M. Nuh: Orientasi Pendidikan Tinggi NU Harus ke Masa Depan

Jum’at, 18 November 2016

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) diharapkan bukan hanya berkiprah dan berjuang untuk masa sekarang. Namun juga untuk masa depan. Oleh karena itu, LPTNU harus tahu apa kira-kira yang akan terjadi di masa depan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Penasihat LPTNU M. Nuh dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LPTNU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (16/11) sore.

“Kalau tidak begitu, kasihan anak-anak kita. Ibarat menugaskan orang pergi ke Jepang begitu sampai di Jepang uang yang dibawa tidak laku,” kata Nuh.

Itu sebabnya, lanjut Nuh, pendidikan tinggi NU harus berorientasi ke depan, agar hasil pendidikan tersebut cocok dengan masa depan.

Nuh menyebut ada beberapa alasan mendasar mengapa pendidikan tinggi NU harus mengacu kepada masa depan. Salah satunya berdasarkan hasil sebuah survey yang dirilis tahun 2016 bahwa persoalan makin rumit, sementara waktu yang diperlukan semakin cepat.

“Itu yang harus menjadi dasar dalam membekali anak-anak kita.  Kalau enggak, anak-anak kita akan menjadi generasi expired,” tegasnya.

Lebih lanjut Nuh menyampaikan hasil pendidikan adalah ilmu dan keterampilan. Sementara ilmu dan keterampilan ada masanya, sehingga bisa saja dibuang.

“Misalnya pesawat televisi tabung besar sekarang sudah ganti semua. Transistor juga sudah enggak dipakai. Kecuali sikap yang nggak akan dibuang sampai mati.”

Nuh mendorong agar perguruan tinggi membekali mahasiswanya dengan kemampuan orde tinggi. Anak-anak harus kreatif dan diasah intuisinya. Sering intuisi dulu baru logika. Ada juga logika dulu baru intuisi. Jangan sampai mendidik mereka dengan cara yang tidak sesuai.

Nuh juga mendorong agar perguruan tinggi NU membuka keilmuan hingga jenjang S2 dan S3, khususnya untuk perguruan tinggi yang sudah sehat finansial, organisasi, dan akademik.

Nuh berkeyakinan bahwa peningkatan kapasitas perguruan tinggi adalah bagian dari Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran) yang secara destingtif menjadi kekhasan NU, selain Nahdatul Wathon (kebangkitan tanah air), dan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan ekonomi). (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: