Khalid Bin Abdul Aziz: Radikalisme dan Ekstrimisme Bukan Ajaran Islam

Sabtu, 06 Mei 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Ekstrimisme dan radikalisme bukan ajaran Islam. Hal ini disampaikan Pangeran Kerajaan Arab Saudi, Khalid Bin Abdul Aziz, saat berpidato di hadapan Presiden Joko Widodo dan peserta Musabaqah Hafalan Alquran dan Hadis Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’ud Tingkat ASEAN dan Pasifik ke-8 Tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (04/05).

Dikutip dari rilis biro pers istana negara, Pangeran Khalid yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Sosial Pangeran Sultan Kerajaan Arab Saudi dalam pidatonya mengangkat fenomena terorisme dan radikalisme.

“Saya berbicara di sini tidak cukup kalau saya tidak menyebutkan apa yang sedang diderita oleh bangsa dan umat kita. Yakni adanya pemikiran-pemikiran ekstrem, adanya terorisme, khususnya membawa nama Islam. Padahal Islam bebas atau tidak mengenal hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Pangeran Khalid mengaku heran dengan banyaknya dukungan terhadap aksi terorisme. Dukungan itu bahkan datang dari berbagai kalangan, baik kaum berpunya, berpendidikan, sampai pada orang-orang yang secara geografis berjauhan.

“Kita menyaksikan negara yang menentang terorisme secara terang-terangan, tapi secara diam-diam negara itu justru mendukung. Saya heran ada orang yang tinggal di negaranya, dibesarkan di negaranya, tapi dia sendiri yang menghancurkan negaranya sendiri,” ia menjelaskan.

Sejak tahun 2009, Pangeran Khalid telah melakukan kajian dan menuangkan pemikirannya mengenai kelompok teroris. Dirinya menulis tentang golongan-golongan teroris serta bagaimana menghadapi mereka.

“Teroris terdiri dari 6 partisipan. Pertama adalah intelektual teroris, kedua perencana teroris, ketiga pemberi dana, keempat provokator teroris, kelima para loyalis dan pendukung teroris, dan keenam para eksekutor teroris,” tuturnya.

Mereka yang meledakkan dirinya dengan remote control atau menjadi eksekutor dalam suatu gerakan yang menyesatkan ini, mereka semua itu adalah para teroris, sambungnya. Menurut Pangeran Khalid, para eksekutor melakukan kesalahan dan tindak kriminal dengan peralatan yang didukung kelima elemen lainnya.

Pangeran Khalid menyebut kebodohan sebagai salah satu faktor penyebaran terorisme dan ekstremisme. Menurutnya, Islam dituduh sebagai teroris bukan karena Barat tidak memahami Islam dan kaum muslimin. Justru kaum muslimin sendiri yang tidak memahami Islam. Kaum muslimin sendiri yang jauh dari agamanya. Mereka yang merusak agamanya sendiri,” ujarnya.

Pangeran Khalid menegaskan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran. “Ulama-ulama mengatakan, dalam memerintahkan yang baik harus dengan ilmu yang arif. Demikian pula dengan melarang kemungkaran, juga dengan ilmu yang arif serta dengan akhlak serta keluwesan,” tandasnya. (ISNU)

Sumber: Kemenag

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: