Kiai Said: Kiai Tempo Dulu Melestarikan Budaya Tahlilan untuk Menguatkan Islam

Minggu, 12 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Yogyakarta – Acara puncak Haul al-Maghfurllah KH. M. Moenawwir bin Abdullah Rosyad ke-78 serta para Masyayikh dan Dzuriyyah Pondok Pesantren al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta, Kamis (09/03/2017) malam, dihadiri oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. Said Aqil Siroj, MA.

Di tengah gempuran kelompok tertentu yang memvonis bid’ah, dhalal finnar, NU masih terus meyakini kebenaran ajaran haul warisan para kiai terdahulu.

“Alhamdulillah kita masih terus mengadakan peringatan wafatnya para ulama dan awliya’,” kata Kiai Said Aqil.

Menurut Kiai Said Aqil, para kiai tempo dulu melestarikan tahlil, selametan, dan lainnya itu untuk mempertahankan budaya dan menguatkan Islam.

“Mbah Moenawwir, Mbah Ali Maksum, Mbah Zainal dan yang lain itu telah menguatkan Islam dengan menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama,” urai Kiai Said Aqil.

Kiai Said menambahkan, Islam bukan hanya persoalan syari’ah dan akidah, namun juga agama, kebudayaan dan peradaban.

“Islam juga membangun karakter, akhlakul karimah dan masyarakat yang maju,” kata Kiai Said Aqil.

Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah karena ingin membangun budaya, menguatkan tanah airnya. “Di atas tanah air yang kuat itulah Rasulullah menyebarkan Islam ke seluruh dunia,” kata alumni Krapyak tersebut.

Puncak haul para masyayikh Pesantren Krapyak ini sebelumnya diramaikan dengan acara seminar “Penguatan Ekonomi dan Usaha Pesantren”, kompetisi esai, Istima’il Qur’an di 14 majelis dan Takhtim al-Qur’an di Maqbaroh Dongkelan (ISNU)

Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: