Miliki Santri dari Luar Negeri, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa

Minggu, 29 Januari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Mojokerto – Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saefuddin Chalim memiliki kebiasaan rutin, yakni sehabis memimpin sholat shubuh berjamaah di masjid pesantren lalu mengasuh pengajian kitab Mukhtarul Ahadits an-Nabawiyah yang disusun Sayyid Ahmad Al-Hasyimy. Yang unik, kitab ini dikaji dengan memakai tiga bahasa, yaitu Arab, Inggris, dan Indonesia.

Kenapa seperti itu? Karena yang menyimak tidak hanya santri Amanatul Ummah yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indoensia, tetapi juga santri dari luar negeri semacam Kazakhstan, China, Malaysia, dan Thailand.

Para santri dari mancanegara ini adalah santri yang kuliah di kampus Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto. Mereka sekaligus menjadi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari kampus yang masih berusia kurang dari dua tahun ini.

Pada Sabtu (28/1) pagi, misalnya, Kiai Asep membacakan hadits ke-503 di halaman 64 dalam kitab tersebut. Hadits ini mengulas tentang tiga orang yang di hari kiamat tidak dipandang dan tidak disucikan oleh Allah. Hadits ini semula diartikan dalam bahasa Indoensia, kemudian diartikan dan dijelaskan maksudnya lagi dalam bahasa Inggris, dan bahasa Arab.

Di antara golong yang merugi tersebut adalah seseorang yang memiliki kelebihan air namun tak memberikannya kepada ibnu sabil (orang dalam perjalanan), dan orang yang berbaiat atau melakukan sumpah setia kepada pemimpin hanya untuk kepentingan duniawi.

“Sekarang ini sudah terjadi,” kata kiai yang kini menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) ini di hadapan para santri yang memadati masjid pesantren.

Abdur Rijal, salah seorang mahasiswa di kampus setempat mengaku senang dengan cara yang digunakan Kiai Asep dalam forum pengajian. “Ini pengajian yang luar biasa karena sekaligus dengan pengajian ini saya juga belajar tiga bahasa,” ujar mahasiswa asal Papua yang kerap dimintai tampil dalam tilawatil qur’an ini. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: