Kiai Sholeh Darat dan Pendidikan Anti Kolonialisme

Kamis, 02 November 2017

ISLAMNUSANTARA.COM –  Kenalkah Anda dengan Kiai Muhammad Soleh bin Umar as-Samarani (1820-1903 M)? Tahukah Anda apa sumbangan terbesar Maha-guru Ulama Jawa ini bagi warga bangsa Indonesia? Bagi penulis jawabannya adalah pemikirannya tentang anti-kolonialisme. Dilahirkan di keluarga pendukung Pangeran Diponegoro, dan selalu dalam lingkungan yang demikian, menjadi fondasi bagi Kiai Soleh Darat untuk mengembangkan pandangan anti-kolonialisme Belanda hampir di semua karyanya.Pendidikan Anti-Kolonialismeala Kiai Sholeh Darat

Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830), para kiai pada masa itu menarik diri dari perang fisik dan kembali ke peperangan gagasan dan pemikiran (war of ideas). Sikap ini juga menjadikan fokus ulama kembali untuk meningkatkan pemahaman keislaman di antara masyarakat umum. Agenda perlawanan terhadap Hindia-Belanda yang terus-menerus berusaha memisahkan masyarakat dari agama mereka dilawan dengan menyadarkan masyarakat akan pentingnya ajaran agama bagi kehidupan mereka. Kiai Sholeh Darat adalah termasuk yang ikut menjadi pelaku utama dalam perang ide dan kebudayaan ini.

Cara pertama yang dilakukan Kiai Sholeh adalah dengan mempropagandakan kembali konsep pembeda antara penindas dan yang ditindas. Merujuk kepada sebuah hadits Nabi Muhammad, Kiai Sholeh mendeklarasikan keharaman bagi kaum Muslim meniru cara berpakaian orang Eropa (baca Belanda). Beliau berkata, “Beberapa‘ulama al-muḥaqqiqīn menyebutkan bahwa barangsiapa berpakaian selain dengan pakaian yang biasa dikenakan kaum Muslim seperti jas, topi, dan dasi, maka ia dinilai sebagai murtad.” Bahkan bukan hanya dalam berpakaian, kaum Muslim juga dilarang meniru segala tingkah laku yang khusus dilakukan di Budaya Barat (Salim, 1994:24-6). Sikap ini diikuti oleh muridnya, KHR. Asnawi Kudus yang suatu ketika dengan sangat marah menarik dasi yang dikenakan oleh seseorang di pertemuan nasional Ansor (Mas’ud, 2006:218).

Usaha lain dari Kiai Sholeh adalah dengan menjauhkan kaum Muslim dari menjalin hubungan sebagai bawahan dengan Kolonial-Belanda. Kiai Sholeh sebagaimana tertuang dalam karyanya Minhāj al-Atqiyā’ (Sholeh, 1325:67) menetapkan bahwa seorang santri yang menjadi pegawai pemerintah Belanda sama dengan menjadi “pembantu berlangsungnya pemerintahan yang zalim” (khādim al-ẓulmah), dan hal itu merupakan suatu dosa besar. Dalam rangka mencegah santrinya menjadi pembantu di pemerintahan Hindia-Belanda, beliau menyatakan bahwa haram bagi ulamamengajarkan santri yang secara terang-terangan berniat dengan ilmu fiqih yang didapatkannya untuk menjadiseorang penghulu di pengadilan agama di pemerintahan Kolonial-Belanda. Beliau menilai tujuan duniawi ini bertentangan dengan tujuan yang diajarkanolehagama Islam dan semangat memerdekakan warga pribumi yang beliau rintis.

Selain itu, Kiai Sholeh juga berusaha sekuat tenaga membentengi kaum wanita dari perilaku keji dan amoral yang ditunjukkan banyak dari orang Eropa di Jawa ketika itu. Misalnya, dalam sebuah makalah Ricklef (2009:113) yang mengutip G. Bruckner menjelaskan bahwa sebagian alasan dari munculnya sikap keras dari kaum Muslim di Semarang terhadap orang Eropa adalah sikap immoral mereka. Contoh lainnya, dalam suratnya, Raden Adjeng Kartini mendeskripsikan kebiasaan tak beretika yang terjadi di antara wanita pribumi dengan laki-laki Eropa, termasuk meminum arak. Dalam konteks ini, Suhandjati (2010:55-6) menyimpulkan bahwa untuk menghindari dampak budaya “baru”ini di masyarakat umum, Kiai Sholeh memerintahkan orang tua tidak mengajari putri mereka menulis dengan aksara Latin, yang sangat mungkin akan menjadi media berkomunikasi orang-orang Eropa dengan warga pribumi (Sholeh, tt:178).

Bahkan Kiai Sholeh juga dikabarkan ikut mengusahakan intervensi politik dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Pada tahun 1883, Konsul Belanda di Jeddah mengabarkan bahwa seorang bernama Sholeh dari Semarang meminta Kekhalifahan Turki Utsmani untuk melawan Hindia-Belandadi Jawa (Bruinessen, 1998).

Kesimpulan yang dapat kita tarik di sini adalah pandangan anti-Belanda yang Kiai Sholeh kembangkan didasarkan murni pada kajiannya yang mendalam di bidang ilmu Fikih. Metode tersebut sangat terikat kuat dengan konteks masyarakat tempat pandangan itu lahir, sehingga kondisi sosial masyarakat menjadi konsideran utama, misalnya penggunaan aksara Latin di masyarakat ketika itu. Dengan bersandar pada fondasi yang demikian, dalam kondisi masyarakat yang berbeda, maka hasil kesimpulan hukum dapat berubah. Misalnya, KHR. Asnawi memberikan padangan baru di masa kemerdekaan dengan mengizinkan kaum Muslim memakai jas dan dasi karena mengikuti teladan dari Kiai Abdul Wahid Hasyim, Menteri Agama Republik Indonesia pertama (Mas’ud, 2006:218).

Selain itu, pemikiran anti-kolonialisme dari Kiai Sholeh pada akhirnya berhasil menumbuhkan semangat nasionalisme kepada murid-muridnya. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya salah satu muridnya, Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari, dalam menggelorakan cinta tanah air di hati sanubari para santri dan Muslimin pada umumnya. Dengan jejak pemikiran yang demikian, maka wajarlah sebagian pecintanya mengusahakan Kiai Sholeh untuk diakui sebagai pahlawan bangsa ini, Bukan?  (ISNU)

Ditulis oleh Nur Ahmad, santri Pondok Pesantren al-Itqon, Bugen, Semarang dan Alumni Miftahul Ulum, Ngemplak, Demak.

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: