Kisah Nyata Keajaiban Tawassul dan Ziarah Makam Wali

Selasa, 03 April 2018

ISLAMNUSANTARA.COM – Dulu, Aku mengajar Kitab Hikam Ibnu Athoillah di masjid Jami’ Al-Iman setiap malam Senin. Ketika sampai pada hikmah ke 75 yang berbunyi ماالعارف إذا أشار وجد الحق أقرب إليه من إشارته

Tiba-tiba fikiranku buntu. Aku sama sekali tak bisa memahami maksud dari hikmah itu meski aku sudah mengangan-angankan maknanya berkali-kali.

Akhirnya aku meminta maaf kepada jama’ah yang hadir dan mengatakan bahwa kalam yang satu ini sepertinya memang berada di atas level akal pikiran kita, dan akupun beranjak menjelaskan hikmah setelahnya.

2 bulan setelah itu, ketika menulis Syarah Kitab Hikam ini aku kembali sampai pada hikmah yang sama. Dan.. lagi-lagi aku menemukan jalan buntu. Aku sama sekali masih belum bisa mengerti maksud dari ‘Dawuh’ Ibnu Athoillah ini.

Kala itu.. tanpa diduga aku diundang untuk menghadiri Mu’tamar Ulama di Kairo. Selama di sana, aku gunakan waktu luangku untuk berziarah ke makam-makam awliya’ seperti Imam Syafi’i, Izz Bin Abdissalam, Ibnu Daqiqil Id, Ibnul Faridh, dan Ibnu Athoillah Assakandary.

Ketika berziarah ke makam Ibnu Athoillah, aku duduk bersimpuh di hadapannya dan membaca Al-Qu’ran. Lantas aku berdoa dengan doa yang telah Allah ilhamkan padaku:

“Ya Allah.. engkau tahu bahwa aku tidak mampu memahami hikmah yang ingin aku tulis dan jelaskan di waktu itu.. maka aku meminta padamu Ya Allah, dengan barokah Wali yang mana aku ada di hadapannya sekarang, Ibnu Athoillah pemilik Hikam itu. Berikanlah aku petunjuk agar aku bisa memahami apa yang ia maksud dari kalamnya itu… “

Aku kembali ke Damaskus. Di hari kedua aku kembali meneruskan penulisan Syarah Hikam dan kembali berusaha memahami hikmah yang tempo hari sama sekali tak bisa kupahami.

Dan ajaib.. tiba-tiba saja aku seakan-akan ada di hadapan makna-makna ajaib yang turun begitu deras menghujani pikiranku. Makna-makna yang siap untuk ditulis dan sama sekali tak pernah terlintas dalam fikiranku sebelumnya! Akhirnya dengan mudah aku menyelesaikan Syarah Hikmah itu pada malam itu juga. Dan aku bersaksi.. Aku bagaikan murid yang mendengar penjelasan langsung dari gurunya lantas kemudian menulis dan mencatat penjelasan itu!

(Pengalaman Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy yang beliau abadikan dalam Muqodimmah Syarh Hikamnya 2/5-6)

****

Makam Syaikh Abu Dzarrin, Winongan, Pasuruan. (Foto: Istimewa)

Saat itu Mbah Kholil Bangkalan masih muda, masih semangat-semangatnya mengaji dan menuntut ilmu. Di masa itu ia mendengar ada seorang Kiai Alim di daerah Winongan, Pasuruan, Kiai Abu Dzarrin namanya.

Tak menunggu lama, langsung saja ia menuju Pasuruan untuk berguru pada Sang kiai. Tak peduli meski harus menempuh jarak jauh yang tentunya membutuhkan waktu berhari-hari.

Sesampainya di Winongan, ia disambut oleh kabar buruk, ternyata Kiai Abu Dzarrin sudah wafat beberapa hari sebelum kedatangannya. Mbah Kholil muda menangis.. Hancur sudah harapannya untuk menimba ilmu dari Kiai Abu Dzarrin.

Akhirnya ia berziarah ke makam beliau, mengucap salam lantas berkata:

“Bagaimana saya ini Kiai? saya ingin sekali berguru kepada Kiai tapi sekarang Kiai sudah meninggal.. “

Kemudian Mbah Kholil duduk di makam Kiai Abu Dzarrin selama 41 hari. Membaca Al-Quran dan bertawassul kepada ‘calon’ gurunya itu.

Berkat ketulusan dan keikhlasannya, di hari terakhir beliau tertidur dan bermimpi.. Dalam mimpinya ia bertemu dengan sosok lelaki berjubah putih yang mengenalkan dirinya sebagai Kiai Abu Dzarrin.

Dalam mimpi itu Beliau mengajari Kiai Kholil beberapa kitab dalam Fan Nahwu. Ajaibnya.. ketika bangun, maklumat-maklumat yang tadi ia dengar dari alam mimpi, masih melekat dalam ingatannya..! Konon kitab yang diajarkan Kiai Abu Dzarrin dalam mimpi Kiai Kholil itu adalah Jurumiah, Alfiah dan Imrithy.

Sampai sekarang ‘kejadian’ ini masih tercatat di makam Syaikh Abu Dzarrin. Di kain kelambu makamnya tertulis :

هذا قبر المرحوم الشيخ أبو ذر ولي الله نال العلم اللدني المرحوم شيخنا محمد خليل بن

عبد اللطيف دمعان بنكلان ولي الله بسبب الاعتكاف في هذا المحل

“Ini adalah makam Syaikh Abu Dzarrin waliyullah. Telah mendapat Ilmu ladunni Syaikhuna Kholil Bin Abdullathif Demangan Bangkalan Waliyullah karena ‘beri’tikaf’ di tempat ini.. “

Tiba-tiba ada abang Wahhabi yang nyeletuk :

“Ah itu kan Syaikh Buthy sama Mbah Kholil ulama baru-baru ini, sedangkan ulama-ulama salaf gak ada yang melakukan itu. Berdoa di kuburan itu bid’ah.. syirik !”

“Kamu sak ulama-ulamakmu itu apakah lebih salaf dibanding Imam Syafi’i ??”

Buka Tarikh Baghdad juz 1 halaman 123, di situ tercatat pengakuan Imam Syafi’i :

إني لأتبرك بأبي حنيفة و أجيء إلى قبره في كل يوم يعني زائرا فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين و جئت إلى قبره و سألت الله تعالى الحاجة عنده فماتبعد عني حتى تقضى

“Aku selalu ‘ngalap’ berkah dari Imam Hanafi dan berziarah ke Makamnya setiap hari. Setiap aku memiliki hajat aku sholat 2 raka’at lantas mendatangi makam Imam Hanafi dan berdoa kepada Allah disana. Tak berselang lama hajat itu dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.. “

Mari kita bertawassul dengan Barokah Mbah Kholil, Syaikh Buthy, Syaikh Abu Dzarrin, Ibnu Athoillah dan poro ulama lainnya.. Semoga hajat-hajat kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala… (Wahhabi dilarang ngamini… :)). (ISNU)

Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan