Menajdi Arif dalam Menerima Segala Bentuk Perbedaan

Jum’at, 11 Agustus 2017
ISLAMNUSANTARA.COM – Pengamat Sosial dan Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Ahmad Fathoni Fauzan, menulis tentang Hakekat Perbedaan yang perlu dibaca dan direnungi untuk kita agar mengerti dan bisa menghargai sebuah perbedaan. Berikut tulisannya:
“Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.”
(HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Inti dari persaudaraan tak lain adalah dalam rangka menjalin cinta dan kasih sayang. Persaudaraan meniscayakan adanya kepedulian, tolong-menolong (at-ta’awun) antarsesama. Di zaman yang semakin akhir ini, tali persaudaraan semakin rapuh. Banyak di antara kita sebagai sesama muslim yang saling bertikai dan bermusuhan.
Dalam konteks inilah wasiat Rasulullah Saw. penting kita teguhkan kembali ke dalam kesadaran diri kita. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Menjalin ikatan persaudaraan adalah suatu kewajiban. Tidak dibenarkan bagi kita memutus tali persaudaraan sesama muslim. Apalagi didasari kebencian yang berlebihan. Karena itu, di dalam Al-Quran dijelaskan bagaimana tali ukhuwah itu dipererat dan tidak boleh bercerai-berai.
Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Ali ‘Imran, 3: 103).
Membangun persaudaraan dengan demikian, merupakan suatu kewajiban karena dengan begitu kita bisa saling menasihati, tentunya dalam hal kebajikan. Hadis nabi yang menyatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, adalah ajaran yang mensyaratkan adanya persaudaraan. Sebab, kita tidak mungkin mencintai orang lain jika dalam hati tak ada spirit persaudaraan. Dan persaudaraan dibangun salah satunya melalui cinta dan kasih sayang.
Nilai-nilai inilah yang harus kita teguhkan di tengah realitas perpecahan umat yang sampai saat ini masih terjadi. Kebanyakan di antara manusia lebih suka hidup tercerai-berai daripada rukun dan damai. Antarsatu sama lain saling menaruh curiga, iri dengki, mencela, menghasut, dan sebagainya. Bagaimana mungkin mereka saling menyayangi dan mencintai jika spirit persaudaraan yang ada telah luntur? Bagaimana antarsatu sama lain dapat membangun perdamaian jika iri dengki sudah tertanam kuat pada diri masing-masing manusia? Bagaimana mungkin mereka mengaharap syafaat nabi jika yang dilakukan hanyalah saling memfitnah dan menebar kebencian?
Dalam konteks inilah ajaran-ajaran hidup Rasulullah, khususnya yang berkaitan dengan upaya membangun tali persaudaraan, penting kita teladani. Rasulullah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana persaudaraan itu dibangun tanpa melihat perbedaan suku, ras, dan golongan apapun. Bahkan, kepada mereka yang memiliki keyakinan berbeda sekalipun nabi tetap menyambung tali persaudaraan. Bagi Rasulullah, semua manusia itu bersaudara. Karena bersaudara, maka kita wajib mencintai dan menolongnya.
Penghargaan Rasulullah kepada orang-orang Nashrani, mislanya, membuktikan bahwa beliau adalah sosok yang betul-betul menginginkan persuadaraan dan perdamaian. Rasulullah sangat mencintai mereka sebagaimana beliau juga mencintai dirinya dan pengikutnya sendiri. Walaupun berbeda keyakinan, Rasulullah tidak membeda-bedakan dan bahkan tidak memprioritaskan di antara mereka untuk disantuni. Hati beliau betul-betul lapang menerima segala perbedaan.
Kita harus banyak mengambil pelajaran dari apa yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah. Sebab, jika kita hidup di dunia ini masih selalu mempersoalkan perbedaan-perbedaan, maka rahmat Tuhan tidak akan tercurahkan. Bukankah perbedaan itu adalah rahmat, dan Tuhan sendiri menginginkan hamba-hamabaNya hidup dalam kerukunan dan perdamaian?
Dengan demikian, kedewasaan hati kita memang harus selalu dilatih untuk arif dalam menerima segala bentuk perbedaan. Sebab, konflik sosial yang terjadi di mana-mana seringkali dilatarbelakangi oleh kecenderungan masing-masing manusia yang tidak memahami hakikat perbedaan, sehingga siapa pun yang berbeda dengan diri atau kelompoknya maka harus disingkirkan dan tidak dianggap sebagai saudara.
Jika sikap hidup seperti itu masih kita biarkan, dan bahkan kita ternak dalam hati, maka kita tidak akan mendapatkan syafaat nabi dan rahmat dari Allah Swt. Karena itu, di tengah kehidupan yang kian memasuki kerentaannya ini, mari kita belajar kepada Rasulullah untuk meneguhkan tali persaudaraan. (ISNU)
Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: