Lesbumi: Kenapa Penting Peringati Maulid Nabi dan Haul?

Rabu, 14 Desember 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM, INDRAMAYU – Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kini tengah digelar hampir di seluruh pelosok desa negeri ini, sebuah ekspresi ummat atas cinta mereka pada nabi akhir zaman. Namun kerap kali ibadah khas Islam Indonesia tersebut dipandang sebagai tindakan syirik bahkan lebih keji dituduh yang melaksanakannya adalah kafir dan pantas masuk neraka.

Abdullah Wong

Dalam kesempatannya memberikan tausiyah di Al-hilal Desa Dukuh Jeruk Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu, Minggu (11/12) lalu, Pengurus Pusat Lesbumi PBNU Abdullah Imam dengan sangat apik membeberkan bagaimana substansi memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Pria yang akrab dengan sapaan Abdullah Wong itu menjelaskan, senada dengan maulid, ada amaliyah warga muslim nusantara berupa syukuran rutin setiap tahun dengan sebutan haul yang biasanya diperingati dengan tahlil dan tawasul.

Haul sangat penting menurut pria yang juga budayawan itu, karena diantara strategi bangsa-bangsa lain atau bangsa luar untuk menghancurkan negeri ini yang paling mudah adalah dengan melupakan asal-usulnya. Karena jika dihapuskan tanpa disadari akan melemahkan warga negara Indonesia dengan segala identitasnya.

“Bahkan Korea harus menyusun sejarah ulang bahwa masa dahulunya bangsa tersebut adalah kerajaan besar untuk kemudian dijadikan kebanggaan anak cucunya saat ini. Untuk itu, jika kita lupakan silsilah dan leluhur kita untuk menjadi uswah atau teladan, kita sudah tidak punya pegangan lagi,” terangnya.

Di kampung-kampung ada banyak sekali kiai, tapi tidak sedikit pun pernah tahu siapa silsilahnya dan keturunannya dan bagaimana perjuangannya dahulu sehingga muncul sosok yang kekiai-kiaian keustadz-utadzan dengan kursus jadi ustadz selama dua pekan saja, akan tetapi masyarakat menjadi gampang mengikutinya.

“Itulah akibat kita tidak mengetahui akar sejarah atau silsilah masyayikh atau guru-guru kita. Selain itu pentingnya haul adalah kita menghidupkan generasi di masa yang akan datang karena akan sangat tidak enak kita sebagai orang tua tidak dikenal oleh anaknya sendiri, teman atau sahabat tiba-tiba tidak dikenali sahabatnya sendiri saja akan sangat menjengkelkan rasanya,” bebernya.

Selanjutnya, pria berambut gondrong itu menyebutkan, terkait Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap tahun, adalah untuk mengingatkan seluruh umat Muslim akan kelahiran Nabi dan Rasul akhir zaman. Seperti peringatan kemerdekaan adalah sebuah cara untuk mengingat bagaimana perjuangan para pahlawan.

Begitu juga maulid Nabi, agar kita kembali diingatkan bagiamana perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, segala tindak-tanduk dan laku kita sebagai manusia bisa diperbaiki karena mengingat ada manusia agung yang dilahirkan membawa cahaya.

“Nabi adalah matahari. Nabi adalah rembulan yang menyinari bumi dengan hidayah, anta samsun anta badrun anta nurun fauqo nur. Apa peringatannya kepada kita, yaitu  kita harus tahu bagaimana ajarannya,” tuturnya.

Dengan cantik ia juga menganalogikan, diantaranya kenapa harus ada 4 kartu as jika ingin menang bermain kartu remi. Sama di dalam hidup kita juga, as yang pertama adalah asyhadu an la ilaha illallah waasyhadu anna muhammadan rasulullah. ‘Yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul. Syahadat tauhid adalah prinsip ajaran Islam yang dibawa sejak Nabi Adam As sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Mengamalkan perkara tauhid itu sulit. Orang yang ngaji tauhid menurutnya belum tentu amaliyahnya tauhid. Salah satunya adalah, kalau menyatakan pribadi sebagai manusia bertahid prinsipnya adalah kesadaran bahwa tiada tuhan kecuali Allah SWT.

‘Dalam surat Al-Fatihah dijelaskan dalam ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nastaínu. Padahal bisa saja redaksinya na’buduka wanastaínuka, tapi dari kalimat itu yang dispesialkan adalah kitanya. Sementara Allah SWT ingin memberitahukan bahwa hanya Dialah yang maha segalanya. Kalau na’buduka dan nasta’inuka bisa saja “ka”nya bukan Allah SWT.

Selanjutnya, segala tradisi yang baik harus dilestarikan, karena tradisi adalah segala macam laku manusia yang didalamnya muncul kesadaran pada sang pencipta atau kesadaran ilahiyah. ‘Prinsipnya tradisi adalah keluhuran,’ ucapnya.

Menurutnya, bahasa adalah produk budaya, sehingga menyampaikan artikulasi pesan-pesan agama dan tauhid juga bisa dengan menghormati tradisi budaya dan kearifan lokal di wilayahnya.

Untuk itu, rahmatan lilalaminnya rasulullah adalah kesadarnnya juga lokalitas, seperti kita lahir sebagai lelaki perempuan di Jawa, Sumatera, Bali, Brebes, Indramayu, Cirebon dan lainnya, itu semata-mata bukan keinginan pribadi sebagai manusia.

‘Itu artinya kita tidak perlu menjadi orang lain, seperti orang Indonesia harus mengikuti Arab, Jawa harus dipaksa mengikuti Sunda dan lainnya. Biarkan kekayaan yang ada menjadi dirinya. Abadi menjadi Indramayu, menjadi Cirebon menjadi Brebes dengan segala kekayaan tradisi dan budayanya.

Begitu juga menurut Wong, ada keturun Cina, Arab dan yang lainnya di Indonesia. Ia berpesan jangan menjadikannya sebagai ajang atau alat melakukan permusuhan diantara satu dengan yang lainnya.

“Jangan-jangan Allah SWT sedang memberitahukan kepada kita bahwa kita akan mengetahui diri sendiri dengan dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan atau di desa dan wilayah tertentu karena itu kenali dirimu maka kamu akan mengenal tuhanmu,’ kata dia.

Melihat peradaban Indonesia jangan hanya melulu bicara aspek politik sosial dan budayanya saja akan tetapi juga harus mengakui keanekaragamannya dan letak geografisnya juga. Untuk itu jika ingin mengatahui Indonesia secara utuh janganlah bicara ansih menyebut budaya Indonesia saja akan tetapi berbanggalah menjadi dan menyebut dimana pribadi warga Negara dilahirkan secara lokal.

Rasulullah lahir di mekah, maka kesadarannya adalah kesadaran mekah, ia tidak akan mengadopsi daerah yang lain. Untuk itu mencintailah sesamanya seperti Rasulullah Muhammad SAW mencintai siapa pun.

Di akhir ia menyebutkan In kuntum tuhibbuunallaha fattabiuni yukhbibkumullah, jika kita semua cinta kepada Allah SWT maka cintalah kepada rosul atau ikutilah apa yang dilakukan kanjeng Nabi Muhammad SAW. (ISNU)

Sumber: NU.or.id

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: