‘Mbah Kuri’ Gus Jadzhab dari Ponorogo

08 Maret 2016,

PONOROGO, ISLAMNUSANTARA.COM – Candra Malik, Praktisi tasawuf yang bergiat dalam kesenian dan kebudayaan. Menulis artikel dan cerita pendek di media massa, buku-buku bertema spiritual, dan novel, serta mencipta lagu dan menyanyi. Berkiprah sebagai Wakil Ketua Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2015-2020.. Inilah salah satu tulisannya yang dimuat di Kompas (06/03).

Menembus Dunia yang Jauh, Asing, dan Berbeda

Masykuri Thoyib. Jika ia lahir dan tumbuh besar hari-hari ini, orang-orang niscaya akan menyebutnya anak autis. Sejak kecil, Kuri memang lebih asyik dengan dunianya sendiri daripada bermain dengan bocah-bocah lain.

Atau, barangkali orang-orang akan mengatakan Gus dari Jenes, Ponorogo, Jawa Timur, ini anak indigo. Tapi, ia bukan keduanya.

Gus adalah sebutan untuk anak kiai, dan Kuri anak bungsu KH Thoyib dari Pesantren Hudatul Muna. Dari keenam anaknya, Kuri yang paling istimewa. Tidak fasih berbicara dan sehari-hari menunjukkan keanehan-keanehan. Jika sedang marah, tak hanya suka membanting piring, tapi juga mencabut pohon. Satu dua kali goyang, batang besar pun roboh.

Karena tak tahu harus bagaimana lagi, Kiai Thoyib membawa anaknya ke Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Maksud hati hendak meminta tolong kepada Syekh Mahfudz dan jika bisa bahkan menitip Kuri untuk mondok di pesantren itu. Tapi, apa daya, Syekh Mahfudz menolaknya.

“Anakmu sehat. Tidak sakit, tidak perlu berobat,” kata Syekh Mahfudz.

Kiai Thoyib bingung melihat Syekh Mahfudz menemuinya dengan mata tidak menatap. Kepalanya menunduk.

“Syekh, kami salah apa kok Syekh tidak berkenan memandang kami?”

“Kiai, cepat bawa pulang anakmu. Jangan kau bawa ke sini. Aku tidak sanggup melihat. Terlalu silau. Anak ini seperti matahari.”

Kuri juga pernah dibawa ke KH Mahrus Aly, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, tapi sama saja hasilnya: ditolak, dan disuruh pulang dengan argumen yang kurang lebih senada.

Meski anak autis dan indigo tidak mengindap penyakit kejiwaan, masih banyak yang memerlakukan mereka secara berbeda. Anak indigo masih lebih beruntung lantaran dianggap memiliki kemampuan supranatural.

Mbah KuriTapi, sesungguhnya anak autis dan indigo masih jauh lebih beruntung dibanding Kuri. Mengapa? Sebab, sejak kecil, Kuri mengalami jadzab.

Jadzab? Ya. Dalam khazanah dunia pesantren, terutama dalam Sufisme, jadzab adalah keadaan gila. Siapa yang mengalami jadzab akan cepat sekali distempel oleh masyarakat sebagai orang gila. Dan, Kuri telah menunjukkan perilaku gila itu sejak awal 1960. Hingga kini ia melajang dan masih tinggal di Keprabon atau rumah utama di Pesantren Jenes.

Ayah ibunya sudah lama wafat dan kakak-kakaknya sudah berkeluarga. “Hanya Mbah Kuri yang masih bujang dan tetap tidak diketahui apa saja kegiatannya sehari-hari,” kata Gus Hawin, anak dari salah seorang kakak perempuan Kuri.

Di antara cucu dan keponakan Mbah Kuri, Gus Hawin termasuk yang paling sering tiba-tiba diajak pergi ke mana pun sesuka hati.

“Pagi kemarin, Mbah Kuri spontan mengajak saya mencari Mesin Molen Beton ke Madiun. Padahal, sewa di Ponorogo juga ada,” ujarnya.

Tapi, sejak orang-orang melihat karomah Mbah Kuri, sejak itulah tak ada yang berani membantahnya. Bahkan, kini Mbah Kuri semakin populer sebagai poros spiritual di Bumi Wengker pasca Kyai Ageng Kasan Besari.

Dari gerombolan preman sampai kalangan pejabat, bisa disebut tidak ada yang tak mengikuti perintahnya. Di masa pilkada yang telah lewat, Mbah Kuri mendadak muncul dalam parade simpatisan salah satu calon bupati saja langsung menjadi buah bibir dan berita di koran-koran lokal. Juga saat ia muncul di Masjid Jami Kiai Ageng Muhammad Besari.

“Semua kaget. Mbah Kuri datang membawa rombongan Reog. Padahal masyarakat sedang menghadiri Haul Mbah Besari,” kata Gus Syamsul, keponakan Mbah Kuri.

Tapi, toh tak ada yang berani menolaknya. Jadilah malam itu peringatan Haul Mbah Besari semarak dengan reog. Dan, masih banyak tingkah laku nyleneh Mbah Kuri yang dialami masyarakat.

Pernah suatu ketika, Gus Arif, keponakan lainnya yang bertugas jaga menerima tamu-tamu Mbah Kuri di pesantren, menerima kabar bahwa Mbah Kuri shalat ied di Tremas. Tapi, ada penelepon lain yang mengatakan Mbah Kuri shalat ied di Demak. Satu lagi lainnya menyebut Mbah Kuri shalat ied di Blitar. “Padahal, Mbah Kuri di rumah saja,” kata Gus Arif.

Yang lebih mencengangkan, ada seorang tamu yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji, mengaku bertemu Mbah Kuri di Mekkah. “Saya tidak bisa membantah lagi karena tamu ini menunjukkan foto polaroid. Dia berfoto bersama Mbah Kuri, sama-sama memakai baju ihram,” tukas Gus Arif. Dikonfirmasi soal itu, Mbah Kuri tak acuh, seperti biasa.

“Saya dan istri sering diminta main musik di resepsi pernikahan. Malam itu, kebetulan ada dua undangan di dua tempat berbeda dan berjauhan, tapi waktunya bersamaan. Saya di sini, istri di sana. Lha kok istri saya bilang Mbah Kuri joget-joget di sana, padahal saya lihat Mbah Kuri duduk-duduk di sini,” ungkap Gus Hawin, mengenang pengalaman ajaib itu.

Soal joget, Mbah Kuri memang suka. Kata Gus Syamsul, dia pernah dibikin susah. Mbah Kuri mengajak nonton konser Slank di Alun-Alun Ponorogo. “Mbah Kuri menembus lautan manusia, bahkan sampai di baris paling depan, tapi saya tidak,” ujarnya. Saat pulang jalan kaki, Gus Syamsul heran melihat Mbah Kuri disalami Slankers dan masyarakat.

Bisa jadi, jadzab tidak ditemukan dalam kamus kedokteran jiwa dan psikologi modern. Tapi, ia benar-benar ada dan masih ada di negeri ini. Sebagian masyarakat menyebut seseorang yang mengalami jadzab sebagai Waliyullah. Seperti manusia pada umumnya, ia memang hidup di dunia. Tapi, seseorang yang jadzab memiliki dimensi yang berbeda.

Yang tak kita pahami dari autisme, indigo, dan jadzab ialah sekat ruang dan waktu ternyata tidak membatasi perjalanan rohani seorang manusia. Di sana, di dunia yang “jauh, asing, dan berbeda” itu, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang juga mengasuh anak-anak istimewa ini.

Saya sungguh beruntung malam itu ditemui Mbah Kuri dan berbincang. Ponorogo, Maret 2016. (ISNU)

Sumber: Kompas

3 Responses

  1. acong punjadi8 Maret 2016 at 2:25 pmReply

    Perlu ralat sedikit. Gus Kuri di Tremas pada masanya KH Habib dan KH Harist Dimyathi, bukan KH Mahfud. Karena KH Mahfud berdomisili di Makkah. Nuwun

  2. Mahfud8 Maret 2016 at 4:26 pmReply

    Termasuk kelebihan Mbah Kuri yg blm diketahui miturut dhawuhe alm K.Fahrudin (Cekok) sering kali kalau Mbah Kuri ke Cekok, Mbah Kuri menuju ke Sungai, di situlah Mbah Kuri menjadi Imam Shalat para Wali, konon nabi Khidir pun hadir di situ

  3. NurWahyudi24 September 2016 at 9:19 amReply

    Antara tahun 1990-1993 sayajuga sering melihat Mbah Kuri di Serambi Masjid Pondok Pesantren Arba’i Qohar, Jambangan, Paron, Ngawi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: