Men-dunia-kan Islam Nusantara

Islamnusantara.com, PORTSMOUTH – Saya sangat menyukai dan bangga dengan Islam Nusantara, yang menurut Prof Azyumardi Azra pada kolom Resonansi – Republika Online tanggal 18 Juni 2015 menulis bahwa ada 3 unsur utama di dalam Islam Nusantara yakni Pertama, Teologi Asy’ariyah, Kedua, Fiqh Syafii, walaupun juga menerima tiga mahzab fiqh sunni lainnya, Ketiga, Tasawuf Al Ghazali-.

Namun ada beberapa hal yang ingin saya mengupasnya lebih spesifik mengenai Islam Nusantara ini ;

Pertama, apakah aktualisasi Islam Nusantara akan ‘persis sama’ jika di dakwahkan, disebarkan dan diterapkan di negara lain? Sementara tiap negara mempunyai konteks, kondisi sosio-kultural, nilai-nilai dan filosofi masyarakat yang berbeda. Menurut saya, aktulisasi Islam Nusantara tidak akan bisa sama persis dengan yang ada dikonteks Nusantara/Indonesia.

Kedua, Nilai-nilai yang bersifat ‘soft’ seperti : perdamaian, kasih sayang, keadilan, kejujuran, cinta, persaudaraan tetap bisa di dakwahkan, disebarkan dan diterapkan di negara lain karena nilai-nilai tersebut bersifat universal dan bisa diterapkan di manapun, serta bisa diterima oleh siapapun dan bangsa manapun.

Ketiga, Fiqh yang ada di Nusantara/Indonesia belum tentu bisa diterapkan di negera lain. Oleh karena itu, perlu kajian mendalam tentang fiqh yang kontekstual dengan situasi dan kondisi di suatu negara, yang memungkinkan berbeda dengan aktualisasi fiqh di Nusantara.

Keempat, Perlunya publikasi yang lebih luas khususnya dalam berbagai bahasa Internasional. Sampai saat ini publikasi tentang Islam Nusantara masih sangat minim, terutama dalam referensi-referensi berbahasa Inggris yang memungkinkan untuk dibaca oleh public Internasional. Hal yang sama juga dikatakan oleh Martin Van Bruinessen saat mengisi sarasehan PCINU Eropa di Belanda pada Januari 2015 lalu.

Kelima, nilai-nilai tawassuth, tawazun, tasammuh, i’tidal masih relevan untuk disebarkan dan diterapkan di negara lain.

Keenam, penggunaan teknologi informasi, terutama sosial media bisa sangat efektif untuk menyebarkan Islam Nusantara, khususnya di media-media yang menggunakan bahasa Inggris.

Ketujuh, untuk memperkaya khasanah Islam Nusantara secara akademik maupun keilmuan, sebaiknya kitab-kitab ulama Nusantara jaman dulu (yang masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan misalnya di Leiden University) semestinya bisa mulai dikaji ulang secara luas oleh para ulama dan ilmuwan saat ini. (ISNA/MY)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: