Merawat Budaya Demi Keutuhan NKRI

Sabtu, 15 April 2017

ISLAMNUSANTARA.COM  – Situasi dan kondisi kebangsaan saat ini mengalami berbagai benturan dari berbagai sikap intoleransi yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta konflik kepentingan pilkada yang mengusung persoalan keagamaan dan berbagai problem seperti terorisme atas nama agama, yang begitu derasnya disuguhkan kepada masyarakat Indonesia hingga dunia internasional. Sikap nasionalisme sebagai perekat sosial kini diterpa badai besar yang berasal dari sikap primordialisme oleh kelompok tertentu.

Peristiwa tersebut tentunya mengkwatirkan bagi bangsa kita, karena bukan tidak mungkin bagunan kebangsaan yang telah berdiri tegak akan digerus oleh kelompok-kelompok yang bertujuan melemahkan NKRI. Untuk merespon problem tersebut Nahdlatul Ulama (NU) melalui Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar Istighosah Kubro Minggu 9 April Tahun 2017.

Pergelaran Istighosah Kubro berawal dari intruksi para kiai, ulama sesepuh NU yang melakukan pertemuan di pondok Lirboyo, Kediri, pada akhir Februari 2017.

Kegiatan tersebut bertepatan peringatan Harlah NU ke 94 tahun 2017. Bertema *Mengetuk pintu langit, menggapai Nurullah* akan di hadiri Ketum PBNU, Rais Am PBNU serta PWNU Jatim PCNU se-Jatim dan di perkirakan dihadiri juga ratusan ribu warga Nahdliyin (warga NU).

Istighosah kubro menjadi bagian dari usaha untuk menjawab kegelisahan masyarakat terhadap persoalan yang sekarang di hadapi oleh bangsa Indonesia. Ini juga menjadi wujud kepedulian dan komitmen para kiai NU  terhadap persoalan kebangsaan, meliputi keumatan dan keagamaan.

Di Indonesia Istighosah diartikan sebagai dzikir atau wiridan yang dilakukan secara bersama-sama dan ditempat terbuka. Masyarakat NU di Indonesia melakukan Istighosah sebagai sarana untuk meminta pertolongan dari mara bahaya. Dzikir yang di baca dikalangan NU memakai dzikir yang dibakukan oleh Jamiyah ahli _Thariqah al-Muktbarah an-Nahdliyah_, ijasah dan Syaikhona Cholil Bangkalan. hal ini sudah menjadi tradisi bagi warga NU.

Momentum istighosah NU sejatinya sudah berjalan sejak lama di antaranya pada tahun 1990-an dan 1997 di pelopori para kiai NU yang berinisiatif mengajak warga Nahdiyin dan Bangsa Indonesia meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan penuh khusu dan syahdu, sehingga bisa membawa ketenangan jiwa dan persatuan bangsa.

Istighosah adalah memohon pertolongan atau meminta pertolongan kepada Allah SWT, selama ini kaum Nahdiyin sangat erat hubungannya dengan istghosah. Di semua tingkatan kepengurusan NU, selalu akrab dengan budaya istighasah dengan menggunakan istilah istighosah kubro, istighosah nasional, dan lain sebagainya.

Berkata Syeihkul Islam Ibnu Taimiah :  _Istighosah adalah meminta pertolongan, dalam rangka untuk menghilangkan musibah atau bencana_  Istighosah juga disebutkan dalam hadist Nabi, di antaranya : _Sesungguhnya matahari akan mendekat  ke kepala manusia di hari kiamat, sehingga keringat sebagian orang keluar hingga mencapai separuh telinganya, ketika mereka berada pada kondisi seperti itu, mereka beristighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam, Nabi Musa kemudian Nabi Muhammad. (H.R. Al-Bukhari)._

Anjuran tentang Istighosah yang dilakukan oleh NU sejatinya sudah ada pada zaman para Nabi.  Sehingga kedepan istighosah bisa lebih intens dilaksanakan oleh kepengurusan NU mulai dari Pusat, Wilayah, Cabang, Anak Cabang dan Ranting. Spirit istighosah kubro di Sidoarjo akan menjadi energi bagi warga nahdiyin dan bangsa indonesia yang saat ini mengalami ujian dalam berbangsa dan bernegara. NU terus berkomitmen dan istiqomah menjaga NKRI dari segala serangan faham radikalisme dan intoleran.

Semoga tradisi istighosah NU terus di rawat oleh kader muda NU yang berada di Banom NU (Ansor, Fatayat, ISNU, IPNU, IPPNU dan PMII), dengan demikian  kehidupan berbangsa dan bernegara dapat hidup damai dan sejahtera.**semoga (ISNU)

Sumber: Perisainusantara

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: