Mengenal dan Mewaspadai Gerakan Khilafah Pasca Bubarnya HTI

Kamis, 09 November 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Oraganisasi Hizbut Tahrir Indonesia resmi dibubarkan oleh pemerintah melalui Perppu Ormas No. 2 tahun 2017, ditambah dengan disetujuinya peraturan pengganti Undang-undang tersebut menjadi UU resmi oleh DPR RI, faham-faham yang bertentangan dengan asas negara, terutama Pancasila, secara otomatis akan ditindak dan dibubarkan pemerintah. Peraturan yang langsung ditandatangani oleh PresidenJoko Widodo tersebut juga sebagai usaha pemerintah untuk memperkuat keutuhan dan eksistensi NKRI. Sebagai UU baru, ormas pertama kali yang terjerat UU tersebut adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),  yakni ormas Islam yang memiliki cita-cita menjadikan khilafah sebagai pengganti Demokrasi dan Pancasila. Tegas kata, HTI sudah resmi dibubarkan. Artinya, HTI wajib hengkang dari Indonesia!

Akan tetapi, apakah setelah HTI dibubarkan para pangusungnya juga akan bubar? Apakah ideologi khilafah yang sebelumnya terus dikampanyekan di telinga masyarakat awam secara langsung hilang juga? Tentu jawabannya tidak. Karena ada sisi perbedaan antara ide dan sekumpulan masyarakat. Ide tidak akan pernah hilang, walaupun kumpulan dari yang memiliki ide tersebut diberangus, sementara sekumpulan tersebut bisa saja hilang akan tetapi ide (ideologi) tidak akan pernah hilang dimakan Perppu Ormas. Ide merupakan kerja akal setiap individu, sementara kelompok adalah hasil kesepakatan bersama yang bersifat dohiri.

Pernyataan di atas yang harus menjadi perhatian dan kewaspadaan siapa saja, terutama para pemuda dan Mahasiswa. Karena pada faktanya, masih ada gerakan yang merupakan underground HTI yang memiliki cita-cita mendirikan khilafah di negeri ini. Gerakan tersebut bernama “Gerakan Mahasiswa Pembebasan” yang merupakan gerakan mahasiswa yang memiliki pemikiran (fikrah) dan perjuangan seperti HTI, yang basisnya adalah kampus-kampus. Memang, secara struktural atau kelembagaaan, gerakan mahasiswa tersebut tidak berada di bawah HTI atau sebagai Badan Otonom (BANOM). Artinya, gerakan ini tidak bisa dibubarkan secara kelembagaan meskipun HTI telah dibubarkan, sebab bukan merupakan struktural dari HTI.

Gerakan Mahasiswa tersebut lahir atas dasar bahwa kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia ternyata sampai sekarang belum mampu membuat bangsa ini mandiri, terutamanya dalam ketergantungannya kepada negara-nagara Barat dan negara kafir lainnya. Negeri yang kaya raya ini pun belum mampu untuk menyejahterakan rakyatnya. Ketimpangan dan permasalahan di berbagai sisinya tak bisa ditutup-tutupi, seperti kenaikan BBM yang sering mencekik masyarakat, tarif listrik yang melambung dan harga bahan pokok yang terus melonjak. Semua itu menjadi fakta akan belum mampunya bangsa ini lepas dari kebergantungan kepada negara Barat yang mayoritas non Islam, padahal negara ini mayoritas diduduki orang Islam yang semeskinya bisa mengelolah kekayaan bangsa ini agar menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.

Mahasiswa dengan idealismenya memiliki potensi yang cukup besar dalam proses perubahan sosial dan politik. Akan tetapi dalam kenyataannya, selama ini mahasiswa banyak diwarnai oleh berbagai gerakan yang tidak atau kurang berani mengedepankan ideologi Islam. Oleh karena itu diperlukan sebuah jaringan dakwah kampus se-Indonesia untuk mengkampanyekan pemikiran-pemikiran Islam dan solusi-solusi Islam atas segala permasalahan serta untuk melahirkan kader-kader dakwah mahasiswa yang suatu saat akan terjun kemasyarakat (Web Resmi GEMA Pembebasan).

GEMA Pembebasan diresmikan di Auditorium Pusat Kajian Jepang Unversitas Indonesia (UI) pada tanggal 28 Februari 2004. Setelah terbentuk, organisasi ini terusmenyebar di Indonesia mulai tingkat pusat hingga perguruantinggi dengan membentuk struktur baku Pengurus Pusat (PP), Pengurus Wilayah (PW), Pengurus Daerah (PD) dan Pengurus Komisariat (PK).

Yang patut kita cermati bahwa, gerakan mahasiswa ini memiliki cita-cita menjadikan Islam sebagai solusi segala permasalahan yang dihadapi bangsa. Bagi gerakan ini, Islam adalah segalanya yang dapat mengatur segala sendi kehidupan umat manusia.

Selain hal itu, Gerakan Mahasiswa Pembebasan juga memiliki cita-cita menjadikan khilafah islamiyah sebagaai puncak dari gerakannya. Hal itu bisa dibuktikan, misalnya, aksi yang dilakukan oleh gerakan underground HTI ini dalam menuntut tegaknya Syariah dan Khilafah sebagai ganti Demokrasi di depan Istana Negara Jakarta (2012); aksi di Monas untuk menolak Perppu Ormas (2017), dan aksi-aksi lainnya yang melabelkan gerakan tersebut sebagai gerakan pengusung khilafah sebagaimana HTI, walaupun HTI sendiri telah dibubarkan oleh pemerintah.

Sebagaimana umunya Gerakan mahasiswa, Gema Pembebasan bergerak di tingkat kampus-kampus, meskipun juga tidak jarang melakukan aksi di berbagai tempat kepemerintahan daerah atau bahkan pusat. Ada beberapa kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Mahasiswa tersebut di dalam kampus-kampus dalam rangka menyebarkan faham dan ideologinya kepada para Mahasiswa, misalnya sebagai berikut:

Upgrading internal Anggota

Kegiatan ini adalah kegiatan intenal yang dilakukan oleh anggota Gema Pembebasan. Kegiatannya dilakukan dengan memotivasi anggota Gerakan tersebut untuk kembali bersemangat dalam menegakkan cita-cita menjadikan Islam sebagai solusi dan khilafah sebagai sistem ketatanegaraan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan di bascamp Gerakan Mahasiswa tersebut dengan dihadiri oleh seluruh anggota di setiap tingkatannya.

Ngobrol dengan Mahasiswa

Kegiatan ini adalah kegiatan mempromosikan gerakan dan pemikiran-pemikiran Gerakan Mahasiswa Pembebasan. Atau sederhananya adalah kegiatanpra-pengkaderan anggota. Kegiatan ini biasanya dilancarkan oleh para anggota Gerakan Mahasiswa tersebut kepada Mahasiswa-mahasiswa baru. Biasanya dilaksanakan setiap kegiatan Mahasiswa baru di setiap kampus-kampus tengah berlangsung. Kegiatan dengan mendekati mahasiswa tersebut dilakukan dengan cara ngobrol santai dan menawarkan gagasan-gagasannya, seperti gagasan solusi Islam di negara, gagasan khilafah, dan gagasan selainnya.

Focus Group Discussion (FGD)

FGD ialah kegiatan diskusi yang dilakukan oleh sekelompok anggota Gema Pembebasan. Biasanya diisi dengan penjabaran materi-materi tentang solusi Islam sebagai solusi segala masalah yang dihadapi Mahasiswa. Kegiatannya dilaksanakan dua minggu sekali di kampus-kampus. Kegiatan ini dalam rangka memberi pemahaman kepada para Mahasiswa,khususnya Gema Pembebasan, agar lebih matang menjadikan Islam dan khilafah sebagai solusi segala masalah kehidupan.

Kegiatan tersebut setelah HTI dibubarkan sering dibubarkan oleh pihak-pihak kampus karena dianggap menyebarkan ideologi-ideologi terlarang di negara yang itu bertentagan dengan Pancasila. Hal itu sebagaimana di UIN Jakarta, Universitas Pamulang, dan sebagainya.

Dialog Intelektual Kampus (Dialogika)

Jika FGD dilakukan hanya oleh anggota Gema Pembebasan, maka Dialogika adalah kegiatan diskusi yang diadakan oleh Gema Pembebasan tetapi menghadirkan gerakan Mahasiswa lain, seperti PMII, HMI, KAMMI, HIMA Persis, dan lainnya. Mereka diajak berbicara tentang isu-isu negara yang kekinian untuk kemudian diberikan solusi. Pada akhirnya Gema Pembebasan dalam setiap kegiatan yang dilakukan sebulan sekali tersebut menawarkan Islam sebagai solusi segala masalah yang dihadapi oleh pemerintah. Biasanya kegiatan tersebut dilaksanakan di kampus atau di tempat-tempat diskusi lainnya. Gema Pembebasan ingin meyakinkan kepada seluruh Grakan Mahasiswa bahwa Islam adalah solusi terbaik sepanjang masa.

AksiMahasiswa

Aksi Mahasiswa (Demo) yang merupakan salah satu kegiatan Gerakan Mahasiswa Pembebasan ini dilakukan dalam rangka memprotes kebijakan-kebijakan kampus yang baginya tidak sesuai dengan Islam. Kegiatan tersebut dilakukan oleh anggota-anggota Gema Pembebasan bertempat di kampus-kampus. Kegiatan tersebut tidak berbeda tujuannya, yaitu dalam rangkan menjadikan Islam sebagai kebijakan-kebijakan kampus yang tidak baik, dan meski dirubah dengan aturan Islam.

Gerakan Mahasiswa tersebut kini telah tersebar di berbagai kampus di Indonesia. Gerakan yang juga memiliki misi menjadikan khilafah sebagai titik akhir perjuangannya ini terus bergerak dengan alasan negara saat ini telah bobrok kareka tidak menjadikan Islam sebagai tata aturan kehidupan. Gerakan tersebut tidak bisa dibubarkan oleh pemerintah dengan dibubarkannya HTI. Sebab Gerakan Mahasiswa Pembebasan bukan Badan Otonom HTI, tetapi hanya memiliki pemikiran dan perjuangan seperti HTI. (ISNU)

Ditulis oleh Lufaefi, pemerhati Gerakan Khilafah Islamiyyah.

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: