Membedakan Pemahaman dengan Kebenaran dalam Beragama

Minggu, 29 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM  – Akhir-akhir ini, cara beragama yang identik dengan sikap golongan khawarij telah muncul secara terang-terangan di ruang publik, baik secara offline maupun online seperti di media sosial. Hal ini ditandai dengan mudahnya mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat.

Kata kafir, musyrik, dan munafik menjadi gampang sekali ke luar dari mulut mereka, dialamatkan pada orang yang tidak sepemahaman meskipun memeluk agama yang sama. Bahkan, juga mengkafirkan pemerintah yang menganut demokrasi, mengkafirkan rakyat yang rela terhadap penerapan demokrasi serta mengkafirkan ulama yang pro-demokrasi.

Tidak sebatas perkataan, melainkan kelompok ini sudah mulai melakukan tindakan kekerasan. Bahkan tidak segan-segan untuk mengangkat senjata dalam situasi tertentu. Aneh memang, kekerasan semacam ini digaungkan oleh individu dan kelompok yang memegang teguh ajaran agama. Ajaran kebencian terhadap kelompok yang tidak sepadan menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Tak ayal, terhadap fenomena takfiri dan jihad ofensif seperti gambaran di atas, masyarakat mulai gelisah dan bertanya-tanya: benarkah agama mengajarkan kebencian terhadap kelompok lain? Dan benarkah pula agama “menghalalkaan” kekerasan?

Kini, tidak sedikit masyarakat yang berasumsi bahwa agama sudah dijadikan sebagai alat untuk mewujudkan kepentingan kelompok tertentu yang abai terhadap stabilitas dan nilai-nilai universal yang diajarkan oleh agama. Dalam kondisi seperti ini, agama seolah membenarkan tindak kekerasan.

Stereotip masyarakt tidak lepas dari cara beragama kelompok tertentu yang memang menampilkan dan mencitrakan “buramnya” agama. Meskipun lahir dari kelompok minoritas, namun tindakan ekstrim-radikal semacam itu telah “sukses besar” memperburuk citra dan budaya Islam, khususnya di Indonesia, yang terkenal dengan bangsa yang mayoritas penduduknya taat beragama, lemah-lembut, dan santun.

Dalam konteks Islam, sejarah secara gamblang menjelaskan bahwa misi Rasulullah Saw. membawa Islam adalah, salah satunya, untuk membawa perdamaian dan menebar rahmat (kasih sayang) kepada semua penghuni alam semesta ini.

Ada sebuah hadis riwayat Jarir ra., ia berkata: “Ketika haji wada, Nabi saw. bersabda kepadaku: Suruhlah orang-orang diam. Setelah orang-orang diam, beliau bersabda: Janganlah sesudah kutinggalkan, kalian kembali menjadi orang-orang kafir, di mana sebagian membunuh sebagian yang lain.” (Shahih Muslim No.98).

Berdasarkan informasi dan ketentuan dalam hadis diatas, Muslim yang gemar menebar kebencian antar sesama dan saling membunuh, tidak lebih (sama halnya) orang kafir. Dalam bahasa kasarnya, jangan-jangan yang layak dilabeli “kafir” adalah mereka sendiri? Entahlah.

Tiga Orientasi Beragama

Jika ditelisik lebih dalam, fenomena umat yang gemar melabeli seseorang yang berbeda pandangan sebagai kafir, musyrik, dan munafik yang harus diperangi itu tidak lahir dalam suasan dan ruang yang hampa. Artinya, ada sebab-sebab yang mempengaruhinya.

Bisa jadi ada faktor pemahaman yang tekstualis-eksklusif, juga bisa disebabkan oleh motivasi dan orientasi beragama individu atau kelompok yang bersangkutan. Dalam kaitannya dengan semua ini, ada sebuah analisis yang cukup komprehensif. Ya. Dia adalah Jalaluddin Rakhmat.

Menurutnya, ada dua faktor situasional yang mendorong aktor agama untuk melakukan tindakan kekerasan: (1) Orientasi keagamaan yang dianut oleh kelompok mayoritas, dan (2) Perlakuan tidak adil dari pemegang hegemoni (Geotimes, 26/3).

Lebih menukik lagi, Allport dan ross (1967), sebagaimana dikutip Hamam Faizin, menjelentrehkan orientasi keagamaan menjadi tiga. Pertama, agama sebagai tujuan akhir. Pemeluk agama model ini cenderung stagnan, menganggap bahwa ajaran agama sudah bersifat final, tidak boleh diotak-atik lagi dan tidak ada tempat bagi kritik terhadap kelompok ini. Kritisisme tidak berlaku dalam hal ini. Ciri lain yang melekat pada kelompok dengan model orientasi pertama ini adalah fanatisme, taklid buta, dan cenderung eksklusiv.

Salah satu manifestasi orientasi keagamaan demikian itu adalah, salah satunya, dunia ini dibagi menjadi dua saja; kelompok mereka (yang memiliki visi-misi sama) dan selanjutnya adalah kelompok di luar mereka (yang tidak sepaham dan se-visi-misi). Terhadap kelompok terakhir, hanya ada dua pilihan; ikut mereka atau diperangi.

Bisa dibayangkan betapa sempit dan rumitnya hidup di dunia. Seolah-olah kebenaran hanya miliki mereka sendiri dan surga pun sudah di kavling-kavling.

Kedua, agama sebagai alat. Banyak sekali kasus yang menggunakan agama sebagai justifikasi tindakan kelompok tertentu, padahal ajaran itu belum tentu sesuai, jika tidak ingin dikatakan sebagai tidak sesuai dengan spirit dalam Alquran dan Hadis sebagai rujukan paling otoritatif dalam Islam. Biasanya, agama dijadikan sebagai “pemuas” syahwat kelompok tertentu untuk memonopoli sesuatu. Dalam konteks seperti ini (agama sebagai alat), arena pertaruhannya lebih banyak dalam konteks politik kekuasaan.

Ketiga, agama sebagai pencarian. Orientasi ini sangat berbeda dengan dua orientasi sebagaimana disebutkan sebelumnya. Bahwa dalam konteks orientasi agama sebagai pencarian, individu dituntut untuk kritis dan inklusif  mencari kebenaran. Ia lebih terbuka dan seolah-olah “haus” akan sebuah pencerhan yang dating dari berbagai ulama dan ahli agama lainnya. Berdialog menjadi ciri utama individu dengan orientasi semacam ini (islamlib.com, 12/7/2004).

Dalam konteks agama untuk membenci, orientasi yang digunakan adalah model pertama dan kedua; yakni agama sebagai tujuan akhir dan sebagai alat. Orientasi tersebut membentuk cara beragama dengan mengedepankan eksklusifisme, yakni menganggap selain dari golongannya adalah salah atau kafir. Mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa pemahaman keagamaan merekalah yang paling lurus. Dan semua orang harus mengikutinya.

Bedakan Antara Pemahaman dan Kebenaran

Penulis meyakini bahwa agama yang mencerminkan untuk menebar kebencian dan merusak perdamaian merupakan fenomena kurang tepatnya pemeluk agama tertentu dalam memahami sebuah kebenaran dari Tuhan (firman Tuhan) yang tertulis sebuah teks.

Dalam kajian hermeneutika, sebuah teks lahir dari kondisi atau situasi pada saat teks itu diturunkan, sehingga teks tersebut sebenarnya sedang merespons “krisis” atau peristiwa pada saat ini. Dalam kajian ulumul Quran disebut sebagai Asbabun Nuzul.

Makanya, sedari dulu, persoalan hampir semua agama, termasuk Islam, adalah perbedaan dalam tataran konsep ketuhanan, bukan perselisihan tentang eksistensi tuhan. Dalam bahasa Masduqi (2011), seorang ulama harus bisa membedakan antara “pemikiran keislaman dan Islam”. Pemikiran Islam, masih menurut Masduqi, sangatlah beragam dan kebenarannya bersifat relatif, sehingga masing-masing ulama atau individu mengajukan asumsi masing-masing. Akan tetapi, kebenaran Islam adalah sejati, bersifat tunggal dan hanya Allah yang tahu.

Jadi, mengklaim kafir dan musyrik, serta munafik sebagai seseorang yang “hina” dan harus diperangi, sama halnya “merampas” hak Tuhan. Terlebih bagi orang atau kelompok yang sudah lebih dulu mengkavling surga dan negara.

Solusinya, mari belajar agama yang komprehensif, inklusif, kritis dan berguru pada ulama yang memiliki integritas tinggi.

Penulis yakin, jika yang demikian ini sudah terpenuhi, maka kita akan berfikir ribuan kali untuk menebar kebencian atas nama agama. Sebab, salah satu latar belakang lahirnya agama adalah untuk menciptakan perdamaian dan menjaga persaudaraan. Tegasnya, agama bukan untuk membenci, apalagi sesama pemeluk agama sendiri dan juga terhadap pemeluk agama lainnya. Ingat! Musuh utama agama adalah keterbelakangan dan kebodohan, bukan sekelompok atau golongan yang berbeda pendapat.

Gus Dur pernah berkata: “Bukankah dengan saling pengertian mendasar antaragama, masing-masing agama akan (kelompok) memperkaya diri dalam mencari bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang?”

Lebih jauh lagi, Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip Mahmud Hamdi (2009) mengatakan: “ Jika seseorang mengeluarkan kata-kata yang mengandung kemungkinan kekufuran dari seratus sisi tetapi mengandung keimanan dari satu sisi saja, maka arahkanlah kata-kata itu kepada keimanan dan tidak boleh dikafirkan.” (ISNU)

Ditulis oleh Muhammad Najib, Peneliti Senior Monash Institute Semarang, Dosen STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta. (Tulisan ini pernah dimuat Koran Suara Pembaruan).

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: