Melawan Kelompok Intoleran dengan Perkuat Silaturahmi

Minggu, 25 Maret 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Menantu Rasulullah Saw Imam Ali [Ali bin Abi Thalib] pernah berujar: “Dia yang bukan saudaramu seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Pernyataan yang dikeluarkan olah khalifatullah ribuan tahun lalu selalu, relevan diterapkan dalam kondisi kekinian.

Terlebih kondisi Indonesia saat ini, dimana rasa persaudaraan sudah semakin lemah. Bersamaan dengan itu, intoleransi semakin menyesaki kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua ini bukan tanpa sebab dan alasan. Berdasarkan data yang dihimpun Setara Institute, dapat diketahui bahwa sepanjang tahun 2017, tercatat ada 155 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan terjadi di Indonesia.

Tentu data tersebut, akan semakin tinggi seiring dengan datangnya pilkada dan pilpres. Sebagaimana diketahui bersama bahwa saat ini ada beberapa kelompok yang gemar menebar perpecahan. Tidak hanya itu, mereka juga membuat propaganda yang tujuannya untuk mempengaruhi opini publik bahwa Islam dilecehkan oleh agama lain, ulama dikriminalisasi, PKI bangkit lagi dan masih banyak narasi-narasi intoleransi lainnya.

Tentu, situasi yang demikian itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mengapa? Pertama, kelompok inteleran akan semakin berjaya. Sima dalam Harmoni dalam Kebhinnekaan (2017:13) mewanti-wanti kepada seluruh penduduk Indonesia bahwa tantangan kebhinnekaan adalah menguatnya intoleransi yang dibumbui oleh ayat suci dan sentimen berlebihan terhadap kelompok atau agama lain.

Yang demikian itu nampak terjadi pada hari ini, terutama ketika mendekati perhelatan politik, materi takfiri, kristenisasi, kriminalisasi, bahkan sampai PKI menjadi fokus mereka. Ibarat tahu, isu-isu tersebut digoreng kemudian diviralkan sehingga memenuhi langit-langit dunia maya. Dan anehnya, masyarakat Indonesia banyak yang mempercayai hal tersebut. Walhasil, antar sesama bangsa, pada menaruh saling curiga, membenci, dan saling memusuhi.

Jika yang demikian terjadi, maka sudah bisa dipastikan bahwa kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara tidak lagi bisa dirasakan dengan nyaman dan damai. Artinya, Indonesia akan dipenuhi oleh sikap saling membenci antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Sehingga poin kedua akan tercipta.

Kedua, hancur lebur. Jika aspek sosio-kultural-religius sudah terkontaminasi dengan laku intoleransi, maka kemajemukan akan semakin runyam. Sebab, masyarakat akan berlaku eksklusif, tidak mau menerima kelompok-kelompok tertentu yang berbeda pandangan, ideologi, dan agama. Semua ini akan mudah merobohkan fondasi persaudaraan dan persatuan antar warga Indonesia. Tegas kata, Indonesia akan hancur lebur, bukan kerena terkena bom atom, melainkan serangan dari masyarakatnya sendiri.

Untuk itu, kita harus menyiapkan senjata untuk melawan kelompok intoleran dan gemar menebar kebencian. Senjatanya adalah memperkuat silaturrahmi. Namun, harus diakui bahwa silaturrahmi, budaya luhur yang diajarkan oleh agama dan juga dipraktekkan oleh nenek moyang kita ini seolah melemah. Bahkan ia seolah hilang dari kehidupan kita. Sehingga, antara anak bangsa, mereka merasa asing. Bahkan, teladan pemimpin agama, juga belum terlihat merata. Kesannya, tokoh agama hanya menyambangi kelompok yang memang seiring dengan mereka, sementara yang memiliki perbedaan pandangan dalam hal apapupu, termasuk politik, cenderung “dianaktirikan”.

Oleh sebab itu, sudah seharusnya para pemimpin umat memberikan teladan yang baik, menandaskan egonya dengan cara bersilaturahmi tanpa memandang agama, pandangan politik dan lainnya. Selama bendera masih sama [merah-putih] dan ideologi juga sama [Pancasila], mereka adalah bersaudara.

Silaturrahmi tanpa pandang bulu, sangat efektif untuk meredam perseteruan yang kian hari kian mengental itu. Sebab, dengan silaturrahmi ini, semua kecurigaan akan tertepis sudah. Karena sejatinya, masyarakat Indonesia, terutama dalam hal beragama dan bernegara, mengikuti para pimpinannya (kyai, ulama, pendeta, biksu, dll). Jika para tokoh agama sering silaturrahmi, maka yang tercipta adalah kedamaian yang berbalut persaudaraan. Untuk itu, sikap yang harus ditonjolkan oleh para tokoh agama adalah, saling terbuka, mengajak agama lain untuk menjaga NKRI.

Dan silaturrahmi ini pula, semakin menutup celah kelompok intoleran untuk mengadu domba, membenturkan tokoh agama satu dengan lainnya. Dalam agama Islam, sebagaimana dinyatakan dalam sabda Rasulullah: “Tidaklah bisa masuk surga orang yang memutuskan hubungan tali silaturahmi.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Mengakhiri uraian ini, kiranya pernyataan Denny Siregar patut kita aminkan dan jadikan sebagai gerakan besar dan konsisten, bahwa: “kelompok intoleran selalu memviralkan hal yang bersifat perpecahan, kita berjuang dengan memviralkan kebaikan-kebaikan.” (ISNU)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: