KH Agus Sunyoto: Islam Patani dan Terusan Kra Thailand

21 Maret 2016,

MALANG, ISLAMNUSANTARA.COM – KH Agus Sunyoto ketika dihubungi via telepon oleh Prof Dr Ismail Al-Fathani dari Patani di Thailand selatan, yang mengaku telah membaca Atlas Wali Songo pemberian teman Indonesia dan berkeinginan mengundang saya ke Patani, sekilas dalam benak saya terlintas gambaran almarhum Pak Teguh Santoso, komikus besar Indonesia asal Malang. Yang saya ingat saat itu, komik trilogi beliau: Sandhora, Mat Roman, Mencari Mayat Mat Pelor yang saya baca 1973-1974 saat saya duduk di bangku SMP.

Islam di ThailandKomik berlatar sejarah Portugis di Malaka beserta pengaruhnya pada awal abad 15 itu benar-benar mengobsesi saya, terutama gagasan tentang bagaimana tokoh-tokoh pribumi seperti Mat Pelor memiliki gagasan luar biasa “membuat terusan di semenanjung Kra, yaitu bagian terpendek dari Semenanjung Malaya, yang menghubungkan Laut Andaman dan Selat Malaka dengan Teluk Siam dan Laut Cina Selatan. Dengan terbentuknya Terusan Kra, dipastikan bandar Malaka yang dikuasai Portugis bakal bangkrut karena tidak lagi dilewati kapal-kapal yang berlayar dari selatan ke utara. Tidak perlu lagi jalan memutar ke selatan dan timur yang jauh hingga melewati Tumasik, tetapi cukup melewati Kra dengan berlabuh di kota Songkhla.

Gagasan membuat terusan Kra itu membuat saya penasaran, sehingga saya berusaha mencari peta bumi Semenanjung Malaya untuk tahu apa yang disebut Kra itu. Setelah dapat peta, saya kagum sekali dengan gagasan brilian itu. untuk ukuran pikiran saya yang masih anak-anak, gagasan itu sangat menakjubkan. Bahkan sampai sekarang, gagasan itu sering mengobsesi saya terutama saat negara kita berurusan dengan Singapura dan Malaysia. Maksudnya, jika Terusan Kra itu dapat diwujudkan, dipastikan Malaysia dan Singapura, akan kelimpungan dan bangkrut dalam tempo singkat.

Atas alasan itu, saya sudah menyiapkan bahan jika waktu menyampaikan “pengajian” di Patani telah pasti jadwal tanggal, hari dan bulannya. Pertama-tama, saya akan sampaikan agar kaum muslim di Patani tidak terprovokasi gerakan Wahabi-Hizbut Tahrir yang berusaha keras menegakkan Negara Islam alias Khilafah Islamiyyah. Pasalnya, itu ide, konsep, gagasan, dan impian yang selalu gagal diwujudkan dalam kenyataan tetapi telah menimbulkan korban besar bagi pengembangan umat Islam. Kasus Chechnya, Rohingya, Thaliban, Al-Qaedah, ISIS adalah fakta tak tersanggah dari kegagalan mewujudkan mimpi dengan korban sangat besar.

Untuk itu, yang paling fundamental harus disiapkan umat Islam di Patani, di Thailanad selatan, adalah bagaimana mereka menghadapi perkembangan dari realita sosial menghadapi masa depan yang riil. Maksudnya, di tengah era MEA dengan aturan-aturan perniagaan bebas -terutama menghadapi kemungkinan dibukanya Terusan kra dalam tempo dekat- sudah adakah persiapan dari muslim Patani untuk menghadapinya? Siapkah Muslim Patani menghadapi perubahan ekstrim dengan mengalir derasnya armada-armada dagang dari berbagai negara ke wilayah mereka? Kita tidak berharap, Muslim Patani tidak tersingkir dari perubahan peta perniagaan dunia hanya gara-gara terjebak pada fanatisme semu yang disebar-luaskan golongan Islam trans-nasional yang sejatinya tidak menginginkan perbaikan atas nasib umat Islam minoritas. Umat Islam Patani juga tidak boleh mengikuti jejak orang-orang Indonesia yang sedikit pun tidak memiliki kepekaan terhadap perubahan, terutama bagi dibukanya Terusan Kra di Thailand Selatan. Sebab, orang-orang muslim Indonesia sibuk mencari nafkah di berbagai negeri tanpa sedikit pun diurusi oleh pemerintah berkuasa yang oknum-oknumnya sibuk memperkaya diri.

Lepas dari dapat diwujudkannya gagasan pembuatan Terusan Kra di Thailand selatan dalam tempo cepat, rasanya umat Islam di Patani di Thailand selatan dan juga di Indonesia sudah waktunya membincang fenomena perkembangan tatanan dunia dengan kemungkinan terwujudnya gagasan Terusan Kra dalam waktu dekat. Itu artinya, sudah saatnya dipertimbangkan pembangunan sarana dan prasarana pelabuhan berskala internasional di Sabang, yang justru akan menjadi satu-satunya gerbang utama dari Terusan Kra di bagian selatan. (ISNU)

Sumber: Akun Facebook Lesbumi

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: