Melalui Pendidikan, Kemenag Siap Cegah Radikalisme dari Hulu

Jum’at, 09 Juni 2017

ISLAMNUSANATARA.COM, Lembang – Kapuslitbang Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag Muharram Marzuki, mengatakan bahwa Kementerian Agama berperan mencegah gerakan radikalisme dari hulu. Upaya pencegahan itu salah satunya dilakukan melalui pendidikan.

Demikian itu disampaikan Marzuki ketika mewakili Menteri Agama sebagai salah satu narasumber pada diskusi panel yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi POLRI di Lembang, Kamis (08/06).

Diskusi ini mengangkat tema “Pelibatan unsur-unsur masyarakat dalam upaya deradikalisasi dan anti gerakan makar guna membangun Indonesia yang aman dan damai”. Dalam kesempatan itu, Muharram menyampaikan bahwa pemberantasan gerakan radikalisme dari sisi hilir merupakan tugas aparat penegak hukum. Namun, ia menegaskan bahwa pencegahan dari sisi hulu juga tidak kalah penting.

Menurut Muharram, di Kemenag terdapat 6 (enam) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat yang membidangi masing-masing agama.Setiap Dirjen berkewajiban memiliki program antisipasi atau deradikalisasi yang diterapkan pada berbagai tingkat pendidikan formal maupun non formal.

Misalnya, menyiapkan kurikulum pada setiap level pendidikan dan memastikan bahwa kurikulum tersebut tidak mengarah pada gerakan radikalisme. Selain itu juga membina pendidikan non formal, seperti majelis taklim, pondok pesantren, taman pendidikan Al-Quran.

Muharram juga memaparkan hasil penelitian Puslitbang Kemenag yang menunjukkan bahwa gerakan radikalisme tumbuh dari mereka yang fanatik terhadap agama ketika dihadapkan dengan simbol-simbol negara.

“Bahkan ada sebagian masyarakat, jika ada upacara di sekolah/ kampus tidak mau mengikuti upacara,” ujar Muharram.

Oleh karenanya, ia menganggap perlu memasukkan program-program pembinaan pada rohis-rohis di sekolah.Menurutnya, seringkali kegiatan rohis di sekolah tidak terkontrol karena kepala sekolah tidak terlalu mengawasi siapa saja narasumber yang diundang dalam kegiatan rohis tersebut.

Senada dengan Muharram, peneliti terorisme di Asia Tenggara Sidney Jones bahkan membeberkan data bahwa pelaku teror lebih banyak lulusan dari sekolah negeri bukan pesantren. Bahkan menurut Jones, sebagian besar dari mereka tidak pernah menjadi santri.

“Itu berarti program deradikalisasi harus ditanam di SMA dan SMK Negeri bahkan di SD Negeri, bukan saja di pesantren,” ujar Jones yang juga penasihat senior dari International Crisis Group (ICG). Iajuga mengkritisi program-program pendidikan di SMA yang dinilainya masih terlalu umum.

KetuaPengurus Harian Tanfidziyah PBNUKH. Marsudi Syuhud yang juga hadir sebagai narasumber dalam diskusi panel tersebut menegaskan bahwa NU sebagai salah satu ormas Islam siap bersinergi dengan negara untuk memberantas paham-paham radikalisme. (ISNU)

Sumber: Kemenag

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: