Monoteisme Universal Ibrahim Hingga Teologi Islam-Nusantara

Bukti-Kitab-tafsir-huruf-Arab-Gundul-berisi-cerita-wayang-sebagai-media-dakwah-Photo-Allegraph-640x420

ilustrasi

Oleh: Faiz Manshur

ISLAMNUSANTARA.COM – Belakangan ini, ada orang/ kelompok yang gemar mengatakan orang lain ingkar Tuhan yang Esa (musyrik), ada pula yang mengatakan orang lain murtad (keluar dari agama). Sebenarnya motif apa di balik munculnya klaim ketuhanan seperti itu? Apa tujuan mereka “mengusir” orang lain dari “rumah keagamaannya” yang diyakini?

Kiprah manusia-manusia unggul studi sejarah agaknya perlu ditinjau kembali agar kita bisa melihat akar substansialnya dan tidak “ter sesat” mengamalkan gagasan ketuhanan yang kita miliki.

Sisik-melik sejarah membuktikan hubungan manusia dengan Tuhan itu sendiri sangat abadi. Tak ada satu pun kehidupan masyarakat tanpa keterlibatan dengan ide-ide ketuhanan entah apapun jenis ketuhanan itu. Paradigma biologievolusioner juga menegaskan bahwa salahsatu watak khas manusia (karena akalbudinya) ada lah keterikatannya dengan ide ketuhanan dan yang paling fenomenal temuan ilmiahnya ada lah akalbudi manusia lebih nyaman dengan gagasan monoteisme.

Pada sisi lain, politik juga menjadi bagian yang melekat pada kehidupan masyarakat manusia. Sehingga wajar ide-ide ketuhanan juga melekat dalam gerak hidup pelaku politik, dan memang pada akhirnya harus disimpulkan klaim-klaim ketuhanan sebenarnya bukan menyangkut soal teologis semata.

Kiprah dakwah para nabi lekat dengan perseteruan politik. Nabi Muhammad berhadapan secara politik dengan “kapitalis-rente” di Makkah. Nabi Musa berhadapan dengan plu tokrasi dan plutonominya Fir’aun, Raja Mesir. Jauh sebelumnya, Nabi Ibrahim berha dapan dengan kekuasaan Raja Namrud yang salahsatu ekonomi-politiknya bergantung pada laba dari perdagangan berhala.

Masalahnya, ada politik yang bersifat memberi maslahat dengan keutamaan moral (virtueethics) untuk agenda pembebasan atas keti dakadilan sosial, ada pula politik yang tujuan nya sempit sekadar melanggengkan status-quo atau kepentingan merebut panggung politik yang ujung-ujungnya juga laba ekonomis.

Monoteisme Abraham

Ibrahim atau Abraham. Pada kitab-kitab sebelum Al-Quran, terutama Taurat memberi kan penjelasan dari sisi bahasa bahwa kata, Ab, Rab, dan Ham, secara literal berarti, ayah, banyak, dan mayoritas, atau ayah bagi seba gian besar umat manusia. Abram juga sering digu nakan masyarakat Arab kuno sebagai julukan Ayah yang luhur. Dan kini kosa-kata Arab dengan menyebut Ibrahim maknanya bisa juga diartikan “Bapak yang Penyayang”.

Said Aqil Siroj meringkas pengertian Abraham ini sebagai “Bapaknya umat” pemeluk agama samawi, yakni Yahudi, Nasrani dan Is lam. Lebih lanjut, Ketua Umum PBNU itu men jelaskan kepada penulis (19/12/2015) bahwa Ibrahim patut disebut sebagai bapak mono teisme karena monoteisme yang ada sebelum atau di luar garis agama samawi berbeda de ngan monoteisme ala Ibrahim.

“Di Sunda ada ide Yang Tunggal, di Jawa ada ide Sang Yang Widi tan kinoyo koyo opo.” Itu mo noteisme. Tapi bukan monoteisme kena bian,” kata Kiai yang akrab dipanggil Kang Said ini.

Menurut Kang Said, perbedaan monoteisme samawi dan non-samawi karena di dalam ajaran Ib rahim, yang kemudian berlanjut melalui nabinabi, membawa risalah (pesan-pesan) ketu hanan dengan misi universal. Artinya bukan semata urusan ritual, melainkan juga untuk menjawab persoalan kehidupan umat manusia. “Asal mula agama itu nilai-nilai universal yang hikmahnya bisa kita tarik sebagai imple mentasi atas mandat dari Tuhan, terutama ke adilan dan kebaikan dari akar semangat ahsan,”

Argumentasi Said Aqil didasarkan pada sejarah di mana Nabi Ibrahim hidup dalam masyarakat yang sebelumnya memiliki nalar yang rusak oleh konsepsi ketuhanan model persekutuan yang dikembangkan leluhur masyarakat dan dipertahankan Raja Namrud.

“Kisah Namrud dan Nabi Ibrahim membe rikan pelajaran pencerahan bagi umat manusia. Patung batu yang dijadikan sarana sesembahan itu tak bisa menjawab persoalan hidup di masyarakat. Konsepsinya tidak masuk akal,” terangnya.

Pembaharuan kreatif

Hidup di Ur (Mesopotania: sekarang Irak), kehidupan keluarga Ibrahim berlatar dari ma syarakat politeisme, penyembah beragam jenis Tuhan dan keluarganya adalah bagian dari pro dusen patung yang sering digunakan sebagai ber hala. Perlu dijelaskan di sini, kemusyrikan bukan terletak pada patungnya, melainkan pada “penyembahan terhadap patung”. Rekam jejak Ibrahim sepanjang hidupnya penuh dengan pergulatan filosofis. Pergulatan panjangnya mencari kebenaran Tuhan dila koninya sejak kecil.

Imajinasinya seringkali berbuah perta nyaanpertanyaan kritis tentang “sang pencipta” yang “diciptakan Raja Namrud. Ibrahim pernah ber tanya, “lebih elok mana wajah Ayah dengan wa jah Namrud?” Dijawab oleh Ibundanya “ten tu lebih elok wajah Ayahmu.” Kemudian Ibra him berkata, “mustahil Raja kalah elok diban ding Ayah jika Raja yang menciptakan Ayahku.” Ucapan Ibrahim ini membuat resah sang Ibu dan menampar muka sang anak karena khawatir didengar oleh orang lain dan sampai ke istana.

Imajinasi yang lain, dalam sebuah perja lan an hijrahnya ia pernah menerawang ke langit, dan merasakan dirinya mengalami mi’raj pikir an (tidak fisiknya) tentang hakikat alam semes ta, hukum-hukum sebab akibat dan penciptaan (kreasionis). Ini merupakan bukti penggalian kebenaran melalui kesadaran yang membu tuhkan kesabaran proses mendalam yang me libatkan akal-budinya. Ibrahim benar-benar se rius, mendalam, dan kritis setiap waktu mem perhatikan situasi kehidupan manusia dan alam. Nalar kreatif yang dimiliki sejak dirinya kecil membawanya pada proses kreatif untuk me mahami keyakinan-keyakinan tentang Tuhan yang irasional dan mengubahnya menjadi gagas an tentang ketuhanan yang lebih masuk akal.

Sikap kritisnya membuat dirinya terdorong untuk mendakwahkan kebenarannya melalui proses dialog. Pertama kepada masyarakat, sam pai akhirnya masuk pada istana berurusan langsung dengan sang Raja. “Dimulai dari proses dialogis dari dirinya, kepada keluarga nya, kemudian melebar ke masyarakat mem be rikan hikmah kepada kita tentang proses ke ilmuan dan penyebaran gagasan,” kata kang Said.

Panjang perjuangan di tanah kelahirannya yang tak menggembirakan akhirnya mendorong Ibrahim bersama istrinya memilih hijrah me ninggalkan Ur berkelana di berbagai tempat, di antaranya Kanaan (Palestina), Mesir, dan Mak kah. Rentang perjalanan “dakwahnya” kemu di an menginspirasi sebuah ide untuk gagasan ke tuhanannya membangun sebuah sarana peribadatan monoteis (Tauhid). Bersama anak nya, Ismail, berdua menjadi pemimpin masya rakat untuk membuat rumah Tuhan (baitul lah/Ka’bah). Bapak dan anak ini sangat kompak. Ibrahim menjadi tukang, menentukan tatanan batu, mengaduk bahan campuran dan memi kirkan langkah-langkah pembangunan.

Semen tara Ismail setia menyediakan batu, air, peralatan-peralatan kerja dan seterusnya. Satu hal yang menarik dari teks alquran te rungkap sebuah harapan dari Nabi Ibrahim dan Ismail setelah keduanya berhasil mem ba ngun ka’bah lalu berdoa penuh harap, agar “amal nya diterima”, agar “mereka berdua hing ga anak cu cu umat manusia tunduk patuh pada Allah”, “me mohon cara ibadah yang tepat,” dan “memo hon diterima taubatnya.” (QS. Al-Baqarah: 127-128).

Menarik jika diperhatikan di sini adalah perihal kata amal. Amal yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan nabi Ismail adalah sebuah langkah baru yang dibangun dari kreativitas ketauhidan atas renungan sebelumnya. Permin taan taubatnya bukan juga urusan personal, melainkan menyangkut harapan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa leluhurnya yang belum hanif (lurus) berada di jalan Tuhan.

Renungan tentang penciptaan; tentang “pencipta dan yang diciptakan”, tentang “yang tak masuk akal dan yang masuk akal,” mem bentuk pengetahuan dan tidak berhenti sebagai ilmu, melainkan sebagai amal, tindakan yang mengubah keadaan masyarakat. Kedua Nabi itu berhasil mewujudkan dalam bentuk praksis tindakan nyata untuk menyembah Yang Esa, meninggalkan cara pandang dan perilaku masyarakat sebelumnya.

Sumber: Republika edisi cetak Kamis, 07 Januari 2016

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: