Merawat Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Jum’at, 04 November 2016

ISLAMNUSANTARA.COM – Organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan UNICEF pada akhir 2009 melakukan penelitian dan menyimpulkan sekitar 6 persen dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Nasib 94 persen sisanya bisa dikatakan mak jelas (tak jelas). Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, gemah ripah loh jinawi. Namun sayangnya hal itu hanya pada teks, belum menjadi fakta.

Pada 2013, Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menyatakan jumlah anak yatim di Indonesia tercatat mencapai 3,2 juta. Jumlah terbanyak berada di Nusa Tenggara Timur, 492.519 anak dan Papua sejumlah 399.519 anak.

Salah satu akhlak dan moralitas orang-orang mulia ialah memiliki kasih sayang dan berbuat baik pada anak yatim. Dan perilaku tersebut, memiliki pahala setara dengan jihad.

Rasulullah SAW yang menurut santri senior, Gus Mus, bukan pencaci, bukan pencela, dan bukan orang kasar, bersabda: “Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (HR Ibnu Majah).

Sayangnya, jihad tersebut terlewatkan hanya karena satu orang, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama akibat pernyataan QS Al Maidah 51. Sehingga, calon petahana Gubernur DKI Jakarta itu “dikeroyok” ramai-ramai, dengan alasan jihad oleh sejumlah umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, Jawa Timur, Jawa Tengah, Padang, Sumatera Selatan, Lampung dan beberapa kota lain, Jumat 4 November 2016.

Berapa kilometer meski ditempuh untuk jihad tersebut? Berapa ongkos dihabiskan untuk mencapai Jakarta (demo, red) dari luar daerah? Tentu tidak sedikit, selain untuk transportasi, tentu juga untuk konsumsi selama di perjalanan. Tapi “semangat” barangkali tidak memperhitungkan sisi tersebut. Barangkali yang lain, saudara-saudara kita yang secara undang-undang tidak terlarang untuk menyatakan pendapat memang berekonomi mapan, sehingga biaya tidak menjadi soal. Jika demikian, tentunya hal sangat menggembirakan.

Di era Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan ada sekitar 4,1 juta anak Indonesia telantar. Korban perdagangan manusia 5.900 anak, bermasalah dengan hukum 3.600 anak, balita telantar 1,2 juta, lalu 34.000 anak jalanan yang dirawat di pondok pesantren, panti asuhan, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) dan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA). Semuanya memerlukan perhatian.

Saat ini pemerintah baru mampu memberikan bantuan langsung untuk menunjang pengasuhan anak yatim dan telantar sebesar Rp1 juta per tahun per anak. Jumlah penerima manfaat pada 25 Maret 2016 tercatat sekitar 5.000 anak. Capaian tersebut perlu diapresiasi kendati masih jauh dari data yang ada. Negara dengan beragam permasalahan ini tentunya akan kesulitan menyelesaikan permasalahan tersebut secara tunggal. Gotong royong sebagai budaya bangsa Indonesia salah satu solusi.

Selain itu, Al-Quran menyebut 23 kali mengenai “yatim” dan penggunaan kata-kata tersebut merujuk kepada kemiskinan dan kepapaan. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS An-Nisa: 36).

QS Al-Baqarah 2:177 juga menyatakan: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim”.

Rasulullah SAW yang tetap bersikap lembut terhadap terhadap pengingkar perjanjian Hudaibiyah, Abu Sufyan juga bersabda: “Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni.” (HR Tirmidzi).

Jika jihad bertujuan untuk masuk surga, jutaan jalan jihad, anak anak yatim itu, semestinya tidak terlewatkan oleh seorang Ahok yang sudah meminta maaf. Ada Rp2,5 miliar dalam hitungan untuk keperluan konsumsi sederhana selama sehari di Jakarta, Rp50 ribu kali 50 ribu pendemo. Belum lagi biaya transportasi, baik ngeteng (naik kendaraan umum) oleh ratusan pendemo atau sewa ratusan kendaran untuk mencapai Jakarta demi demontrasi yang mustahil tanpa makian dan meninggalkan sampah.

Barangkali egois dan menunjukkan mayoritas lebih maslahat dan kelihatan jihad ketimbang menghimpun dan menyalurkan dana dikeluarkan hari ini bagi anak-anak yatim: jalan jihad yang ini kali sepi tanpa kegaduhan hanya karena seorang non muslim bernama Ahok. Adakah ia gajah dan kita semut?

Penulis adalah Founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN). (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: