KH Agus Sunyoto: Salah Kaprah Pahami Sufisme

06 Maret 2016,

MALANG, ISLAMNUSANTARA.COM – Dewasa ini, mayoritas manusia terjebak pada pola pikir linier bersifat dogmatic-doktriner, tanpa ada sedikit pun daya nalar yang kritis, sehingga tidak realistis dalam memandang dunia sebagai fakta. Manusia sering menganut pola pikir doktriner-imajinatif sebagai bentuk pelarian diri dari realitas yang seringkali tak sesuai dengan yang diharapkan. Dengan memanjakan diri, malas, mengumbar nafsu, memburu kesenangan, dan bersikap hedonis banyak manusia yang terjebak ke dalam angan-angan kosong yang berkelanjutan bahkan dalam situasi dan kondisi yang membutuhkan suatu tindakan kongkret.

“Bangsa kita terancam bahaya kehancuran sewaktu terjebak ke dalam alur berpikir linier, mono-interpretasi, textbook thinking, dan doktriner,” ungkap KH Agus Sunyoto dalam ngaji rutinnya di Pesantren Global Tarbiyatul Arifin. Setelah mengurai secara definitif apa yang dimaksud berpikir linier, dogmatik-doktriner, mono-interpretatif, dan textbook thinking, KH Agus Sunyoto yang akrab disebut Romo memberikan contoh-contoh pemikiran yang dianggapnya naif dan primitif tersebut.

Pertama, Romo menceritakan seorang pasien pergi ke dokter, lalu pasien itu diberi satu botol obat oleh dokter dengan penjelasan, “Nanti gunakan obat ini sesuai petunjuknya ya Pak! Tiga hari jika sakit tidak berkurang, silahkan bapak kembali lagi untuk saya periksa ulang.” Pasien pergi dengan membawa obat dari dokter. Tiga hari kemudian, pasien kembali lagi dengan keluhan, “Saya masih sakit dokter, padahal saya sudah mengikuti petunjuk penggunaan obat dok. Entah kenapa saya belum sembuh, bahkan sakit saya rasanya bertambah-tambah,” ungkap pasien bersungut-sungut setengah dongkol. “Apakah obatnya sudah diminum sesuai petunjuk?” tanya dokter serius. “Apa, obat itu diminum?” sahut pasien terkejut,” Sesuai pesan dokter, saya mengikuti petunjuk yang ada pada botol obat itu: Tutup rapat-rapat. Simpan di tempat yang sejuk. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Saya sudah menyimpan obat itu di lemari pakaian dok.” “Jadi obat tidak diminum ya pak?” ujar dokter sambil ketawa geli mengetahui logika berpikir pasiennya.

Kedua, seorang anak usia 8 tahun diajak ibunya ke dokter gigi untuk periksa giginya yang akan tanggal. Pada saat antri di ruang tunggu, seorang pemuda bermata juling masuk ruang tunggu dan duduk di bangku di depan anak itu. Setelah lama mengamati pemuda itu dengan seksama, anak kecil itu berdiri dan melangkah mendekati pemuda itu sambil berkata, “Mas, mas, kakak saya, Mas Tono, matanya bisa dibuat juling-julingan seperti mata mas. Tapi julingnya Mas Tono tidak lama. Bagaimana sampeyan bisa juling-julingan lama sekali. Sampeyan latihan di mana mas?” Ibu anak kecil itu dengan malu menarik tangan anaknya dan memarahinya. Ketiga, seorang laki-laki setengah baya mendekati seorang laki-laki seusianya yang tengah menghisap rokok tiada henti. Karena merasa terganggu, ia menegur, “Mas ini perokok berat ya, dari tadi saya lihat kok tidak berhenti merokok.” Tersinggung ditegur oleh orang tidak dikenal, laki-laki perokok itu menyahut, “Memang kenapa kalau saya ngrokok, apa jadi masalah Anda?” “O tidak apa-apa. Cuma kalau dipikir-pikir, sekarang umur Anda berapa sekarang?” “Bulan depan pas 56 tahun, ” jawab laki-laki perokok itu spontan. “Anda mulai merokok usia berapa?” tanya laki-laki itu ingin tahu. “16 tahun,” sahut laki-laki perokok itu kurng senang,”Memang kenapa?” “Coba dihitung usia Anda 56 tahun dikurangi 16 tahun adalah 40 tahun. Artinya, selama 40 tahun Anda membakar uang lewat rokok. Coba dihitung, sehari berapa banyak uang yang Anda bakar? Coba dihitung, jika uang yang Anda bakar selama 40 tahun itu dikumpulkan, pasti Anda sekarang ini sudah punya hotel.” Setelah berpikir sejenak, lelaki perokok itu balik bertanya,”Umur Anda sekarang ini berapa?” “Umur saya sekarang 60 tahun,” sahut laki-laki itu serius,”Lebih tua 4 tahun dari Anda.” “Anda tidak merokok selama 60 tahyun itu?” tanya laki-laki perokok itu penasaran. “Tentu tidak,” sahut laki-laki itu bangga. “Anda sudah punya hotel?” “TIDAK!” sahut laki-laki itu sebal sambil meninggalkan laki-laki perokok itu dengan wajah kecut. Keempat, seorang laki-laki memesan kopi hitam panas di warung kopi. Begitu kopi panas disuguhkan, ia memasukkan sebutir obat ke dalam kopi. Seorang anak yang duduk di sampingnya dengan heran bertanya, “Apa yang sampeyan masukkan ke dalam kopi itu pak?” “Obat Paracetamol,” jawab laki-laki itu enteng. “Lho kenapa dimasukin paracetamol pak?” tanya si kecil penasaran. “Biar cepat dingin, dik,” sahut laki-laki itu tenang,”Paracetamol kan obat penurun panas. Biar kopinya cepat dingin dimasukin paracetamol,” papar laki-laki paruh baya itu disambut tawa geli si anak. Masih banyak lagi contoh-contoh dari pola berpikir linier, mono-interpretatif, textbook thinking bersifat dogmatic-doktriner yang naif masih digunakan masyarakat kita. Itu menyebabkan saudara sebangsa kita mudah ditipu karena tidak biasa berpikir kritis, analitis, inovatif, dan kreatif sehingga saat menghadapi permasalahan hidup yang cukup berat banyak sekali yang mengandalkan angan-angan kosong, harapan hampa, logika naif untuk menghadapinya.

Dalam sebuah kasus misalnya, lanjut Romo, seorang perempuan yang telah berkeluarga pernah bercerita tentang sikap suaminya yang dirasa kurang realistis, naif, spekulatif, imajinatif, dan tidak proporsional dalam berpikir menghadapi problematika kehidupan berumah tangga. Sang suami dengan logikanya yang naif, mengajak istrinya untuk bersedia ikhlas hidup menderita dalam kekurangan dengan alasan tirakat. Salah satu teladan hidup yang diajukan sang suami sebagai panutan adalah tokoh legenda Syekh Siti Jenar yang hidup sederhana penuh kekurangan dan keterbatasan tetapi terus bersemangat tinggi dalam menyebarkan dakwah Islam.

Pandangan suami itu, menurut Romo, sangat tidak realistis dan ahistoris. Sebab Syeikh Siti Jenar sebagai pengamal sufisme sengaja memilih hidup sederhana bukan karena dia miskin. Ayah angkat Syekh Siti Jenar, lanjut Romo, adalah Prabu Cakrabuana Raja Cirebon yang memberinya kekayaan berlimpah berupa tanah yang luas. Namun karena jalan sufi yang ditempuhnya menuntut pelepasan semua hal yang bukan Allah, maka Syekh Siti Jenar memilih untuk meninggalkan kehidupan yang bergelimang harta dan hidup dalam kesederhanaandan kekurangan dengan membagi-bagi tanah dan harta kekayaan yang dimilikinya kepada mereka yang membutuhkan. Tindakan serupa, lanjut Romo, dilakukan pula oleh Sunan Kalijaga yang putera Bupati Tuban dan mertua Sultan Trenggana serta mertua Raja Pengging Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging. Beliau sengaja hidup dalam kezuhudan karena mengikuti ajaran sufisme yang meneladani kehidupan Rasulullah Saw yang senantiasa berdoa: “Allahumma ahyiini miskinan wa amiitni miskiinan watsurni zumrotil masakiin!” Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang sangat kaya. Pada awal penyebaran Islam, beliau menebus budak bernama Bilal bin Rabbah seharga 4000 dirham uang emas, yang jika mengikuti kurs uang rupiah sekarang senilai 8 miliar. Bahkan saat pembentukan Baitul Maal untuk perjuangan Islam, Abu Bakar Ash-Shiddiq menghibahkan seluruh hartanya. Khalifah Umar Bin Khatthab, Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, sahabat Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, adalah orang-orang yang memiliki kekayaan berlimpah tetapi sengaja hidup sederhana dan diketahui suka sekali membagi-bagi kekayaannya kepada fakir yang membutuhkan. Bahkan Rasulullah Saw sendiri adalah orang kaya awalnya, dimana saat meminang Khadijah r.a dengan mahar 20 ekor unta, “Kalau ikut kurs uang sekarang nilai 20 ekor unta itu sama dengan Rp 400 juta. Jadi jangan dikira Rasulullah Saw yang hidup sederhana itu orang miskin sejak awal,” papar Romo menasihati para mantri.

Dewasa ini, menurut Romo, banyak pemalas yang berstatus pengangguran dan suka berkhayal yang menggunakan alasan laku sufi untuk membenarkan kemiskinan akan harta yang membelitnya. Akibatnya, lanjut Romo, tanggung jawabnya terhadap keluarga jadi terabaikan. Semua kekurangan yang dialaminya, dibenarkan oleh alasan sufistik yang sebenarnya mengada-ada. Oleh karena itu, lanjut Romo, jika seseorang beriman masih dalam keadaan miskin harta, jangan hanya berangan-angan dan mengharapkan sesuatu yang diimpikan jatuh secara tiba-tiba dari langit. “Bekerja itu wajib bagi siapa saja. Gunakan akal sehat dan logika berpikir yang benar! Jangan sok sufi padahal sejatinya orang pemalas yang benar-benar hidup melarat akibat tidak mau bekerja!” kata Romo menutup pengajian dengan mengutip hadits, kaadal faqro ayyakuuna kufro -kemiskinan itu dekat kepada kekafiran-. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: