Maulid Nabi, Bid’ahkah?

Maulid-Nabi-Muhammad-SAW-640x420Oleh: Rozin Mu’tasim Billah

ISLAMNUSANTARA.COM – Assalamualaikum Wr.Wb, Alhamdulillah kali ini saya dapat kembali menulis artikel yang harapannya dapat bermanfaat bagi teman teman pembaca sekalian, kali ini saya akan membahas tentang hukum maulid nabi.

Saya sangat tergelitik untuk menulis artikel ini, karena banyak sekali dizaman sekarang baik melalui media, telivisi, internet dan forum forum, dari segelintir orang dan organisasi bermazhab wahabi / salafi yang mengharamkan perayaan maulid nabi, Masya Allah.

Mereka berhujjah dengan hujjah yang menurut saya lemah dan cenderung aneh, salah satu hujjah mereka adalah dengan menggunakan dalil berikut

اْلَیْوَمأَْكَمْل ُتلَُكْم ِدیَنُكْم َوأَْتَمْم ُت َعلَْیُكْم ِنْعَمِتي َوَر ِضی ُتلَُكُمالإْسلاَم ِدیًنا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu (Q.S Al Maaidah 3).

Mereka berkata Islam sudah sempurna, mengapa menambah perkara perkara baru dalam ibadah?, semua perkara baru dalam ibadah adalah bid’ah, dan bid’ah itu adalah sesat. Karena nabi pun tidak pernah mencontohkan merayakan maulid nabi, begitupun dengan sahabat sahabat yang lain yang lebih cinta dan tau rasulullah pun tidak pernah merayakan maulid nabi.

Masya Allah mereka tidak sadar dengan mengatakan demikian sama saja mengatakan golongan yang melakukan perayaan maulid menganggap bahwa islam tidak sempurna mengingkari ayat alqur’an, sudah jelas orang yang menganggap islam tidak sempurna adalah kafir, Masya Allah sakit hati saya mendengar ini.

Perkataan Alqur’an memanglah benar, memang benar Islam telah sempurna dan kita wajib meyakini, akan tetapi jika ada orang yang merayakan maulid nabi apakah meyakini bahwa islam tidak sempurna? Tentu saja bukan, mereka merayakan maulid nabi karena mereka punya Hujjah, dan justru Hujjahnya berdasarkan kesempurnaan islam, bukan karena mereka merasa islam belum sempurna, inilah yang harus di pahami.

Dan para sahabat itu melihat langsung rasulullah, berinteraksi langsung dengan rasulullah, mereka telah mengagungkan rasulullah dengan bermacam macam cara. Diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh imam bukhori dalam Kitab Al Syuruuth dalam Bab Al Syarthi fi Al Jihaadi:

Demi Allah, kata “urwah “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak mengeluarkan dahak kecuali dahak itu jatuh pada telapak tangan salah satu sahabat yang kemudian ia gosokkan pada wajah dan kulitnya. sungguh jika orang yang tidak mengerti makna cinta, kasih sayang maka mereka akan mengatakan ini berlebihan, kultus dan ekstrim.

“Ketika Rasulullah mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda: Anas! Bawa ini ke Ummu Sulaym (ibunya). Ketika para shahabat melihat apa yang Rasulullah berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau yang berasal dari sisi kiri kepala beliau, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (Hadits Riwayat Ahmad).

Asma’ berkata : “Ini adalah jubah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, jubah tersebut disimpan oleh ‘Aisyah. Saat ia wafat jubah ini aku ambil. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah mengenakan jubah ini dan saya membasuhnya untuk orang-orang sakit dalam rangka memohon kesembuhan dengannya.” (HR. Muslim)

Dan masih banyak hadist hadist yang lain, ini semua tidak pernah di contohkan oleh rasulullah, tapi dilakukan oleh sahabat, ini semua tidaklah terlarang karena para sahabat lebih tau mana haq dan mana yang bathil. Artinya apa? Memang benar dahulu tidak ada maulid nabi, tetapi Makna pengagungan atas rasulullah sudah ada saat zaman rasulullah.

Mereka yang menganggap maulid bid’ah kembali bertanya, apakah rasul mengadakan perayaan maulid untuk dirinya sendiri? Jika tidak, mengapa kalian berani melakukannya? Ini bukanlah hujah, melainkan provokasi, karena seolah olah ingin menyambungkan dengan hadist nabi yang mengatakan yang tidak dilakukan nabi adalah bid’ah. Jika seperti itu apakah rasul pernah mendirikan madrasah madrasah ataupun pesantren untuk dakwahnya? Jawabannya tidak, mengapa kalian berani melakukannya? Seolah olah engkau lebih hebat dari rasul, seharusnya engkau berdakwah mengikuti rasul.

Sesuatu yang tidak dilakukan nabi tidaklah di pukul rata semua bid’ah, melainkan harus melalui pembanding lagi, jika masih sesuai dengan Al qur’an dan hadist maka menjadi syar’I jika bertentangan maka di anggap sesat.

Mereka yang membid’ahkan maulid pun bersandar dari fatwa Saudi yang isinya bahwa Maulid nabi itu pertama kali dilakukan oleh kaum fathimin / syiah rafidah inilah yang dikokohkan oleh ibnu katsir. Jadi gara gara orang syiah yang melakukan maulid maka mereka sudah bisa menghukumi kebathilan. apakah selain syiah tidak ada? Orang sunni merayakan bukan karena bersandarkan orang syiah, tapi merayakan karena mempunyai hujjah sendiri.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُون

“Katakanlah (wahai Muhammad), dengan keutamaan dan Rahmat dari Allah, bergembiralah kalian dengan itu, karunia Allah dan rahmatnya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS.yunus 58)

Ayat tersebut sudah sangat jelas perintahnya, salahkah para ulama yang ber ijtihad merayakan maulid nabi sebagai bentuk kegembiraannya terhadap nabi? Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bergembira dengan adanya Rahmat dari Allah SWT. Lalu adakah Rahmat yang lebih mulia daripada diutusnya Rasulullah kepada Umat ini. Bahkan beliau sendiri merupakan Rahmat yang paling mulia. Allah berfirman :

َوَماأَْرَسْلَناَكإِلا َرْحَمًةلِْلَعالَِمیَن

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai Rahmat untuk sekalian alam”. (QS. Al Anbiya 107)
Jadi makna kegembiraan itu tidak ada batasnya, paling banter pembatasan itu adalah dengan sunnah nabi SAW. baiklah mari kita lihat ada apa saja didalam perayaan maulid nabi?, didalam maulid nabi ada shalawat, apakah shalawat bukan sunnah nabi?, ada pembacaan ayat suci Al-Qur’an, apakah membaca Al-Qur’an bukan sunnah?, ada tausiyah tentang riwayat rasul, apakah pembacaan riwayat nabi bukan sunnah?, ada pula sedekah, apakah sedekah bukan sunnah? Dan berkumpulnya saudara dan saudari sesame muslim, apakah berkumpul dengan saudara muslim bukan sunnah? Semua kegiatan didalam perayaan maulid termasuk sunnah, lalu dimana letak bid’ah nya? Justru didalam perayaan maulid nabi terangkum sunnah sunnah yang diajarkan rasul. Sungguh hujjah yang sangat lemah bagi orang yang membid’ahkan maulid.

Tidak ada larangan dalam menyanjung nabi Muhammad, rasul telah mengajarkannya, bahkan rasul sendiri mempunyai penyair khusus bernama Hasan bin Tsabit, jadi tidak ada larangan membuat syair2 yang mengagungkan nabi Muhammad, yang berani membid’ahkan ini berarti keluar dari manhaj rasul.
Adapun dalil yang kedua tentang hujjah kami yang merayakan maulid
َوُكلاَنقُ ُّصَعلَْیَكِمْنأَْنَباِءال ُّرُسِلَماُنَث ِّبُتبِِھفَُؤاَدَك

“Dan semua kisah dari nabi nabi yang telah Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu” (Q.S Hud 120)

Jadi bercerita tentang nabi Muhammad SAW sangat dianjurkan bahkan di perintahkan, karena cerita nabi nabi terdahulu saja kita di perintahkan untuk berfikir, merenungi, mempelajari, apalagi dengan kisah nabi Muhammad SAW.

Rasulpun pernah ditanya mengapa engkau berpuasa dihari senin, lalu beliau menjawab “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162). Jadi memulyakan rasulullah di hari kelahirannya tidaklah salah.

Adalagi satu pendapat dari mereka yang membid’ahkan maulid, bahwa Rasul itu mulia setelah di angkat menjadi nabi. Masya Allah ini adalah anggapan yang sangat bodoh dari mereka, tidakkah mereka membaca riwayat dan sejarah rasul? Rasulullah sebelum menjadi nabi sudahlah mulia, lihatlah ketika kehamilan ibunda nabi Muhammad sangat dimudahkan?, kemudian saat lahir pasukan gajah gagal menghancurkan mekkah, ketika disusui halimah yang kurus dan asinya sedikit ketika di sentuh oleh nabi Muhammad menjadi lancer asinya, ketika usia empat tahun malaikat jibril membelah dada rasul kemudian mengambil hati dan segumpal darah di sucikannya kemudian diletakkan kembali, saat remaja berdagang selalu diselimuti awan mendung di atas kepalanya sehingga tidak kepanasan, dan masih banyak lagi. Yang suci dari rasul bukanlah hanya risalahnya saja, tetapi jasadnyapun mulia, para sahabat pun tahu bagaimana memuliakan jasad nabi sehingga taka da satu helai rambut yang jatuh kecuali didapat mereka. Dari kisah ini semua masih berani anda menganggap rasul hanya manusia biasa yang mulia hanya ketika diangkat menjadi rasul?,

Perayaan Maulid Nabi ini akan memberikan semangat kepada orang muslim untuk memperbanyak sholawat dan salam kepada Rasulullah, padahal sholawat kepada beliau ini sangat dianjurkan seperti dalam ayat):

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kepadanya dan bersalamlah” (QS. Al Ahzab; 56)

Mereka yang membid’ahkan maulid tidak mengetahui bahwa ulama ulama terdahulu pun telah merayakan maulid nabi, yaitu seorang raja yang adil bernama Nurrudin Mahmud zanki seorang ahli sunnah yang merayakan maulid Nabi SAW. Jika tadi mereka yang membid’ahkan maulid mengatakan bahwa perayaan maulid nabi ini berasal dari kaum fathimin / syiah rafidah. asal tau saja raja nuruddin lah yang menghancurkan fathimin. Dan beliaulah yang menampakkan sunnah nabi dengan kekuasaannya, beliau membangun masjid-masjid dan madrasah-madrasah di Ba’labak dan ini disebutkan oleh imam Azhabi dalam Siyar A’lami AnNubala jus 22 halaman 336, kalau Maulid adalah Bid’ah seharusnya Imam Azhabi tidak boleh menuliskan ini semua, karena imam Azhabi silsilah ilmunya yang nyambung kepada ibnu Qoyyim dan ibnu Taimiyah. Zahabi mengatakan bahwasannya Nuruddin menampakkan di negerinya sunnah dan mematikan bid’ah.

Kemudian ada pula raja yang sangat sholeh yang merayakan maulid nabi, yaitu Malik Mudhoffar beliau bukanlah orang pertama merayakan maulid, melainkan orang yang membumikan maulid nabi di negerinya dengan skala nasional, masya Allah. Beliau hidup pada tahun 549, disebutkan oleh ibnu katsir bahwasannya mereka adalah salah satu raja raja yang mulia, mereka mempunyai peninggalan yang sangat baik, hatinya baik dan beliau telah memakmurkan masjid. Menyanjung beliau karena ketika maulid raja Malik menyembeleh 50.000 kepala kambing dan 10.000 ayam, Ibnu Katsir tidak ada mengatakan malik mudhoffar ahli bid’ah karena merayakan maulid, bahkan dikatakan perbuatan raja malik sangatlah mulia. Lantas kenapa para pengikutnya yang sok pintar ini berani mengatakan maulid ini Bid’ah. Bahkan Imam Zahabi sendiri menyifati raja Malik Mudhoffar dengan sifat shohibu irbil, dia adalah raja yang sangat berpegang terhadap agama, dan raja yang di agungkan, sangat senang sedekah, setiap hari membagikan segudang roti, setiap tahun membagi pakaian keorang yang banyak, setiap orang diberikan 1 dinar menyediakan penampungan bagi orang tua dan orang sakit dan dijenguk setiap senin dan kamis, dialah orang yang baik, orang yang tawadhu, dia juga sunni, dan cinta orang fakir, dan juga cinta ahli hadist. Siapa yang menyifati? Sekali lagi bukan saya, ialah Imam AZ ZAHABI dan Ibnu Katsir. Saya sangat yakin bahwa bagi golongan orang orang yang membid’ahkan maulid pasti mengenalnya, bahkan menyanjung dan menyukainya. Lihatlah ibnu katsir dan imam zahabi tidak mencaci maulid, kenapa anda anak kemarin sore berani mencaci maulid.

Imam Bukhori pun menukil dalam kitab shahihnya bahwa Abu Lahab tidak disiksa setiap hari senin karena pada saat lahirnya nabi Muhammad ia sangat bergembira sampai sampai membebaskan budaknya pada hari itu.

Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan mendengar ayat al qur’an dengan suara yang bagus, didalam perayaan maulid nabi menjadikan yang mendengar mendapat ketenangan didalam hatinya yang terisi oleh cahaya nabi muhammad

Jadi setelah penjelasan diatas bagi yang tidak senang dengan Maulid Nabi, silahkan Buang pegangan dengan yang namanya IBNU QAYYIM, IBNU KATSIR DAN IMAM AZ ZAHABI, Karena mereka tidak mencaci maulid.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang maulid Nabi Muhammad, berfikir dengan jernih sehingga tidak mudah menyalahkan orang lain, akhir kata Alhamdulillah wassalamu’alaikum wr.wb.

Rozin Mu’tasim Billah, Pengurus Ponpes Subulussalam Samarinda Kalimantan Timur

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: