Lima Karakter Gemilang Dakwah Walisongo

13 Februari 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM – Dakwah dalam Islam haruslah dilakukan cara yang santun dan baik. Al Qur’an memberi tiga jalan untuk melakukan seruan ke jalan Allah sebagaimana terdedah dalam QS. An-Nahl:25, “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan mau’idhoh (pelajaran yang baik), dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik“ (QS. An Nahl: 25). (Baca: Peran Dakwah Damai Habaib Di Nusantara)

Jalan pertama dalam berdakwah adalah hikmah, yakni dengan kebijaksanaan, langkah yang tepat dan efektif dan pendekatan kemasyarakatan yang penuh keteladanan. Selanjutnya, jalan dakwah kedua adalah mau’idhoh, yakni nasihat-nasihat yang baik yang menyejukkan, mampu menggugah, meninggikan semangat untuk beramal baik, serta menumbuhkan kesadaran dan keinsafan. Dan jalan yang ketiga, adalah mujadalah yakni lewat jalan berdialog, berdiskusi, berbantah, saling bertukar argumen dengan cara yang baik.

Setiap jalan dakwah dalam Islam selalu menekankan kebaikan. Tak ada ruang untuk kata-kata kotor, cacian, hujatan dan ikrah atau paksaan. Demikianlah Allah SWT menggariskan prinsip dakwah untuk hambanya.

Akan halnya dengan Walisongo. Ada apa dibalik rahasia kegemilangan dakwah para wali ini. Jurus macam apa yang dipergunakan walisongo, hingga agama Islam bisa dipeluk oleh mayoritas orang di bumi pertiwi. (Baca: Habib Lutfi: Teladanilah Walisongo dalam Berdakwah)

Sejarah mencatat, bahwa faktor utama kesuksesan dakwah Walisongo tak lain adalah kekukuhan para Wali dalam memegangi prinsip dakwah Islam itu sendiri. Prinsip dakwah sebagaimana diteladankan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Secara lebih rinci, kesuksesan dakwah Walisongo didasari oleh lima karakter utama berikut ini:

Karakter pertama: Walisongo menerapkan model dakwah sebagaimana model dakwah yang Allah gariskan dalam QS. An Nahl : 25. Yakni al-hikmah (kebijaksanaan), mau’izah (nasehat yang baik) serta al mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantahan dengan jalan sebaik-baiknya).

Dalam menyampaikan dakwahnya, Para Wali selalu mendahulukan aspek keteladanan pada umat, memberikan nasehat dalam bahasa yang santun dan sejuk, dan bila memang diperlukan sebuah diskusi atau perdebatan, Walisongo membingkai diskusi itu dalam suasana yang ahsan. Berdebat bukan untuk saling menjatuhkan dan pamer kepandaian, tapi untuk menunjukkan kebenaran yang nyata.

Karakter kedua: Walisongo memahami benar pentingnya media dalam medan berdakwah. Para Wali tak canggung memanfaatkan media seni dan budaya seperti gamelan, wayang, dan lagu daerah yang kala itu tengah digandrungi masyarakat. Para Wali tidak saja mampu menggunakan berbagai instrument seni, bahkan menjadi tokoh kunci dalam perkembangan seni tersebut di kemudian hari.

Karakter Ketiga: Walisongo berdakwah dengan damai serta lewat pendekatan kemasyarakatan yang baik. Tak pernah ada pemaksaan atau adu kanugaraan untuk mengajak pada Islam. Para wali mengajak masyarakat kepada Islam dengan santun dan sabar. Walisongo berdakwah dengan setahap demi setahap. Hal ini nampak jelas pada dakwah Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Ketika baru tiba di tengah masyarakat, Maulana Malik Ibrahim tidak secara frontal menyampaikan ajaran Islam. Beliau lebih dulu berbaur dengan masyarakat, memperkenalkan dirinya secara perlahan. Baru setelah itu mulai mengenalkan ajaran Islam dan kemudian mengajak serta masyarakat masuk Islam.

Karakter Keempat: Walisongo menyasar seluruh kalangan sebagai obyek dakwahnya. Tanpa pandang bulu. Walisongo tak pernah memilah-milah sasaran dakwah. Seluruh kalangan mulai dari petinggi kerajaan hingga rakyat jelata didatangi. Untuk kepentingan dakwah, Para Wali juga tak segan menduduki jabatan strategis. Seperti yang dilakukan Sunan Ampel sebagai penasehat kerajaan Islam Demak.

Karakter Kelima: Walisongo membangun kaderisasi dakwah lewat Pendidikan yang berkualitas. Walisongo adalah peletak batu pertama berdirinya model pendidikan Pondok Pesantren. Sebuah model pendidikan yang sebelumnya belum pernah ada di nusantara. Sejarawan, Ahmad Mansur Suryanegara menampik anggapan bahwa model pendidikan Pesantren adalah adobsi model pendidikan peninggalan agama hindhu dengan dalih tidak diketemukannya pendidikan serupa Pesantren di daerah Bali hingga kini.Para wali adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren generasi pertama. Dari Pesantren-pesantren pertama inilah, agama Islam bisa kian tersebar di nusantara. Para santri gemblengan Walisongo dikirim keberbagai pelosok nusantara untuk menjadi pendakwah.

Jangan pernah sekalipun berani-berani untuk melupakan sejarah, sebab ia ibarat seorang guru bijak yang tak bosan memberikan pelajaran. Ada begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik kita membaca dan mengingat ulang sejarah. Dalam sejarah Islam nusantara, tentu saja kajian sejarah tentang Walisongo bukan saja harus diketahui, dimengerti, diceritakan kembali, tapi juga harus diteladani.

Di tengah tantangan dakwah yang kian keras, agaknya pembacaan ulang sejarah Walisongo menjadi kian penting dilakukan. Bukan saja untuk mengingat kembali, tapi juga menjadikannya sebagai pelajaran amat berharga sebagai bekal dakwah masa kini. Demi menjaga tetap berkibarnya bendera Ahlussunnnah Wal Jama’ah. Wallahu A’lam. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: