Menag Minta Sarjana Muslim Lantangkan Suara Islam Moderat

Minggu, 19 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Surabaya – Saat memberikan sambutan pada Wisuda Sarjana dan Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (18/03), Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak sarjana Muslim Indonesia untuk lebih lantang menyuarakan moderasi Islam. Menurutnya, moderasi menjadi kunci yang paling relevan dengan konteks keindonesiaan yang majemuk.

Menag menyoroti mayoritas kaum moderat yang masih lebih banyak diam. Menurutnya, suara yang lebih lantang dari para sarjana Muslim sangat diperlukan dalam mewujdukan Indonesia yang moderat dalam realitas keragaman.

“Untuk bisa menjadi moderat, kita harus lebih banyak menyuarakan suara moderasi,” terangnya

Menag mengakui bahwa orang-orang yang arif dan berwawasan luas memang cenderung tidak mudah kagetan dalam menghadapi perbedaan, bahkan seekstrim apapun. Mereka umumnya memiliki kemampuan untuk memahami dan memakluni perbedaan yang ada, meski sikap itupun bukan berarti menerimanya.

Kemampuan memahami itu tidak jarang menjadikan mereka untuk cenderung diam. “Sekarang menurut saya tidak bisa lagi seperti itu. Kaum moderat di republik ini harus speak up dan speak out, lebih banyak bersuara,” ujarnya.

“Saya sangat berharap perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, UIN Sunan Ampel salah satunya, untuk bisa berdiri di garis terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam,” tambahnya disambut tepuk tangan wisudawan.

Kalau saat ini tidak mulai lantang menyuarakan moderasi Islam, kata Menag, tidak ada yang bisa menjamin 5, 10, atau 100 tahun yang akan datang, bagaimana warna keberagamaan dan keberislaman di Indonesia. “Kita sudah punya contoh di beberapa negara lain, bagaimana sesama umat Islam dan sama-sama meneriakan takbir, tapi juga saling menumpahkan darah. Sesuatu yang tentu tidak diajarkan dalam Islam,” tuturnya.

Kepada para wisudawan UIN Surabaya, Menag berharap mereka dapat mencontoh dakwah Sunan Ampel yang sarat dengan hikmah. Sunan Ampel mengembangkan Islam di Indoensia dengan bijak sehingga mampu menjaga tradisi dan memberi ruh dari tradisi itu sehingga Islamisasi berjalan tanpa pertumpahan darah.

“Ini menjadi tanggungjawab kita semua. Harus kita jaga dan dikembangkan sesuai situasi dan kondisi yang mengitarinya,” pesannya. (ISNU)

Sumber: Kemenag

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: