MENAG, Lesbumi Garda Depan Pemuda NU Jaga Budaya Nusantara

25 Maret 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Sapta Wikrama (al Qowa’id as Sab’ah) atau Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara Lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia Nahdhatul Ulama (Lesbumi NU) yang akan dkembangkan oleh Lesbumi di masa-masa mendatang adalah cermin atau indikator bahwa Lesbumi antisipatif dan memiliki kemampuan untuk merespon dan menyikapi perubahan yang terjadi di tengah-tengah kita.

“Karena itu budaya hakekatnya adalah karya yang senantiasa berubah, tidak ada  budaya yang mati karena bila mati maka tidak eksis lagi di atas muka bumi ini. Karenanya, saya pertama mensyukuri adanya Lesbumi di usianya yang ke 54 yang kemudian mampu merumuskan lalu kemudian melahirkan tujuh strategi kebudayaan yang mudah-mudahan ini tidak hanya dalam rangka ikut menjaga nilai nilai Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini dikembangkan dan diperjuangkan oleh Nahdhatul Ulama, tapi strategi kebudayaan ini dalam rangka untuk tetap menjaga keindonesiaan kita, itu yang penting,” terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya pada Harlah ke-54 Lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdhatul Ulama di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta, Kamis (24/3).

Tampak hadir sejumlah tokoh dan seniman dari kalangan NU, di antaranya Wakil Ketua Umum PB NU Marsudi Syuhud, budayawan KH. Zawawi Imron, Candra Malik, dan penyanyi religi Opick.

“Dan tentu seperti harapan yang disampaikan KH. Marsudi Syuhud, Lesbumi bisa berkontribusi menata peradaban dunia, Saya merasa bersyukur dan karenanya Saya mengapresiasi setinggi-tingginya atas rumusan yang telah dihasilkan oleh Lesbumi,” tambah Menag.

Dikatakan Menag, kita bersyukur karena para pendahulu kita dan guru guru kita mewarisi ajaran yang dikenal di kalangan nahdhiyin, yakni almuhaafadzotu ‘ala qoodimisshalih wal ahdu ‘ala jadidil ashlah, yakni menjadi kewajiban kita untuk senantiasa menjaga dan memelihara tradisi lama yang baik-baik , dan tidak cukup di situ karena kita juga dituntut untuk berkreasi dan berinovasi melahirkan karya-karya yang lebih ashlah yang lebih sesuai dengan konteks kekinian dan antisipasi ke depan di masa yang akan datang.

“Jadi atas dasar inilah menurut hemat Saya, mengapa NU dan semua kita tetap mampu ikut merespon kondisi zaman dengan dan karena kaidah yang kita pegang tersebut,” ucap Menag.

Kepada Lesbumi, Menag menyampaikan harapannya, mudah-mudahan Lesbumi betul-betul bisa memanfaatkan budaya dalam konteks bagaimana kita menata peradaban kehidupan kita bersama ini. Menurutnya, bila dikaitkan dengan budaya dan agama, dua hal yang tentu meski bisa dibedakan tapi tentu tidak bisa dipisahkan karena seperti sekeping mata uang logam yang meski antara sisi dengan sisi yang lain itu bisa kita bedakan, tapi hakekatnya ini adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karenan memiliki relasi dan keterkaitan yang begitu erat.

“Budaya hakekatnya adalah memadukan antara religi dengan tradisi inilah yang sebenarnya terkadang atau seringkali disalahpahami justru oleh umat Islam sendiri, karena kemudian implementasi nilai-nilai agama itu berbeda-beda di satu daerah dengan daerah lain, itu sesungguhnya bukan karena nilainya yang berbeda, prinsip-prinsip dasar Islam itu sama, tapi bagaimana implementasi nilai-nilai itu inilah yang kemudian menyebabkan banyak keragaman, karena situasi dan kondisi seringkali ikut mempengaruhi bagaimana penerapan nilai-nilai yang sesugguhnya bersifat universal itu,” urai Menag.

Dikatakan Menag, dirinya sering menyatakan diberbagai kesempatan nilai tentang penghormatan terhadap perempuan. Itu semua kita sepakat (ittifaq) tidak ada perbedaan apapun mahzabnya, di mana pun kita berada, semua kita sangat meyakini bahwa Islam menjunjung tinggi untuk menghormati dan memuliakan perempuan, tapi bagaimana penghormatan terhadap perempuan, inilah yang tidak sama. Prakteknya di negara-negara Timur Tengah misalya berbeda dengan di Indonesia.

“Perbedaan-perbedaan ini janganlah kemudian dihadapkan antara satu dengan yang lainnya, janganlah saling menyalahkan apalagi saling mengkafir-kafirkan. Perbedaan ini sesungguhnya adalah kekayaan kita, itulah berkah dan anugrah Allah SWT menciptakan keragaman, dan karena keragaman inilah lalu kita semua umat manusia mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menjalankan ajaran-ajaran agama,” tutur Menag.

Disinilah, kata Menag, budaya memiliki pengaruh yang sangat besar karena keterkaitan budaya dan religi juga termasuk sebaliknya bagaimana implementasi dalam tradisi kita tentu memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan.

Menag menekankan, bagaimanapun budaya adalah instrumen, (dan)  yang lebih diutamakan adalah isinya, dan isi itu adalah nilai-nilai agama. Karena terkadang kita dalam berkebudayaan seringkali terperangkap dengan luaran atau kulit luarnya lalu melupakan esensi atau substansinya.

“Selain menjaga tradisi kita juga harus memaknasi esensinya sehingga kemudian kita tidak kehilangan ruh atau jiwa dari budaya yang kita kembangkan yang kemudian menjadi tradisi kita,” imbuh Menag.

Dalam kesempatan tersebut diberikan penghargaan bagi para tokoh yang berperan dalam berdirinya Lesbumi NU di antaranya mantan Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri, tokoh film Usmar Ismail dan Asrul Sani yang diterima oleh perwakilan keluarga, yakni Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku putra KH. Saifuddin Zuhri, artis senior Mutiara Sani dan putra Usmar Ismail yang diserahkan ketua Lesbumi NU KH. Agus Sunyoto. (ISNU)

Sumber: Kemenag

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: