Monoteisme di Jalan Islam Nusantara

Bukti-Kitab-tafsir-huruf-Arab-Gundul-berisi-cerita-wayang-sebagai-media-dakwah-Photo-Allegraph-640x420Oleh: Faiz Manshur

ISLAMNUSANTARA.COM – “Tauhidnya Nabi Ibrahim adalah untuk menjawab kebutuhan zaman,” kata KH Said Aqil Siroj. Menurut Kang Said, kepemilikan ilmu itu tidak secara otomatis berguna sebagai lokomotif perubahan masyarakat kalau tidak punya visi. Itulah mengapa ketika merumuskan gagasan Islam Nusantara, Kang Said menekankan pentingnya mengubah gerakan Islam memakai pendekatan aspirasi dan diubah menjadi gerakan partisipasi.

“Kita bertanya, untuk dikemanakan ilmu itu? Ini adalah renungan. Setiap ilmu harus ada visi su paya berguna. Ilmu harus digunakan untuk me ma hami dan mengubah tatanan sebagaimana pa ra nabi melakukan. Itulah juga yang diajarkan oleh pa ra sufi. Orang sufi adalah mereka yang me nge nal zamannya. Seorang sufi tidak punya warna dan ter gantung tempat yang menampungnya,” terangnya.

Di ruang keindonesiaan modern

Dari pilar pemahaman ilmu dan amal itu, Kang Said menjelaskan pentingnya aplikasi kesadaran praktis tauhid dalam bingkai yang relevan. Ilmu pengetahuan harus inovatif dan seorang muslim berilmu harus senantiasa menawarkan gagasan baru.

Itulah mengapa penerapan Tauhid juga harus masuk ke ruang kreativitas kemanusiaan dan kemodernan. Tauhid sebagai pilar keimanan pada ruang sosial kemasyarakatan harus mengacu pada prinsip universal. Islam harus mampu berbuat untuk kebenaran, keadilan, harmoni, kedamaian, merawat lingkungan hidup, dan seterusnya.

“Nah, Islam-Nusantara itu bagian dari aplikasi Tauhid. Perangkat pengetahuannya dibangun dari keilmuan universal yang terumus dalam Maqhasid Syariah yang melindungi keturunan/keluarga (hifzul-nasl), melindungi dan mengembangkan pemikiran (Hifzul-aqli’), menghormati hak asasi manusia (hifzul-ird), melindungi/menghargai agama kita maupun agama orang lain (hifzh ad-din), melindungi hak ekonomi (hifz al-mal),” terangnya.

Dalam sebuah usaha pengembangan baru, Islam Nusantara menurut Kang Said adalah Islam yang mensinergikan nilai-nilai universal yang bersifat ilahiah dengan kultur budaya tradisi yang bersifat kreativitas manusia atau insaniah. Prinsip ini menurutnya sejalan dengan amalamal kenabian di masa lalu yang selalu memperbarui cara pandang tetapi sekaligus bersinergi dengan kebudayaan masyarakat setempat dengan satu tujuan membentuk peradaban.

Sumber: Republika edisi cetak Kamis, 07 Januari 2016

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: