Mengenal dan Mewaspadai Gerakan Radikalisme

Selasa, 09 Januari 2018
ISLAMNUSANTARA.COM – Sebagaimana sematan yang diberikan, kelompok radikal selalu menginginkan perubahan mendasar secara cepat dan keras.

Sekalipun kelompok ini terlibat bak kaum “bar-bar”, mereka selalu mempunyai strategi-strategi yang seringkali tidak dipikirkan banyak orang. Tak ayal, kelompok ini meskipun sudah dibunuh akarnya, tetap saja masih bermunculan. Ibarat ilmu rawa rontek, mati satu tumbuh seribu.

Mungkin sebagian dari kita sempat merasa aman mengingat dedengkot pelaku Bom Bali sudah di bui, bahkan hukum mati. Namun kenyataan berbicara lain. Hingga saat ini, kelompok radikalis-teroris masih berkelindan di alam semesta, tanpa terkecuali di Indonesia tercinta.

Mengapa radikalisme, sekalipun di musuhi dan dikutuk oleh mayoritas manusia masih saja tumbuh, bahkan semakin subur? Tidak lain dan tiada bukan jawabannya adalah pola dan strategi yang mereka terapkan sudah tertata rapih, sistematis, dan berkelanjutan.

Pertama, merasuk pada ranah alam bawah sadar manusia. Sebagaimana “para pesulap” tokoh radikal menyusup melalui trik-trik yang dapat memikat hati dan fikiran seseorang. Terhadap mangsa, kelompok radikal mampu menghipnotis dengan “rayuan gombal” yang dibungkus melalui dakwah dan jihad di jalan Allah, padahal sejatinya jalan mereka sendiri.

Pola-pola seperti itulah, jika orang awam, maka sudah hampir bisa dipastikan bakalan kemakan bujukan dan rayuan yang diam-diam menghanyutkan itu. Sama halnya dengan para kaula muda, yang jiwanya masih suka berkoar-koar. Secara psikologis, usia muda seperti ini, sangat mudah dipengaruhi.

Benar. Sebuah penelitian mutakhir menyatakan bahwa pemuda rentan terhadap ideologi radikal. Hal ini disebabkan oleh penyebaran radikalisme saat ini dibungkus dengan sangat menarik, sehingga terlihat menjadi sesuatu atau barang baru. Sebagai contoh, ideologi khilafah dinarasikan sebagai satu-satunya solusi permasalahan akut yang terjadi saat ini dengan membawa cerita “revolusi” yang diimpor dari kasus beberapa negara. Jika demikian yang terjadi, lantas hati siapa yang tak terpikat? Terlebih kamu yang masih unyu-unyu!

Kedua, memanfaatkan (menunggangi) momen spesial (tertentu). Kelopok radikal selalu bekerja keras untuk menyebarkan ideologinya agar mendapatkan pengikut yang tidak sedikit. Merekrut kader sebagai langkah besar dalam membentuk gerakan revolusi tak henti-hentinya digalakkan. Salah satu strateginya adalah “menunggangi” momentum tertentu. Misalnya dalam ranah kampus, mereka membuat forum group discusion (FGD). Dalam konteks dunia pendidikan yang lebih dini; memasukkan materi yang dapat membangkitkan ideologi radikal menghujam dalam peserta didik, dan tentunya masih banyak momentum lainnya.

Ketiga, memanfaatkan teknologi. Jihad di media sosial merupakan langkah dan agenda paling mutakhir yang digadang kelompok ini. Mudah sekali melucuti strategi dalam hal ini, yakni membuat berita provokatif, fitnah dan lain sejenisnya.

Semua itu dilakukan demi membuat opini publik. Setelah opini publik mereka giring sesuai dengan keinginan kelompok ini, masyarakat akan menjadi benci terhadap kelompok lainnya. Tujuan paling utama kelompok radikal dalam jihad melalui media sosial adalah memecah-belah rakyat Indonesia. Banyak contoh kasus yang digoreng sedemikian rupa oleh kelompok radikal.

Maka, dalam konteks melucuti strategi kelompok radikal, masyarakat Indonesia, mau tidak mau, suka tidak suka, wajib membuat narasi narasi anti-radikalisme. Apapun posisi, pekerjaan, dan pendidikan kita, semua bisa berkontribusi dalam memerangi kelompok radikal. Sebagai contoh, produser. Ia dapat membuat suatu film yang dapat menggugah kesadaran umat manusia bahwa radikalisme yang berujung terorisme itu bukanlah perintah mulia agama. Jika Anda seorang Ibu Rumah Tangga, belajarlah ilmu agama dengan guru atau kyai yang memiliki integritas tinggi; mempunyai wawasan keislaman dan keindonesiaan yang matang. Tidak bersikap fanatik terhadap orang lain.

Jika Anda seorang penulis, mari menulis untuk mencerahkan sahabat atau saudara kita di sana yang memiliki pemahan keagamaan yang tidak tepat. Menarasikan pesan perdamaian di media sosial juga merupakan salah satu cara bijak untuk mengurangi hegemoni kaum radikal yang telah memperkosa agama!!(Isnu)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan