal di Kepulauan Nusantara ini. Kata “Nusantara” rupanya kata asli dari bahasa asli anak negeri Kepulauan ini. Ini tentu berdampak serius bagi kesadaran bangsa ini, yang hal itu sangat tidak dikehendaki kekuatan asing yang menjajah negeri ini beratus-ratus tahun, guna menguras kekayaan alamnya. Hmm saya sekarang faham, Mbah Kyai.” “Sebentar Mbah Kyai,” sergah Ndemo memotong kata-kata Johnson,”Kami belum mendapat jawaban, kenapa istilah Islam Nusantara tiba-tiba dimunculkan? Apakah ada alasan khusus yang mendesak sampai istilah itu digunakan?” Guru Sufi diam. Beberapa jenak kemudian ia berkata,”Sebenarnya sejak tahun 1996, setelah Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilization meluncurkan konflik agama pasca runtuhnya Komunisme yang diikuti George Soros dalam On Soros Staying Ahead of The Curve yang meluncurkan teori a Global Open Society, Gus Dur sudah membincang tentang pentingnya membentuk kekuatan cultural yang dapat “membentengi” umat Islam Indonesia dari proses globalisasi yang digelontorkan sedemikian rupa untuk memuluskan teori George Soros.

Gus Dur menjelaskan bahwa proses perubahan yang disebut globalisasi adalah suatu usaha sistematis berskala global yang bertujuan menghilangkan dan menghapus identitas etnik, bahasa, budaya, agama, dan bahkan territorial agama. Target globalisasi adalah terciptanya masyarakat terbuka -open society- yang anonym tanpa identitas etnik, bahasa, budaya, dan agama tertentu. Begitulah, dengan diam-diam kader-kader muda didikan Gus Dur, memandang gerakan Islam anti tradisi dan budaya serta anti lokalitas -gerakan Islam yang menggunakan term-term bid’ah, khurafat, takhayul, kafir untuk menilai tradisi keagamaan yang dijalankan masyarakat- adalah bagian dari gerakan pensuksesan globalisasi yang berusaha membentuk masyarakat dunia tanpa identitas etnik, bahasa, budaya, agama, dan bahkan tanpa territorial negara.” “Oo begitu nya Mbah Kyai,” gumam Johnson manggut-manggut,”Istilah Islam Nusantara itu sejatinya merupakan resistensi terhadap usaha Kapitalisme Global menggelontorkan megaproyek yang disebut globalisasi. Hmm faham saya. Faham saya, kenapa yang ribut-ribut menyoal istilah Islam Nusantara itu dari golongan Islam trans-nasional yang sangat anti tradisi dan anti lokalitas.” “Hidup Islam Nusantara!” seru Daitya mengepalkan tangan ke atas. “Pertahankan identitas nasional kita!” sahut Ndemo lantang. “Hidup Aswaja an-Nahdliyyah!” “Hidup santri!” teriak Anshory,”Jangan sampai istilah santri diganti Thaliban!” Sambil ketawa Guru Sufi meninggalkan teras mushola yang gaduh diwarnai teriakan-teriakan para santri yang bersemangat mendukung Islam Nusantara. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: