Menteri Lukman Hakim Ajak Kaum Muda Sikapi Keragaman dengan Bijak

Minggu, 30 April 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta  – Kaum muda sebaiknya melihat keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia dan lalu kemudian mensikapinya secara lebih bijak. Realitas keindonesiaan adalah keragaman, dan dalam perspektif agama, keragaman adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dan sesuatu yang given, karena Tuhan sadar betul manusia adalah mahkluk yang amat sangat terbatas.

Dan karena keterbatasannya, terang Menag, maka Tuhan menurunkan berkahNya dengan menciptakan keragaman di antara kita, agar yang beragam ini di tengah keterbatasannya bisa saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain.

Demikian ajakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terhadap kaum muda saat membuka resmi acara Temu Kebangsaan Orang Muda 2017 yang mengusung tema Orang Muda Bersinergi dalam Berbangsa dan Bernegara Kedua yang ini digelar di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin No.6 Jakarta, Jumat (28/4).

“Karenanya, keragaman haruslah dari sisi positifnya, bukan sebaliknya, keragaman lalu kemudian membuat kita saling menegasikan, saling menafikann antara satu sama lain,” ujar Menag.

Menag dalam sambutannya menyampaikan, temu kebangsan ini merupakan forum perjumpaan yang memiliki makna srategis tidak hanya dalam rangka bagaimana kaum muda yang mewakili masjlis-majlis agama atau lintas agama saling bertemu dan berinteraksi, tapi juga dalam kerangka menyamakan persepsi bagaimana menatap bangsa saat ini ke depan agar kita berada dalam kondisi lebih baik.

Oleh karenanya, tutur Menag, dalam perspektif agama, agama dilihat dari dua pendekatan atau dua sudut pandang, dari luar dan dari dalam. Kalau melihat agama dari sisi luar (eksoteris), kita akan melihat keragaman yang sangat banyak. Jangankan antara satu agama dengan agama lain, dalam satu agama sendiri kita akan melihat beragam cara untuk kita bagaimana mendekatkan diri pada Tuhan, itu yang disebut dengan peribadatan, tata cara berkomunikasi dengan Tuhan dan sesamanya yang sifatnya formal aturan baku pada masing-masing agama, yang dalam Islam dikenal dengan istilah syari.

“Inilah satu sisi, sisi luar dalam melihat agama, akan kita temui keragaman tersebut,” ucapnya.

Menag mengilustrasikan, tata cara beribadah di umat Islam sangat beragam, juga di umat Kristiani dan seterusnya, kita akan temui banyak mahzab dan aliran-aliran, yang jangankan antar agama lain, satu agama saja beragam.

“Jadi keragaman itu sesuatu yang given, yang tidak mungkin kita seragamkan. Kita sebagai mahkluk, jangan pernah terobsesi dan berpretensi untuk menyeragamkan itu semua, karena itu memang kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa agar kita diberikan keleluasaan dan kemudahan untuk memilih mana yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang kita alami, sesuai keyakinan kita masing-masing,” ujar Menag.

Selanjutnya, ujar Menag, kalau kita melihat dari perspektif sisi dalam (esoteris), maka jangankan antara mahzab-mahzab satu agama berbeda, antara satu agama dengan lain kita akan temui perbedaan, semua bicara pada tujuan yang sama, esensi atau substansi agama hakekatnya sama. Semua agama bicara tentang keadilan, tentang persamaan hukum, semua agama bicara tentang perlindungan HAM dan seterusnya, banyak sekali nilai-nilai universal, seperti jangan menipu, berbohong, jangan menyakiti satu salam lain, semua ada dalam setiap agama, itulah sisi dalam agama.

“Oleh karenanya, dalam konteks Indonesia, di tengah kemajemukan dan keragaman bangsa ini, maka kalau kita bicara agama, maka saya mengajak kita semua untuk lebih mengedepankan sisi dalam dari agama. Karena kalau kita bicara tentang sisi dalam, kita tidak akan menjumpai perbedaan persepsi atau pro kontra, karena kita punya tujuan yang sama, karena hakekat agama adalah memanusiakan manusia,” ajak Menag.

Dan kalau bicara dari sisi luar dari agama, lanjut Menag, kita akan melihat perbedaan-perbedaan, dan kalau perbedaan seperti itu yang ditemui, tentu dalam upaya menjaga kemajemukan dan keragaman bangsa ini, maka toleransi adalah cara yang diajarkan oleh para pendahulu kita, para pendiri bangsa untuk bagaimana menghargai dan perbedaan yang ada, kemajemukan itu adalah anugrah dan berkah bagi kita sebagaimana dihendaki Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Selaku Menag, saya berharap teman-teman muda, wakil-wakil dari setiap majlis agama yang ikut dalam temu kebangsaan orang muda kedua ini, mudah-mudahan dalam prosesnya nanti saling bisa berbagi, berbagi pengetahuan, pengalaman dan tentu pada akhirnya nanti mampu memimpin adik-adiknya pada angkatan ketiga dan seterusnya, dan ini menjadi satu kesinambungan,” ucap Menag.

Menag berharap anak-anak muda tersebut memiliki wawasan kebangsaan yang inklusif, yang saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Inilah yang menjadi garda terdepan sekaligus mengawal realitas keindonesiaan kita yang majemuk ini.

Tampak hadir sejumlah tokoh lintas agama dan pejabat di lingkungan Kementerian Agama. Tampil sebagai narasumber dalam kegiatan ini, cendekiawan Yudhi Latief, dan anggota DPR/MPR RI Ahmad Basarah. Kegiatan ini didukung penuh Kementerian Agama juga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. (ISNU)

Sumber: Kemenag

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: