Mengenal dan Mewaspadai Bahaya Wahabi di Indonesia

Senin, 20 Februari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Munculnya beberapa aliran seperti, Salafi Wahabi dan Hizbut Tahrir di Indonesia bukanlah mendamaikan umat Islam justru perpecahan yang terjadi dikalangan umat Islam. Islam melarang melakukan perbuatan kekerasan dan perpecahan, Islam adalah agama yang ramah, santun, yang menjunjung perdamaian, persaudaraan antar sesama. Salafi Wahabi adalah kelompok yang mengusung misi modernisasi agama dan perintisnya adalah Muhammad bin Abdil Wahhab di Nejd. Beliau adalah pengikut madzhab Imam Ahmad, akan tetapi dalam berakidah beliau mengikuti Ibnu Taimiyah.

Berikut ini adalah kultweet sejarah tentang sejarah politik dan kekejaman wahabi sejak dari berdirinya hingga sekarang, yang memang harus diketahui untuk dilawan. Ditulis oleh Cak Utomo, Banser NU.

  1. Istilah Wahabi acap berseliweran di hadapan kita, tetapi belum tentu diantara kita tertarik untuk mengetahui siapa Muhammad bin Abdul al-Wahhab (1703-1792) – sosok di balik istilah Wahabi.
  2. Cendekiawan muslim Fazlur Rahman, dalam buku Islam (1984) mendeskripsikan ajarannya sebagai “sayap kanan ortodoksi yang ekstrim” di wilayah Arabia tengah.
  3. Para sejarawan menulis kemunculan gerakan pemurnian yang dicetuskannya tidak terlepas dari sisa-sisa situasi ketegangan-ketegangan antara Islam ortodoks dan Sufisme akhir zaman pertengahan.
  4. Dibayang-bayangi ajaran Ibnu Taimiyah (wafat 1328), “dialah (Wahhab) pencetus gerakan pemurnian, Puncaknya adalah ketika kaum ortodoks bangkit di provinsi Kerajaan Utsmani karena krisis yang dihadapi Islam di masa itu,” tulis Fazlur.
  5. “Dia percaya bahwa krisis saat itu paling baik dihadapi dengan kembali secara fundamental kepada Al-Quran dan Sunnah,” demikian analisa Karen Armstrong dalam buku Sejarah Islam (2014).
  6. Wahhab pun mengutuk kepercayaan populer pada kekuatan para wali sebagai wasilah (perantara) dan mengutuk pemujaan kaum Syiah terhadap makam para Imam.
  7. Dalam perjalanannya, dia kemudian menjalin hubungan dengan kepala suku setempat, raja Saud, yang kemudian menerima pandangan-pandangan keagamaannya.
  8. “Dari tempat itulah, gerakan Wahabi meluas secara militer dari Najd ke Hijaz dan kota suci Mekkah dan Madinah pun jatuh kekuasaan Wahabi,” kata Fazlur Rahman.
  9. Walaupun sempat terusir oleh pasukan Turki Utsmani, keturunan keluarga Saud merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Kelak lahirlah kerajaan Saudi Arabia tahun 20-an yang didasarkan “cita-cita Wahabi”.
  10. Antropolog Akbar S Ahmed, penulis buku Living Islam (1997), mengatakan, Arab Saudi yang didominasi ajaran Wahabi, memiliki penduduk sedikit yaitu sekitar sepuluh juta, namun pengaruhnya sangat besar.
  11. Mengapa? “Karena penghasilan sumber minyaknya dan perannya sebagai penjaga kota-kota suci Mekkah dan Madinah,” kata Akbar S Ahmed.
  12. “Wahabi bukan teroris, Wahabi antiteror tetapi ajarannya satu digit lagi jadi teroris,” demikian Ketua Pengurus besar Nahdlatul Ulama (NU), Said Agil Siraj, dalam berbagai kesempatan.
  13. Menurut Karen Armstrong, ketika berupaya melepaskan diri kekuasaan Utsmani yang berpusat di Istanbul, Muhammad ibn Abdul al-Wahhab menyatakan bahwa karena Sultan Utsmani “tidak sejalan dengan visinya tentang Islam yang benar”, maka mereka “murtad dan layak dihukum mati.”
  14. Fazlur Rahman (Islam, 1984) mengatakan, gerakan dakwah Ibnu Abdul Wahhab di masa hidupnya melahirkan kekerasan dan penggunaan kekuatan militer yang besar.

Bahaya Wahabi di Indonesia

  1. Dalam sejarah, Wahabisme diusung ke Sumatera oleh para haji yang “menghasilkan gerakan Paderi”.
  2. kasus wilayah Melayu-Indonesia, gagasan-gasasan pembaharuan yang disebarkan para ulama sebelumnya menemukan ekspresi yang radikal dalam gerakan Paderi.
  3. Walaupun kebanyakan ulama saat itu mendukung pendekatan evolusioner dan transformatif terhadap pembaharuan dan syiar Islam. “Kelompok Wahabi memilih pendekatan lebih radikal dan melancarkan jihad melawan kaum Muslim yang tidak mau menerima ajaran-ajaran mereka.”
  4. Upaya penyebaran keyakinan ajaran Wahabi itu dilakukan “melalui aksi militan” di berbagai masyarakat di Nusantara pada tahun 1800-an.
  5. Pada tahun 1920-an, isu Wahabi muncul kembali dalam wacana keislaman di Nusantara, ketika ketika kekuasaan Wahabi-Saudi bangkit lagi dan kembali menguasai Mekkah dan Madinah.
  6. Ketika itulah, kaum Muslimin Indonesia merasa ini ‘gawat kalau begini’, sehingga para ulama Indonesia membentuk Komite Hijaz, yang terdiri kiai-kiai dari pesantren.
  7. Hasilnya, lanjutnya, pemerintah Saudi mendengarkan tim komite hizaj sehingga tidak terjadi penggusuran paham non-Wahabi. “Para jamah haji tetap bisa mempraktekkan Islam yang oleh Wahabi dianggap tidak murni. Misalnya, mengajarkan tasawuf, mengajarkan tarekat, itu tetap masih ada.”
  8. Perkembangan baru terjadi pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, yaitu ketika Saudi Arabia mengalami boom minyak.
  9. Wahabi melakukan nasionalisasi terhadap lembaga pendidikan Islam, termasuk sebuah madrasah yang didirikan orang Indonesia, yaitu Madrasah Darul Ulum di Mekkah.
  10. Wahabi kemudian melebarkan sayap di Indonesia, negara yang berpenduduk muslim yang paling besar di dunia. Kedua jalur usaha ini adalah Pendidikan LIPIA beasiswa perguruan tinggi di Arab Saudi dan jalur haji/umroh.

11.. Wahabi Salafis adalah gerakan reformasi ultra-konservatif yang menganjurkan Muslim kembali ke zaman Al-Quran.

  1. Dari LIPIA yang mengajarkan madzhab Wahabi, muncullah beberapa lembaga dan pusat gerakan Wahabi lain di Indonesia.
  2. Sedangkan yang “Alumni Saudi” sekarang terlihat dalam banyak bidang organisasi, memegang jabatan-jabatan di Muhammadiyah, Partai Keadilan Sejahtera, dan kabinet. Sebagian juga telah menjadi Kiai dan guru agama, menyebarkan Salafisme Wahabi ke seluruh nusantara.
  3. Pasca reformasi, Pengaruh pelaksanaan “kekuatan-lunak” besar-besaran Arab Saudi terhadap warga Indonesia baru mulai menjadi jelas.
  4. Walaupun Kyai-kyai yang berpendidikan Saudi di Indonesia tak semua “termakan” doktrin Wahabi. Namun tak sedikit yg terpengaruh dan melakukan pembasisan gerakan Wahabi di Indonesia.
  5. Yang setia dengan doktrin Wahabi ini kemungkinan menyebabkan kecondongan ke kanan dalam ideologi nasional, yang mendorong ektrimisme atau terorisme atau.
  6. Zaitun Rasmin, sarjana dari Universitas Islam Madinah, dan Bachtiar Nasir Madinah Islamic University di Arab Saudi. Keduanya dedengkot salafi wahabis di Indonesia, pemimpin aktivis yang mengatur demonstrasi garis keras tahun 2016.
  7. Ada tiga arus ideologi Salafi di Indonesia: soft/non-vokal, turut berpolitik dan jihadis. Salafi sedang bertumbuh, menyeruak ke semua sector. Pada saatnya 3 arus bertemu pada satu titik gerakan.
  8. jejaring wahabi salafis mulai tumbuh secara agresif hampir di semua provinsi di Indonesia. Mulai dari pola berbasis lembaga pendidikan, lembaga sosial keagamaan, distribusi ke jalur partai politik, dan pola lain yang by design.
  9. Akankah Wahabi Salafis mampu merebut panggung kuasa agama dan politik di Indonesia?

Jika Anda masih ragu kalau Bachtiar Nasir dan Zaitun Rasmin adalah dedengkot wahabi, silakan lihat sepak terjangnya di media-media yang mengungkap kebrutalan cara mereka melakukan gerakan yang intoleran di negeri ini. (ISNU)

Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: