Mencontoh Toleransi Kiai Hasyim Muzadi

Sabtu, 18 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Pada tanggal 23 Mei tahun lalu (2016), Ketika KH Ahmad Hasyim Muzadi (1944-2017) turun dari mobil sedan hitam, , wajah beliau masih pucat pasi. Beliau di sambut Bupati Purworejo dan para tokoh NU memasuki ruang jamuan pendopo kabupaten.

Pada seminggu sebelumnya, kami panitia Halaqah Kebangsaan sempat was-was. Yah, di koran disebutkan, beliau  sedang sakit dan dirawat sebuah rumah sakit di Jakarta.

“Apa sebaiknya kita cari pendamping untuk beliau, siapa tahu beliau masih sakit dan tidak bisa hadir,” usulku. Teman-teman Lakpesdam NU Purworejo mengamini. Namun demikian, beberapa hari kemudian, konfirmasi kehadiran beliau kami terima.

Di Aula Pendopo Kabupaten Purworejo yang sudah sesak oleh warga Nahdliyyin, beliau memasuki arena dengan dipapah seorang asisten. Itulah terakhir saya bertemu dengan sosok pemimpin pesantren, tokoh NU dan Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) tersebut.

Banyak hal yang beliau sampaikan, dengan bahasa yang mudah diterima oleh rakyat awam. Sesekali juga humor beliau keluar memecah kesunyian. Karena kondisi yang kurang fit, dalam masa penyembuhan, beliau hanya sebentar memeberi ceramah, sekitar satu jam, sebuah waktu yang singkat untuk penceramah NU.

Di akhir ceramah, beliau mengulangi apa yang pernah disampaikan dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin World Conference on Religions for Peace (WCRP) dan ICIS, dalam sidang PBB di Jenewa, Swiss sebagai berikut:

“Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia. Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.”

“Kalau yang jadi ukuran adalah GKI Yasmin Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai. Kalau ukurannya pendirian gereja, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.”

“Kalau ukurannya Lady Gaga dan Irsyad Mandji, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan intelektualisme kosong?”

“Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI/ Polri/ Imam Masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM? Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis?

“Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekedar Westernisme,” kata kiai Hasyim, panjang lebar, diiringi riuh tepuk tangan hadirin.

Beruntung saya pernah bertemu dan mencium tangan beliau. Sebelumnya, saya tahu beliau hanya dari Majalah Aula, yaitu majalah NU legendaris terbitan PWNU Jawa Timur, yang sampai kini juga masih terbit. Majalah-majalah itu adalah koleksi ayah saya yang gila banget dengan NU. Semenjak Kiai Hasyim aktif di MWC NU, rekam jejak dan pemikirannya tertuang di Aula, sebuah majalah yang beliau pernah memimpinnya. Majalah-majalah tua itu sekarang masih saya simpan dengan rapih.

Ketika nyantri di Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, kiai saya – KH Achmad Chalwani – juga sering berkomentar tentang beliau. Di kemudian hari, Kiai Hasyim banyak di undang untuk mengisi ceramah di haflah Khataman pesantren kami.

“Orang NU, khususnya yang muda-muda, perlu mencontoh Kiai Hasyim Muzadi. Beliau berkarier di NU secara tertib – seperti keinginan yang pernah diungkap Mbah Wahab Chasbullah – yaitu dari tingkat ranting sampai Pengurus Besar. Jadi beliau tahu persis persoalan organisasi. Ketika Kiai Hasyim  memimpin PWNU Jawa Timur, aset PWNU lebih kaya dari PBNU,” tutur sang kiai, kurang lebih, dalam suatu kesempatan, kepada kami para pemuda NU.

Ketika saya mengikuti sebuah pengkaderan NU, Wasekjen PBNU KH Abdul Mu’im DZ juga pernah mengungkapkan, bahwa Kiai Hasyim memiliki keinginan besar, bahwa NU menjadi kekuatan poros dunia. “Menjelang satu abad NU, kita ingin NU menjadi rujukan Islam dunia, seperti Vatikan,” ungkapnya. “Untuk itu, bersama tokoh NU lain, para kiai pemimpin kita tak takut memasuki wilayah konflik Timur Tengah seperti di Afganistan, misalnya, untuk memediasi dan membuka kepengurusan NU,” imbuhnya.

Kini, beliu telah dipanggil kehadirat Ilahi Rabbi. Saya jadi teringat sebuah statemen Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhori)

Ditengah situasi bangsa yang sedang tidak menentu ini, kepergian Kiai Hasyim selaku ulama, watimpres dan tokoh bangsa, sungguh pukulan telak bagi pemuda. Yah, kita kehilangan seorang tokoh yang menjadi rujukan dan teladan, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni segala kesalahannya dan menerima amal kebajikannya.

Dan semoga, santri dan generasi muda Islam yang tersebar di pesantren, madrasah, sekolah dan kampus-kampus, mampu mencontoh beliau, baik dari gerakannya, pemikirannya, maupun cita-cita besarnya. Amin Allahumma Amin.

Tulisan ini saya akhiri dengan salah satu Sabda Rasulullah SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani:

“Khudzu al-ilma qabla an yadzhaba! Qalu: Ya Rasulallah, wa kaifa yadzhabu? Qala: Inna dzahaba al-ilmi dzahabu hamalatihi”. “Pelajarilah ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi? Rasulullah menjawab: Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama).”

Selamat jalan, Kiai Hasyim. Semoga kami – generasi muda NU – mampu meneladanimu.

Ditulis oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun kader muda NU, pegiat media online. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: