KKN Mahasiswa STIQNIS Usung Misi Perangi Radikalisme

Jum’at, 05 Januari 2018
ISLAMNUSANTARA.COM, Sumenep – Radikalisme yang kini mudah merebak di semua lapisan masyarakat dan wilayah pelosok sekalipun menjadi atensi besar bagi Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Nurul Islam (STIQNIS). Meski lokasinya berada di pelosok desa di wilayah kecamatan Bluto Sumenep Jawa Timur, namun spiritnya tetap tinggi dalam ikut berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Caranya adalah dengan menerjunkan 60 mahasiswa dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) di dua lokasi, yakni Kecamatan Batang Batang dan Kecamatan Rubaru. Untuk putra terbagi di tiga lokasi yakni Desa Batang Batang Daya, Desa Batang Batang Laok, dan Desa Totosan. Sedangkan untuk putri disebar di dua desa yaitu Desa Pakondang dan Desa Banasare.

Pembukaan acara ini dihadiri Forpimka, Kepala Kantor Urusan Aagama (KUA), Pengurus Anak Cabang Nahdlatul Ulama (PACNU) Batang Batang dan beberapa kepaka desa di wilayah kecamatan Batang Batang.

Ketua STIQNIS Mujahid Ansori mengatakan, KKN ini adalah yang perdana bagi mahasiswa STIQNIS. Mereka adalah mahasiswa Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir yang berorientasi pada ilmu keislaman murni.

Menurut Mujahid, STIQNIS berusaha semaksimal mungkin mengkaji Al-Qur’an dan tafsir dengan kajian yang komprehensif dan dinamis serta ditopang dengan disiplin keilmuan lain sebagai suplemen pelengkapnya.

“Kajian distingtif keilmuan kami bertujuan mengeksplorasi kedalaman makna Al-Qur’an baik yang tersurat (tekstual) maupun yg tersirat (kontekstual) sehingga diharapkan lebih jauh ke depan dapat membantu menangkal isu radikalisme,” jelasnya.

Mujahid berpendapat, mereka yang menganggap kebenaran tunggal dalam tafsir Al-Qur’an disebabkan karena metodologi yang digunakan dalam memahami teks Al-Qur’an salah.

Ia Ansori menekankan, kampus yang dipimpinnya tersebut bisa mencerminkan dan menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin. Yakni dengan memberikan pemahaman kepada umat terkait dengan tafsir Al-Qur’an yang memberikan kesejukan, kedamaian kepada sesama.

“Pembelajaran di kampus merupakan bagian terkecil bagi mahasiswa (mikro-teaching). KKN merupakan bagian yang lebih besar lagi (makro-teaching), dimana teori yang diperoleh di kampus mampu dipraktikkan dalam masyarakat,“jelasnya.

Mujahid Ansori berharap mahasiswa STIQNIS bisa berkontribusi dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat karena orientasi KKN ini lebih banyak ke arah non fisik seperti keagamaan, pendidikan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan, bukan pada sektor pembangunan fisik infrastruktur desa. (ISNU)
Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: