Menteri Agama Imbau Masyarakat Madura Waspadai Hoax

Senin, 16 Januari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Pamekasan – Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Saifuddin berkunjung ke Pesantren Banyuanyar Kabupaten Pamekasan Sabtu (14/1), dalam kunjungan tersebut, Menag merangkul semua elemen masyarakat untuk bersatu menjaga keutuhan bangsa. Ia mengaingatkan masyarakat agar menghindari dan mewaspadai berita fitnah atau hoax.

Menteri Lukman juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menghormati perbedaan. Sebab kemerdekaan Indonesia terwujud lantaran diperjuangkan dengan semangat gotong-royong leluhur dengan merangkul semua keragaman yang ada di tubuh bangsa Indenesia baik budaya, etnis, agama, maupun keyakinan.

Hal ini disampaikan Lukman saat berkunjung ke Pamekasan untuk menghadiri temu alumni sekaligus pelantikan pengurus Persatuan Alumni Darul Ulum Banyuanyar (Peradaban) di Pondok Pesantren Banyuanyar, Sabtu (14/1).

Di hadapan para alumni, Menag mengajak semua pihak untuk menyikapi perbedaan secara bijak dan tidak menyebarkan berita fitnah akibat sikap egosentris golongan atau kelompok organisasi yang mulai goyah.

“Umat Muslim harus peka menyikapi permasalahan kegaduhan yang terjadi di bangsa ini. Kita sekarang tidak bisa menafikan sosial media yang serba instan, tinggal memencet tombol kebutuhan yang kita inginkan,” kata Lukman.

Menurut Lukman, ketika membicarakan soal kelompok golongan masyarakat, perbedaan paham keagamaan tidak hanya terjadi antara satu agama dan agama lain, tetapi juga terjadi pada internal suatu agama.

“Karenanya, sikap saling menghargai perbedaan menjadi penting dan itu perlu diterima oleh masyarakat Indonesia,” kata Lukman.

Ia mengutip pendapat Imam Syafi‘i yang mengatakan, “Pendapatku yang paling benar menurutku, tapi bukan berarti aku merasa yang paling benar. Karena, boleh jadi pendapat orang lain yang berbeda denganku juga mengandung kebenaran.”

Ketika masyarakat Indonesia kurang menerima perbedaan dan sulit menerima sikap toleransi sehingga melakukan cara untuk saling menunjukkan sikap eklusif, artinya membenarkan kelompoknya dan tidak menghargai kelompok golongan yang lain, maka propaganda tumbuh subur.

“Inilah yang kami maksud. Hoax itu akan muncul untuk mempropaganda masyarakat dengan melakukan doktrin-doktrin kebohongan. Seperti apa itu? Informasi-informasi yang berbau fitnah alias tidak benar,” terang Lukman.

Selain itu, kata Lukman, keragaman merupakan sunatullah. Dalam suatu agama pun banyak terjadi keragaman pemahaman. Hal ini tidak hanya terjadi pada agama Islam tetapi juga terjadi pada agama lain.

Perbedan pemahaman sekaligus menunjukan bahwa manusia memiliki banyak keterbatasan. Dengan segala keterbatasannya, manusia tidak mungkin dapat menangkap secara paripurna kehendak Tuhan. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: