Menag: KH Abdul Hamid Pasuruan Tokoh Besar

menag-di-haul-kiai-hamid-640x420

Menag Lukman Hakim Lukman Hakim Saifuddin di acara Haul KH Abdul Hamid Pasuruan Senin 21 Desember 2015 – Foto: NU Online

Rabu, 23 Desember 2015

PASURUAN, ISLAMNUSANTARA.COM – Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin 21 Desember 2015 dipadati ribuan umat Islam untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw sekaligus Haul ke-34 KH Abdul Hamid bin Abdulloh Umar dan Haul ke-25 Nyai Hj Nafisah Ahmad Qusyairy, di Pondok Pesantren Salafiyah.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin didampingi Kakanwil Jatim Mahfudz Shodar yang menghadiri acara itu dalam sambutannya mengatakan, KH Abdul Hamid adalah tokoh besar yang telah memberikan sumbangsih besar bagi Indonesia.

Menag mengaku kehadirannya tidak saja untuk memperingati haul KH Abdul Hamid. Lebih dari itu Ia ingin berusaha meneladani perilaku baik dan melanjutkan jejak perjuangannya. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Sebagai contoh, lanjut Menag, ribuan jamaah yang menghadiri haul menjadi penanda kebesaran KH Abdul Hamid. Apalagi kehadiran tanpa undangan, tapi atas kemauan sendiri.

“Ini jumlah yang luar biasa, nyaris sama dengan kuota jamaah haji Indonesia, 200-ribuan,” kata Menag.

Untuk itu, Menag mengajak masyarakat untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dilakukan KH Abdul Hamid. Semasa hidupnya, KH Hamid dikenal sebagai kiai yang sangat tawadlu’ dan pekerja keras.

“Usaha yang digeluti beliau adalah berjualan sepeda, onderdil, dan berdagang kelapa,” papar Menag.

Kebesaran KH Abdul Hamid, lanjut Menag, bisa ditandai dari banyak tokoh nasional yang mendatangi beliau. Dikisahkan,  suatu hari ada politisi nasional yang berkunjung ke rumah KH Hamid, untuk meminta saran agar politik tidak gaduh dan lebih stabil.

Almarhum lalu mengajak politisi itu naik mobil bersamanya. Di perjalanan, KH Hamid memberikan segelas air dan meminta politisi itu untuk memegangnya  agar jangan tumpah. Kontan air dalam gelas itu terus bergerak hingga hampir tumpah. 


“Sampai di tempat tujuan, Almarhum berkata: itulah stabilitas, jangan berharap pada orang lain, tapi mulailah diri sendiri,” kisah Menag.

“Haul ini khas Indonesia, tradisi yang sampai saat ini masih relevan, serta harus dijaga dan dipelihara,” tegasnya.

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: