Kiai Subchi, Guru Besar Jenderal Soedirman Nan Rendah Hati

Rabu, 18 Mei 2016

ISLAMNUSANTARA.COM  – Menarik mencermati fenomena pemuka agama (baca Kyai atau Ustadz) di negeri ini. Beberapa dari mereka mendapat kritik pedas akibat pasang harga tinggi untuk sekali ceramah. Lebih aneh lagi ada yang masih baru memahami ilmu agama dan beratribut ke arab-araban  tapi merasa paling benar. Sibuk menyalahkan dan mengkafirkan yang lain.

Sebuah teladan bisa diambil dari kisah hidup Kiai Subchi asal Parakan, Temanggung Jawa Tengah. Ulama besar ini dikenal rendah hati dan sangat dekat dengan rakyat kecil.

Seringkali ia membagikan hasil panennya untuk rakyat miskin. Bahkan, Kiai Subchi juga mengizinkan tanahnya digarap orang-orang yang tidak memiliki lahan.

“Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani rakyat dan memiliki kharisma kuat,” demikian tulis Munawir Aziz dalam buku Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional.

Jasa-jasa Kiai Subchi selama revolusi kemerdekaan sangat besar. Dialah yang menggelorakan semangat para santri dan pemuda di Temanggung dan sekitarnya untuk mengusir Belanda yang hendak menguasai Indonesia untuk kali kedua. Dia pula satu-satunya  ulama yang dipanggil dengan sebutan ‘Kiai Bambu Runcing’.

Dia meminta para pemuda mengumpulkan bambu yang ujungnya diruncingkan. Kemudian diberi asma dan doa khusus. Bambu runcing inilah yang kemudian dikenal sebagai simbol perjuangan melawan penjajah.

Panglima TNI Jenderal Soedirman adalah salah satu dari beberapa tokoh besar yang menganggap Kiai Subchi sebagai guru. Soedirman meminta nasihat dan doa dari Sang Kiai sebelum bertempur di Palagan Ambarawa. Sosok Pak Dirman memang dikenal dekat dengan para ulama dan santri.

Semakin hari, semakin banyak pejuang yang datang untuk meminta nasihat dan doa dari Kiai Subchi. Ulama besar yang dikenal rendah hati ini menangis haru melihat itu semua. Dia merasa tak layak diperlakukan seperti itu. Melihat sikap tawadhu itu Panglima Hizbullah, Kiai Zainul Arifin sampai bergetar hatinya.

Kiai Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, meminta Kiai Subchi terus menyemangati para pemuda. Sambil menguatkan hati Kiai Subchi ia sampaikan apa yang dilakukannya sudah benar.

Kiai Subchi wafat tahun 1959 dalam usia 109 tahun. Semoga sikap nasionalisme dan rendah hati ulama besar ini selalu diteladani oleh generasi muda. (IslamNusantara/Merdeka.com)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: